Mang Parman Sang Maestro Toleat : Pencarian Nilai Estetis Melalui Siklus Perjalanan “Dari Sawah Kembali Ke Sawah”

Adalah Maman Suparman, sosok lelaki yang lahir pada tahun 1938, di Kampung Karang Asem, Desa Sukamandi Jaya, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, terlahir dari seorang ibu bernama Ibu Ona yang berprofesi sebagai Ronggeng (penari/penyanyi) dan seorang ayah bernama Bapak Baisan yang berprofesi sebagai seniman, sosok yang oleh keluarganya dijuluki si peot karena perawakannya yang kecil, mengenyam pendidikan yang menurut beliau “cukup asal bisa tulis baca” alias lulusan Sekolah Rakyat (SR), yang pada awal eksistensi berkeseniannya cukup merasa puas dengan imbalan “bawon dua pocong” (dua ikatan padi hasil panen), sosok yang juga dipercaya masyarakat sekitar, mampu mendatangkan hasil panen yang melimpah manakala beliau memainkan alat musiknya pada saat panen tiba, Sosok yang berpenampilan sederhana ini, tiba-tiba menjelma sebagai sosok yang menebar inspirasi bagi banyak kalangan terhadap konsistensi dan eksistensiya dalam berkesenian.

Adalah Mang Parman, panggilan yang kini melekat menjadi nama panggilan popular dibandingkan dengan nama aslinya, adalah anak gembala yang menggantungkan hidupnya dari aktifitas berkesenian dan menggembala. Hampir sebagian besar rentang perjalanan dan aktifitas hidupnya, tidak lepas dari dunia pesawahan. Mang Parman kecil merefleksikan pesawahan sebagai area perenungan, permainan dan berkreasi. Keakraban Mang Parman kecil bersahabat dengan pesawahan, mampu membuktikan dan mendorong daya kreatifitas dan inovasinya untuk berkreasi. Mang Parman kecil telah banyak menangkap dan merasakan makna kebersamaan serta kebahagiaan, bersahabat dengan pesawahan.

Adalah Toleat, alat musik hasil pengendapan serta pengerucutan pengalaman dan pengetahuan Mang Parman kecil sampai dengan dewasa selama aktifitasnya di area pesawahan. Berawal dari sebuah rasa kegelisahan dan kehilangan yang dirasakan Mang Parman dewasa akan fenomena dan aktifitas “urang lembur” pasca panen di area pesawahan yang semakin berkurang pada era menjelang tahun 1980-an, dimana sudah jarang ditemukan anak-anak seusia Mang Parman kecil menjadikan area pesawahan pasca panen sebagai arena permainan dan berkreasi, seperti bermain peperangan, ngureuk (mencari belut) sampai dengan membuat alat musik ole-olean (empet-empetan dari batang jerami) yang secara organologis termasuk kedalam klasifikasi alat musik aerophones single reed. Kerinduan akan fenomena masa kecil itulah yang mendorong Mang Parman dewasa untuk “menepis sepi” melalui sebuah proses pencarian mewujudkan inspirasi bunyi ole-olean (empet-empetan) kedalam bentuk alat musik yang lain dengan bahan baku yang relatif dapat bertahan lama, karena bahan ole-olean yang terbuat dari batang jerami dianggap tidak mampu bertahan lama.

mang parman toleat subang

Hingga pada suatu waktu, proses pencarian dan perwujudan bahan baku alat musik yang terinspirasi dari bunyi ole-olean tersebut, mampu ditemukan dan diwujudkan oleh Mang Parman melalui penggunaan bambu tamiang pugur yang diambil dari “Pupuhunan” (Rumah Sri Pohaci) di area pesawahan. Maka terwujudlah ole-olean tamiang yang disebut dengan istilah Toleat (aerophones single reed) yang mengandung pengertian Norotot (mempunyai variasi nada) dan Ole-olean (empet-empetan) yang secara sederhana diartikan alat musik ole-olean yang mempunyai variasi nada. Variasi nada yang dimaksud adalah bahwa bunyi ole-olean yang sekarang diwujudkan pada bahan baku tamiang, pada toleat mempunyai ragam nada yang diambil Mang Parman dari keahliannya bermain tarompet, yang kemudian beliau kolaborasikan tangga nada yang ada pada tarompet kepada alat musik toleat, sehingga lubang-lubang nada pada toleat berbahan baku tamiang, sama persis dengan lubang-lubang nada pada tarompet, yaitu delapan lubang nada di bagian depan dan satu lubang nada di bagian belakang sebagai pengatur nada dan tangga nada.

