Kebudayaan Sunda dan Pers

KEBUDAYAAN SUNDA DAN PERS
PENULIS : SARNUPI NK17
(Pengamat Seni Ringkang Nonoman)

Produk kebudayaan telah bertebar di seantero bumi Indonesia, merefleksikan sebuah peradaban manusia yang sangat tak ternilai harganya. Kebudayaan merupakan sebuah proses panjang yang mengalami berbagai tantangan perubahan, bahkan bisa jadi melelahkan dan kontroversial bagi masyarakat pendukungnya, menjadikan dia ada sebagai identitas bersama atau ‘kebersaamaan’. Dalam menciptakan semangat dalam lingkup perhatian terhadap kebudayaan Sunda ini, adalah peran pers yang mampu secara signifikan mengangkan kebudayaan Sunda, baik Sunda sebagai budaya, identitas bersama dan Sunda dalam ranah politik. Tentunya melewati berbagai bentuk dan varian dalam skema ‘perjuangan’.

medan-prijaji

Tribuana Said menjelaskan, dalam sejarah mencapai Indonesia merdeka, wartawan Indonesia tercatat sebagai patriot bangsa  bersama para perintis pergerakan di berbagai pelosok tanah air yang berjuang untuk menghapus penjajahan. Di masa pergerakan, wartawan bahkan  menyandang dua peran sekaligus,  sebagai aktivis pers yang melaksanakan tugas-tugas pemberitaan dan penerangan guna membangkitkan kesadaran nasional dan sebagai aktivis politik yang melibatkan diri secara langsung dalam kegiatan membangun perlawanan rakyat terhadap penjajahan, Kedua peran tersebut mempunyai tujuan tunggal, yaitu mewujudkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, wartawan Indonesia masih melakukan peran ganda sebagai aktivis pers dan aktivis politik. Dalam Indonesia merdeka, kedudukan dan peranan wartawan khususnya, pers pada umumnya, mempunyai arti strategik sendiri dalam upaya berlanjut untuk mewujudkan cita-cita  kemerdekaan.

Aspirasi perjuangan wartawan dan pers Indonesia memperoleh wadah dan wahana yang berlingkup nasional pada tanggal 9 Februari 1946 dengan terbentuknya organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Kelahiran PWI di tengah kancah perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan, melambangkan kebersamaan dan kesatuan wartawan Indonesia dalam tekad dan semangat patriotiknya untuk membela kedaulatan, kehormatan serta integritas bangsa dan negara. Bahkan dengan kelahiran PWI, wartawan Indonesia menjadi semakin teguh dalam menampilkan dirinya sebagai ujung tombak perjuangan nasional menentang kembalinya kolonialisme dan dalam menggagalkan negara-negara boneka yang hendak meruntuhkan Republik Indonesia.

Taufik Rahzen mengatakan tesis bangunan kebangsaan kita juga sebenarnya didirikan dari tradisi pers. Ini bisa kita lihat dari fakta sejarah bahwa nyaris seluruh tokoh kunci pergerakan kebangsaan dan nasionalisme adalah tokoh pers. Dan posisi mereka dalam struktur pers umumnya pemimpin redaksi (hoofdredakteur) atau paling rendah adalah redaktur. HOS Tjokroaminoto yang kita kenal sebagai salah satu ‘guru pergerakan’ adalah pemimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. ‘Tiga Serangkai” Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menukangi De Express. Semaoen di usianya 18 tahun sudah memimpin Sinar Djawa yang kemudian berubah menjadi Sinar Hindia. Maridjan Kartosoewiryo menjadi reporter dan redaktur iklan di Fadjar Asia. Sebelum berkonsentrasi mengurus dasar pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah pemimpin redaksi Persatoean Hindia dan bahu membahu bersuara dalam majalan Pemimpin. Demikian juga dengan Soekarno menjadi pemimpin redaksi Persatoean Indonesia dan Pikiran Ra’jat. Setelah pulang dari Belanda dan menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Merdeka dalam Perhimpunan Indonesia (PI), Mohammad Hatta dan dibantu Sjahrir menahkodai Daulat Ra’jat. Bahkan Amir Sjarifuddin dalam Partindo menjadi pemimpin redaksi Banteng, serta masih banyak lagi.

Meskipun tingkat pendidikan mayoritas rakyat pada masa itu masih sangat rendah, para tokoh pegerakan itu sadar bahwa lembar pers bisa dijadikan medium penyampaian ide-ide nasionalisme selain mimbar-mimbar pertemuan yang sifatnya formal. Dengan pers pula pesan dan gagasan memiliki tingkat aksesibilitas dengan cakupan luas, terutama di kancah internasional. Selain itu, bahasa Indonesia memungkinkan dibentuk dan diberi rumah baru dalam kerangka ke-Indonesiaan.
Peran aktif “urang Sunda” dalam kancah media telah terbukti turut serta mewarnai perjalanan sejarah Pers Indonesia. Saat terbentuknya Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) pada 8 Juni 1946, Mohammad Kurdie dari Suara Merdeka Tasikmalaya telah tercatat sebagai bagian dari komisi SPS.

