Sungai Cilamaya Tercemar, Warga Menderita

KOTASUBANG.com, Blanakan – Warga dari lima desa di Subang mengeluhkan kondisi air Sungai Cilamaya yang hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat.

Warga yakin sungai itu tercemar limbah berbahaya yang berasal dari sejumlah pabrik di kawasan Purwakarta, Subang dan Karawang.

Selain mengganggu kesehatan warga, pencemaran itu juga merusak ratusan hektare tambak ikan dan udang milik petani di kawasan Blanakan.

Salah seorang warga, Kadapi mengaku, air sungai Cilamaya warnanya hitam pekat seperti oli bekas dan berbau menyengat. Dia mengaku banyak warga yang menderita sesak napas gara-gara menghirup bau air sungai.

Menurutnya, air yang tercemar itu juga merusak kehidupan biota sungai, seperti ikan, belut dan hewan-hewan yang biasa dikonsumsi warga di sungai tersebut.

“Di sungai ini praktis nggak ada kehidupan lagi, ikan-ikan mati. Bahkan, hewan yang hidup di darat pun, seperti ternak domba mati gara-gara minum air sungai ini,” tuturnya.

Kepala Desa Cilamaya Girang, Ujang Masturo mengatakan, setiap musim kemarau, pencemaran sungai terlihat sangat kentara. Namun di musim hujan, kondisi itu tak terlihat karena volume air sedang membesar.

Ada lima desa di wilayah itu yang terdampak pencemaran, yakni Cilamaya Girang dan Cilamaya Hilir di Kecamatan Blanakan, Sukahaji dan Pinangsari di Kecamatan Ciasem serta Tanjungrasa Kecamatan Patokbeusi.

Ilustrasi pencemaran sungai

Ilustrasi pencemaran sungai

“Sudah rahasia umum, pencemaran ini berasal dari limbah yang dibuang sembarangan oleh pabrik-pabrik yang ada di wilayah Purwasuka,” ungkap Ujang.

Dia menyayangkan, meski pencemaran sudah berlangsung selama 10 tahun, namun belum ada tindakan konkret dan upaya tegas dari pemerintah. Akibatnya, pencemaran terus berulang dan rutin terjadi setiap tahun sehingga kian merusak kehidupan warga terdampak.

“Padahal, kami sudah berkali-kali mengirimkan surat kepada Pemkab Subang, Pemprov Jabar hingga pusat untuk mengatasi pencemaran ini. Tapi hasilnya nihil, nggak ada langkah konkret,” keluhnya.

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Subang, Nano Sumpena mengakui, pencemaran yang menimpa Sungai Cilamaya seolah sudah menjadi ‘penyakit tahunan’ setiap memasuki musim kemarau.

Untuk mengatasi ini, pihaknya sudah berkali-kali berkoordinasi dengan Pemprov Jabar dengan melibatkan dua pemkab tetangga, yakni Pemkab Karawang dan Purwakarta.

“Penanganannya harus libatkan Purwakarta dan Karawang, karena sungai ini melintasi tiga daerah. Apalagi pabrik-pabrik yang diduga berkontribusi pada pencemaran juga tersebar di tiga kabupaten tersebut. Jadi, penanganannya harus kerja sama,” ujarnya. (Inilah)