Evi Natalia : Ingin Bangun Citra Positif Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Sosok wanita yang energik itu menyambut kotasubang.com dengan ramah di hotel mewah miliknya, yang berada tepat di jantung kota Subang. Hotel Dafam Betha yang merupakan buah tangan dinginnya, menjadi wujud kesuksesannya dalam berbisnis sekaligus pengejawantahan atas kecintaannya kepada kota kelahiran.

Dialah Evi Natalia, seorang wanita asal Subang yang telah sukses membangun kerajaan bisnisnya.  Dengan senang hati wanita yang akrab dipanggil Lia ini berbagi cerita mengenai awal dirinya terjun ke dunia bisnis hingga bisa meraih kesuksesan seperti saat ini.

Motivasi

Ia bercerita bahwa dahulu ia berasal dari keluarga yang tergolong biasa saja. Orang tuanya memiliki sebuah toko dan keluarga mereka tinggal di atas toko tersebut. Dari toko itulah Lia kecil mulai belajar ilmu dagang dari orang tuanya.

Kemudian pada tahun 1988, menginjak SMP ia pindah sekolah ke Bandung. Di sini ia bergaul dengan teman-temannya yang berasal dari golongan menengah ke atas.

“Hal tersebut kemudian membuat saya termotivasi, saya harus menjadi orang sukses dan serba ada kalau selesai sekolah nanti”, ujarnya.

lobby dafam beth hotel

Lobby Hotel Dafam Betha, Subang

Awal berbisnis

Tahun 1996 adalah awal ia mulai terjun ke dunia bisnis. Saat itu ia mulai usaha salon dan bidang properti bersama suaminya dengan menjadi developer perumahan untuk PNS di daerah Garut.

“Namun kemudian karena ada masalah, saat itu keadaan mengharuskan untuk saya seorang diri meneruskan bisnis tersebut,” Lia bercerita.

“Dari situ saya belajar mengenai properti secara otodidak. Saya pikir dengan kemauan, niat keras, fokus, ulet dan mau belajar pasti kita bisa,” tegasnya.

Tahun 1999 ia memulai bisnisnya di kota kelahirannya, Subang. Hobby olahraga kebugaran dan belum adanya tempat kebugaran yang mumpuni di Subang membuatnya mengambil peluang ini dengan membuka bisnis tempat fitness bernama LEXY Sport di jalan Panglejar, Subang.

Selang setahun kemudian ia menjajal peruntungan di bisnis otomotif. Tahun 2000 ia membuka show room motor bekas di Subang, yang kemudian diikuti dengan show room motor China.

“Saya baca peluang ternyata bisnis motor second itu menjanjikan, makanya saya buka show room di Subang, waktu itu sistemnya teman-teman saya titip jual di toko saya,” katanya.

Tak berhenti di situ, tahun 2003 ia menjajal lagi bisnis di bidang yang lain. Kali ini ia mencoba bisnis perbankkan dengan membuka BPR Lexy Pratama Mandiri di Jalan Dr. Djunjunan, Bandung yang kemudian diikuti juga dengan membuka Koperasi Mitra Guna Lexy di Subang tahun 2005.

“Meskipun latar belakang pendidikan saya Sarjana Hukum, tapi waktu itu saya berusaha belajar perbankkan secara otodidak, beberapa kali saya keluar masuk BI untuk belajar,” paparnya.

Menginjak tahun 2006 ia mulai merambah bisnis kuliner di Subang dengan membuka Betha Center di jalan Ahmad Yani. Betha Center inilah yang kemudian menjelma menjadi hotel megah bernama Dafam Betha.

“Waktu itu banyak teman-teman anggota dewan dan pengusaha bilang Subang masih butuh hotel, kemudian saya coba bikin feasibility study dan belajar tentang perhotelan hingga setahun lamanya. Tapi karena bidang saya banyak, maka saya cari manajemen hotel yang mau buka di daerah, akhirnya saya ketemu Dafam,” jelas wanita yang telah memiliki 2 anak ini.

Lia Natalia, Owner Dafam Beth Hotel, Subang

Lia Natalia, Owner Dafam Betha Hotel, Subang

Cinta Subang

Hotel Dafam Betha menjadi wujud kecintaannya kepada Subang sebagai kota kelahirannya. Hal itu tergambar dari banyaknya ornamen “Subang” menghiasi berbagai sudut hotel berbintang 3 satu-satunya di kota Subang ini. Dari patung dan lukisan sisingaan, nama-nama ruangan, lukisan keindahan dan sejarah Subang hingga kuliner yang disajikan banyak yang bercita rasa Subang. (baca juga : Dafam Betha, Hotel Berstandar Internasional Bernuansa Subang)

“Saya ingin berbuat sesuatu untuk Subang makanya saya bikin konsep tentang Subang di hotel ini. Dengan demikian citra positif tentang Subang bisa terpublish. Subang tuh jangan terkenal dengan hal negatifnya saja,” ungkapnya sambil mengajak kami berkeliling hotel.

Kesuksesan yang telah diraihnya membuatnya kerap diajak untuk terjun ke dunia politik, namun dengan tegas dia menolaknya untuk saat ini.

“Dari tahun 2010 saya sering diajak (terjun ke politik) baik di Subang maupun Bandung, bahkan saya pernah diajak menjadi Subang 1, Subang 2, tapi saya gak pernah mau. Karena saya berfikir berbuat sesuatu untuk kota sendiri gak perlu lah jadi apa-apa, jadi pengusaha aja sudah cukup berkontribusilah,” ia menjelaskan.

Menurut Lia untuk menjadi pejabat atau anggota dewan seseorang itu harus kuat iman dan harus benar-benar kuat secara materi.  Selain itu harus punya wawasan atau menguasai potensi daerah yang ada serta memiliki visi misi yang jelas, sehingga nantinya bisa membuat perubahan di daerah.

“Dan kalau sudah jadi seseorang (pejabat), saya harus siap meninggalkan perusahaan saya. Untuk saat ini saya belum siap. Nanti dulu deh!” katanya sambil tersenyum.

Jatuh Bangun

Menjadi sukses hingga saat ini bukan berarti tanpa hambatan dan jatuh bangun. Hal itu sudah biasa ia lalui.

“Saya perempuan, single fighter juga, kadang-kadang ada aja yang suka ngebohong atau culas baik itu rekanan ataupun karyawan. Tapi ya.. itu dimanapun pasti ada aja, namun semua bisa saya lalui,” ujarnya.

Itulah Evi Natalia, jatuh bangun yang telah ia lalui dan kesuksesan yang telah diraihnya tidak kemudian membuatnya lupa kepada kota kelahiran dan keluarganya.

“Sambil berkarya paling tidak saya bisa berkontribusi baik itu untuk kota Subang ini maupun untuk keluarga saya. Untuk keluarga, saat ini semua usaha yang ada di Subang ini sudah saya serahkan kepada mereka,” ujar wanita kelahiran 21 Desember 1975 ini.

“Dengan demikian tujuan hidup saya bisa tercapai, saya ingin hidup tenang, nyaman dan tentram, itu saja,” pungkasnya.