Mencerdaskan Karakter Pemuda Daerah dengan Budaya Lokal

Pemuda memiliki peran sentral dalam pembangunan suatu bangsa. Sejarahpun mencatat bagaimana suatu perubahan penting diawali oleh gerakan reformis nan heroik yang dibangun oleh pemuda. Indonesia sebagai satu bangsa yang dipandang oleh dunia pun menjadi saksi betapa fundamentalnya peran pemuda dalam perjalanan kemerdekaannya. Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Gerakan ini mendarah daging dan mengkristalisasi hampir semua kalangan masyarakat Indonesia pada waktu itu, hebatnya gerakan ini digagas, digerakan, dan dikembangkan oleh pemuda.

Pemuda memang sudah tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai pelaku-pelaku aktif pembangunan, namun apakah sejarah itu akan berlanjut? Akankan corak pemuda ke depan ‘masih’ sebagai aktor pembangunan? Pertanyaan-pertanyaan ini kian sulit dijawab bila melihat perkembangan pemuda-pemuda di era globalisasi seperti sekarang yang mengalami penurunan karakter. Degradasikarakter ditunjukan oleh pemuda-pemuda Indonesia yang berubah karakternya karena mengikuti budaya-budaya bangsa luar tanpa adanya filtrasi. Banyak diantara mereka lebih tertarik pada budaya-budaya asing yang dianggap modern. Sehingga karakter anak muda Indonesia yang andep asor, tata krama, santun kini mulai pudar. Hal ini terbukti dengan masih banyak kasus kriminalitas, napza, asosial, asusila, dan lainnya melibatkan pemuda.

Banyak mungkin pemuda kita yang(masih) mendogmakan bahwa berbudaya lokal adalah hal yang udik, tidak modern, dan cenderung ‘kampungan’. Ironis. Saat bangsa-bangsa lain sedang berlomba menunjukan ‘karakternya’ masing-masing tentunya dengan cara mengglobalkan ‘budaya-budaya’ mereka, kita masih bergelut dengan meng-copy budaya-budaya bangsa lain dalam kehidupan keseharian kita. Tentu mengenal dan mempelajari budaya-budaya bangsa lain bukanlah suatu yang dipersalahkan, bahkan hal itu merupakan suatu yang disarankan untuk menambah referensi dalam meningkatkan kualitas setiap individu masyarakat. Namun terlepas dari mengambil pelajaran dari budaya-budaya asing, tentunya harus dibekali dengan modal yang cukup mengenai pemahaman dan internalisasi nilai-nilai budaya sendiri.

Pemuda Subang bermain perkusi bambu "Sagala Ditakol" (18/03/2012)

Pemuda Subang bermain perkusi bambu “Sagala Ditakol” (18/03/2012)

Setiap daerah di Indonesia ini yang jumlahnya sangat besar memiliki perbedaan budaya yang sedikit sampai sangat jauh satu sama lain. Namun bila ditarik ulur dalam suatu kesimpulan, dalam setiap kebudayaan pasti memiliki social values (nilai-nilai sosial) yang penting untuk diinternalisasi oleh pemuda. Banyak dari budaya-budaya lokal yang menanamkan nilai-nilai gotong royong, kesederhanaan, kejujuran, kedamaian hingga kepada pelestarian alam.

Normalnya, setiap bangsa akan senantiasa melakukan berbagai upaya untuk pembentukan karakter (character building) pemuda-pemudanya sebagai pemimpin masa depan (the future leaders). Pembentukan karakter ini menyiapkan pemuda untuk dididik menjadi pemuda yang memiliki karakter (berbudaya) Indonesia, tidak hanya kaya wawasan dan pengalaman, namun terpenting dari semuanya adalah memiliki karakter ke-Indonesiaan yang sederhana, rendah diri, ramah, santun, dan berbudi luhur. Setiap bangsa memiliki sumber daya yang berbeda-beda dalam melaksanakannya. Khusunya Indonesia, budaya lokal yang kaya akan social values(nilai-nilai sosial) seyogyanya menjadi dasarpenting yang harus dimiliki oleh para pemuda.Oleh karena itu, pembangunan karakter pemuda sebenarnya berkaitan erat dengan budaya lokal. Pemahaman terhadap budaya lokal sebagai nilai-nilai budaya luhur bangsa kita dapat dimanfaatkan untuk pembentukan karakter pemuda Indonesia.

Menurut Yos Rizal (2013), pemuda Indonesia berkarakter yang diharapkan adalah pemuda yang memiliki karakter yang berbasis kesejahteraan dan kedamaian. Karakter yang cinta kesejahteraan meliputi karakter yang bertipe pekerja keras, disiplin, senang belajar, hidup sehat, cinta budaya, gotong royong, tidak bias gender, dan peduli lingkungan; sedangkan karakter yang cinta kedamaian meliputi sikap yang berkomitmen, berpikir positif, sopan santun, jujur, setiakawan, suka bersyukur, dan hidup rukun.

sisingaan-cilik-2

Pendidikan karakter dimulai sejak dini dengan pengenalan budaya

Cinta kesejahteraan didasari oleh kearifan lokal inti etos kerja (core local wisdom of work ethics), sedangkan cinta kedamaian didasari kearifan lokal inti kebaikan (core local wisdom of goodness).Karakter yang berbasis kearifan lokal akan menjadikan pemuda yang kuat dan memiliki socio-cultural ability yang kuat untuk memasuki dunia global. Karakter yang berbudaya indonesia akan menuntun mereka menjadi orang yang ‘Think globally act locally’ (berfirikir global, bertindak lokal). Artinya akan menuntun mereka menjadi pribadi yang down to earth(Rendah hati) tapi memiliki kualitas.

Untuk mencapai cita-cita tersebut, tentu perlu strategi riil yang harus kita lakukan sebagai pemuda. Sebuah yayasan yang dinamakan sobat budaya yang mencetuskan gerakan sejuta data budaya Indonesia (GSDBI) yang berambisi untuk dapat mengumpulkan data tentang budaya Indonesia dengan tujuan dapat mempreservasi budaya-budaya lokal serta yang terpenting dalam hal ini untuk mensosialisasikannya kepada pemuda-pemuda di Indonesia. Sobat budaya juga mengajak seluruh pemuda di setiap daerah untuk berpartisipasi aktif dalam melaksanakan gerakan ini. Salah satu komunitas sobat budaya di daerah yang terbentuk adalah Sobat Budaya Subang (SBS).

SBS memiliki cita-cita yang sama terkait untuk meningkatkan kesadaran pemuda daerah terhadap potensi budaya lokal melalui pendataan dan eksplorasi, dan aktivitas-aktivitas lain yang berbau pendidikan berkebudayaan, sehingga harapannya kelak budaya-budaya di daerah bisa menjadi medium dalam pembangunan karakter pemuda daerah. ( Muhammad Baidowi, Sobat Budaya Subang)