MEDIA SEBAGAI SARANA KOMUNIKASI DAN PERGERAKAN

Di wilayah Kebudayaan Sunda, jika kita telisik berdasarkan sejarah persnya sebenarnya untuk meretas jalan membangun kebudayaan Sunda juga telah dimulai dengan adanya pers yang terlahir di wilayah ini ataupun orang-orang Sunda yang berkecimpung dalam dunia pers, hingga mampu merambah dan berkibar pada skala nasional.

Lebih lanjut Tribuana mengatakan, surat kabar atau majalah adalah sarana komunikasi yang utama untuk memantapkan kebangkitan nasional dalam rangka mencapai cita-cita perjuangan. Karena itu, dalam jangka waktu yang relatif pendek, di awal tahun 1920, telah tercatat sebanyak 400 penerbitan dalam berbagai corak di banyak kota  di seluruh Indonesia. Pendiri Sarekat Dagang Islamijah, Tirtohadisurjo, menjadi redaktur dan penerbit Medan Prijaji di Bandung. Selain itu di Bandung juga terbit Sora Mardika (1920), Sipatahoenan (1923), dan Soeara Ra’jat Mardika (1931) yang menggaungkang nilai-nilai perjuangan dan identitas budaya. Begitupun pada masa pergerakan, telah mampu membuktikan eksistensi media dari wilayah ini yang secara factual membuktikan bahwa salah satu penerbitan yang terkenal di kalangan pejuang-pejuang politik nasional adalah Fikiran Rakj’at yang terbit di Bandung. Semangat mendirikan media ini dapat dilihat cukup besar pada masyarakat Sunda, terbukti pada masa kemerdekaan, di Bandung terbit surat kabar Tjahaja (yang kemudian berganti nama jadi Soeara Merdeka), Gelora Rakjat, Neratja, Perdjoangan, Sinar Priangan, Perdjoangan Rakjat, Toedjoean  Rakjat dan Patjoel
Walaupun pada kenyataannya hingga kini, dari sekian banyak media yang pernah lahir di wilayah kebudayaan Sunda, tidak banyak yang dapat bertahan, namun demikian dari sisi budaya, kehadiran mereka bukan tidak punya arti. Meminjam istilah Usman Pelly ia berjasa dalam mengemban misi budaya.

PERAN MEDIA UNTUK KEBUDAYAAN SUNDA
Pencetus gagasan Boedi Oetomo adalah dr. Wahidin Sudirohusodo, redaktur majalah berkala Retno Dhoemilah sejak tahun 1901, sementara pendirinya adalah dr. Soetomo. Tokoh-tokoh Boedi Oetomo lainnya adalah dr. Tjipto Mangunkusumo, dr. Radjiman Wediodiningrat dan dr. Danudirdja Setiabudhi (Douwes Dekker). Pada awal kelahirannya Boedi Oetomo secara formal memusatkan diri pada masalah kebudayaan dan pendidikan.

Dewasa ini peran media dalam mengangkat jati diri kebudayaan Sunda tetap berperan aktif dalam merealisasikan misi budayanya. Setidaknya sampai hari ini, meskipun terjadi euphoria kebebasan pers, dan banyaknya muncul pers di wilayah kebudayaan Jawa Barat dengan berbagai format, setidaknya misi budayanya masih sangat ‘kental’, meskipun tidak dapat dipungkiri terkadang membonceng berbagai macam kepentingan-kepentingan tertentu dari orang-orang yang terlibat di dalamnya, tapi setidaknya dewasa ini ia tidak hanya berperan sebagai media perjuangan atau kepentingan saja. Terbukti dari tahun 20-an hingga kini, budaya Sunda selalu saja hadir disana. Telah terlalu banyak peran media mampu menjadi sahabat bagaimana identitas dan jati diri kebudayaan Sunda tersosialisasikan di tengah-tengah pendukung kebudayaannya.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, selain media cetak, dalam dunia maya juga muncul situs-situs yang peduli terhadap kebudayaan Sunda. Milis group yang mendisukusikan berbagai wacana tentang Kebudayaan Sunda, serta bloger yang mengetengahkan berbagai hal tentang Sunda, menunjukkan betapa peran media sangat signifikan memberikan ruang hidup atau bahkan memberi nafas baru (revitalisasi) budaya Sunda yang tidak hanya bagi orang Sunda, tetapi lebih mengglobal untuk diapresiasi banyak orang dan kalangan.

Sebuah harapan tersirat dalam analisa sederhana, semoga media yang menjadi tempat perenungan dan berkreasi dalam lingkup materi kebudayaan sunda dewasa ini, mampu menjembatani antara media dan pembaca dengan memberikan materi sajian berita (khususnya yang berkaitan dengan kebudayaan Sunda), secara proporsional, profesional dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga kedepan, generasi penerus penyinambung kebudayaan Sunda akan mendapat sebuah pijakan informasi yang bijak dan seimbang untuk meneruskan langkah memperjuangkan identitas kebudayaannya. Salam Budaya…

Berita Terkait: