Genjring Bonyok, Asal Usul dan Perkembangannya (Bagian 2)

KOTASUBANG.com, Pagaden – Seiring dengan dikenalnya bentuk kesenian genjring ini, istilah-istilah yang ditujukan kepadanya pun mulai berkembang di masyarakat. Pada awalnya kesenian ini disebut dengan nama genjring ronyok. Menurut Sutarja istilah ini diberikan karena jika kesenian genjring tersebut disajikan, hampir seluruh arena penyajiannya dipenuhi oleh penonton yang menari dan mengikutinya. Sehingga fenomena kesenian tersebut memberi kesan meriah, yang dalam bahasa Sunda disebut dengan ronyok (ngaronyok).

Kemudian mulai tahun 1977, istilah genjring ronyok mengalami perubahan menjadi genjring bonyok. Menurut Sutarja istilah ini muncul disebabkan kelompok genjring pimpinan Rasita dari Dusun Bonyok, lebih sering melakukan pertunjukan di dalam maupun di luar Kecamatan Pagaden. Sehingga melalui kelompok Rasita dari Desa Bonyok inilah, masyarakat luas lebih mengenal kesenian ini dengan sebutan genjring bonyok.’

Fenomena perkembangan yang pesat dari kesenian genjring bonyok dapat dilihat dari data statistik kesenian Kabupaten Subang tahun 1996-1997, yang menunjukkan adanya lebih dari 50 kelompok kesenian genjring bonyok yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Subang.

Genjring bonyok sudah banyak dipentaskan di berbagai even antara lain
– 1971 mengadakan pertunjukan di gedung Rumentang Siang Bandung,
– 1977 mengikuti festival Genjring Bonyok se Jawa Barat yang diikuti oleh 24 kelompok
kesenian genjring bonyok.
– 1978 mengadakan pagelaran di GOR Saparua Bandung,
– 1979 pagelaran di gedung gubernur Jawa Barat (Gedung Sate), diikuti oleh 3 kelompok kesenian dari 3 kabupaten.
– 1980 pagelaran pada acara HUT Kabupaten Subang,
– 1985 mengadakan pagelaran di TMII anjungan Jawa Barat, dan kesenian ini mulai ditampilkan di TVRI Jakarta.
– Tanggal 17 Agustus 1989 mengadakan pagelaran di lapangan Gasibu Bandung, pada acara gelar senja dengan memasukkan penari dari siswa sekolah.
– Tanggal 1 Oktober 1989 mengisi Pembukaan Pameran Kabupaten Subang. Dengan demikian pagelaran genjring bonyok tidak hanya tampil pada acara hajatan saja, namun bisa pentas pada acara-acara resmi baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah.

Namun sekitar tahun 2000an kesenian ini mulai berganti dengan kesenian lainnya, yaitu tardug, yang merupakan pengembangan dari kesenian Genjring Bonyok dengan penambahan instrumen lainnya seperti gitar.

Ilustrasi : Genjring Bonyok dalam sebuah arak-arakan

Ilustrasi : Genjring Bonyok dalam sebuah arak-arakan

Pertunjukan dan Penyajian Genjring Bonyok

Beberapa unsur yang penting dan menunjang pergelaran kesenian ini yakni waditra (alat musik), nayaga (penabuh alat musik), dan juru kawih (sinden), penari serta busana. Waditra atau alat musik seperti sebuah bedug berfungsi mengatur ketukan, dipukul dengan cara tertentu untuk membuat bunyi yang enak. Tiga buah genjring berfungsi membuat irama yang bersahutan dan mengimbangi alat musik lainnya. Sebuah gendang berfungsi mengatur irama dan memberi tekanan musik. Sebuah kulanter berfungsi mengikuti irama. sebuah goong besar berfungsi untuk menutup akhir irama. Sebuah goong kecil berfungsi untuk mengisi irama. Sebuah terompet berfungsi untuk membawakan melodi. Dua buah kenong berfungsi untuk mengimbangi irama. Sebuah kecrek berfungsi untuk mempertegas dan mengatur irama.

Nayaga (penabuh alat musik)
Pada saat pertunjukan di atas panggung, nayaga mengambil posisi duduk, sinden duduk paling depan, dan diikuti oleh peniup terompet yang sejajar dengan penabuh gendang, dan penabuh kecrek. Baris selanjutnya penabuh genjring dan penabuh ketuk. dan di belakangnya penabuh bedug dan penabuh goong. Kalau memakai penari biasanya posisi berada di depan sinden. Biasanya kesenian ini dipentaskan bersamaan dengan kesenian lain seperti sisingaan. Genjring bonyok berada di posisi belakang, setelah kesenian sisingaan.

Juru kawih (sinden)
Lagu-lagu yang biasa dinyanyikan dalam pergelaran adalah lagu-lagu ketuk tilu seperti gotrok, kangsreng, awi ngarambat, buah kawung, dan torondol.

Penari
Penari pada saat tertentu memakai para penari khusus, yang sesuai dengan koreografi. Sedangkan pada saat mengadakan helaran para penari terdiri dari masyarakat yang ikut menari secara spontan, untuk ikut memeriahkan helaran.

Busana
Busana yang dipakai oleh personil genjring bonyok yakni nayaga memakai baju kampret, celana pangsi, iket (barangbang semplak, parekos nangka), selendang (sarung). Juru kawih(sinden) mengenakan kebaya, selendang, sanggul, dan hiasan dari bunga melati. Penari laki-laki mengenakan baju kampret, celana pangsi, iket dan selendang. Sedangkan penari perempuan mengenakan kebaya, selendang dan sanggul.

Tempat pertunjukan
Secara umum tempat pertunjukan genjring bonyok terbagi ke dalam dua bagian , yaitu di jalan raya dan di atas panggung. Pertunjukan di jalan raya , dilakukan apabila genjring bonyok disajikan dalam suatu arak-arakan. Dalam pertunjukkan ini dilakukan sambil berjalan kaki keliling kampung. Pertunjukkan dudukan dilakukan di atas panggung acara. (Ade Herdijat/USU)