Adalah era tahun 1980-an, Terwujudlah impian untuk mengembalikan nilai-nilai kebahagiaan Mang Parman dewasa, terhadap pengalaman dan rasa rindunya mengenang akan kenangan aktifitas Mang Parman kecil melalui sebuah kreasi alat musiknya bernama Toleat. Kini, Alat musik toleat hasil kreasinya, selalu setia menemani aktifitas keseharianya sebagai penggembala ternak di area pesawahan di daerahnya. Walaupun sudah jarang fenomena aktifitas anak-anak seusianya dulu di area pesawahan, namun Mang Parman mampu mengembalikan suasana tersebut dengan cara bermain alat musik toleat sebagai alat musik kalangenan (menghibur diri sendiri).

Adalah Bapak Odo Wikanda, penilik Kebudayaan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang yang bertugas di daerah tersebut pada era tahun 1988-an, yang menemukan “Mutiara Seni Pesawahan” tersebut. Berkaitan dengan tugas pengembangan dan pembinaan dari dinasnya, Bapak Odo Wikanda mencoba mengangkat kesenian toleat dari kesenian kalangenan kepada kesenian pintonan (pertunjukan). Diawali dengan menggabungkan alat musik toleat dengan alat musik kacapi (chordophones) kemudian dipertunjukan pada acara minggonan (pertemuan rutin setiap minggu) di Kecamatan Pamanukan. Momentum inilah yang membawa sedikit demi sedikit nama Mang Parman muncul ke permukaan “jagad Seni”. Momentum ini pula yang mengispirasi para seniman lainnya untuk ikut terlibat dalam mengkolaborasikan alat musik toleat dengan perangkat alat-alat musik lainnya.

Adalah era tahun 1990-an, merupakan era tahun yang membuat Mang Parman kembali menemukan kebahagiaan yang tak ternilai, dimana hasil kreasinya berupa alat musik toleat yang dia buat dari hasil inspirasi masa kecilnya di pesawahan pasca panen dengan menggunakan bahan baku yang juga didapatnya di pesawahan pada pasca panen, kini toleat dan alat musik pengiring lainnya, dipercaya oleh pemerintah setempat untuk menjadi bagian dari acara penyambutan orang nomor satu di Indonesia pada saat itu, Presiden Republik Indonesia Bapak Soeharto pada acara Panen Raya. Hal ini sangatlah memberikan kesan mendalam bagi Mang Parman, pertama, alat musik toleat hasil kreasinya terwujud karena inspirasi dari sebuah kegiatan panen, yang kegiatan ini berhubungan dengan alasan kedua yaitu, hasil dari kreasinya ternyata dapat menjadi media pertemuannya dengan Presiden Republik Indonesia, justru pada momentum acara panen juga, yang semua terangkum pada kegiatan di area Pesawahan.

toleat subang tahun 2012

Toleat dalam sebuah pertunjukkan seni tahun 2012

Sebuah perputaran siklus yang impresif terjadi dalam rentang perjalanan hadirnya alat musik toleat yang seringkali luput dari perhatian para pemerhati seni. Bahkan tidak sedikit pemerhati seni salah kaprah dalam menerjemahkan pengertian dan pemahaman berkaitan dengan seni tradisi, yang secara teoritis keberadaan sebuah karya seni dinamakan termasuk dalam katagori seni tradisi, setidaknya harus melewati minimal 3 generasi dan didukung oleh masyarakat pendukung kebudayaannya. Sejatinya, karya seni lahir dari sebuah inspirasi kreatif yang kemudian diekspresikan dalam sebuah hasil karya seni yang membawa pesan tersendiri bagi para apresiatornya. Sebuah rentang cerita panjang pencarian dan penemuan nilai-nilai kebahagiaan Mang Parman Sang Maestro Toleat, akhirnya bermuara pada satu tempat, “Dari sawah kembali ke sawah”.

Adalah era tahun 1997-an, Mang Parman Sang Maestro Toleat, meninggalkan daerah Kabupaten Subang yang telah membesarkan namanya, tanpa alasan dan keterangan yang jelas mengenai sebab kepindahannya. Sang Maestro telah meninggalkan sebuah pesan siklus seni kehidupan melalui kreasi alat musiknya, bahwa nilai-nilai sebuah kebahagiaan hidup, bukanlah semata-mata diukur dari sesuatu yang dianggap modern dan mewah, namun juga mampu lahir dari sebuah nilai-nilai kesederhanaan dan kebersamaan. Semangat kreatif dan inovatif, tidak semata lahir dari ketersediaan dan kelengkapan, namun juga mampu lahir dari ketiadaan.

Selamat jalan Sang Maestro…. dimanapun engkau berada, pesanmu telah memberikan dampak inspiratif bagi kelangsungan perjalanan budaya kami….

(Oleh: Nandang Kusnandar, S.Sn (Ethnomusikolog & Pengamat Seni Sanggar Seni Ringkang Nonoman)