Musim Kemarau, Petani Subang Beralih Profesi Jadi Pembuat Bata Merah

KOTASUBANG.com, Pagaden – Musim kemarau yang tengah mencapai masa puncaknya saat ini menyebabkan lahan pertanian di Subang kekeringan karena kekurangan pasokan air. Menyiasati hal ini sebagian petani di wilayah Subang beralih profesi menjadi pembuat bata merah.

Hal tersebut diantaranya tampak di Kampung Sukarandeg Desa Gunungsari Kecamatan Pagaden. Para petani di sana memanfaatkan lahan yang kering diwilayahnya untuk dijadikan tempat pembuatan bata merah yang merupakan bahan pokok untuk membuat rumah.

Salah seorang warga setempat, Kusnadi (48) mengatakan memang diwilayahnya hampir setiap tahun saat musim kemarau warga yang memiliki pekerjaan sebagai petani beralih profesi menjadi pembuat bata merah.

“Selama kemarau, biasanya dari mulai bulan tujuh sampai bulan sembilan. Kalau kemaraunya panjang bisa sampai bulan 10, tergantung kondisi cuaca,” kata Kusnadi, Selasa (9/9/2014).

Selain lahan kosong yang diratakan, proses pembuatan bata merah juga memerlukan beberapa peralatan, seperti cangkul, cetakan untuk membuat bata merah dan yang untuk bahan-bahan yang harus disediakan yakni tanah merah, air dan kulit gabah.

pengrajin bata merah subang

Pengrajin bata merah di Kampung Sukarandeg Desa Gunungsari Kecamatan Pagaden (Foto by Warlan Putra)

“Sebelum memulai mencetak bata merah, kita buat kubangan sedalam 50 centimeter dengan lebar 2×2 meter. Nantinya kubangan itu dimaksudkan untuk membuat bahan (adonan, red) pembuatan bata merah. Caranya tanah dicampur kulit gabah lalu disiram air secukupnya lalu diaduk-aduk sampai tercampur,” tuturnya.

Setelah pembuatan bahan pembuatan bata merah selesai. Lalu para pembuat bata biasanya menggunakan cetakan yang terbuat dari kayu yang dibuat persegi panjang untuk mencetak bata merah ditanah yang sudah diratakan sebelumnya.

“Setelah dicetak, kalau mataharinya terik bata yang sudah dicetak bisa kering dua sampai tiga hari saja. Namun jika matahari kurang terik bisa lama. Jadi tergantung kondisi cuaca juga,” katanya.

Setelah semua bata kering, proses selanjutnya yakni menyeleksi bata dengan cara menyerut bata menggunakan golok yang tumpul. Hal tersebut dimaksud untuk membuat bata terlihat rapi dan mudah ditumpuk dengan bata yang lainnya.

“Biasanya kalau urusan menyeleksi itu urusan kaum ibu-ibu, karena wanita itu sangat teliti, dengan berbekal golok tumpul bata yang sudah kering diserut bagian-bagian yang jeleknya suapaya rata,” katanya.

Setelah tahap seleksi selesai, lalu ketahap terakhir yakni tahap membakar bata yang sudah kering dan lolos seleksi. Pembakaran dilakukan selama tiga hari tiga malam. Prosesnya dimulai menyusun bata dengan cara ditumpuk sampai beberapa tumpukan sesuai keinginan pembuat bata. Lalu dibagian pingirinya dibuat pagar pelindung dari bata yang sudah kering juga. Setelah itu tumpukan bata yang dikeliling pagar bata ditaburi kulit gabah secukupnya lalu dibakar.

“Kalau bata sudah ditumpuk. Lalu dibagian pinggirnya sudah dibuat parag, setelah itu tinggal dibakar selama tiga hari-tiga malam. Dalam proses pembakaran ini, kulit gabah harus diperhatikan kalau sudah kelihatan habis kita tambah lagi, begitu selama tiga hari,” tuturnya.

Tahap terakhir setelah tiga hari tiga malam dibakar adalah menunggu bata merah yang sudah siap selama dua hari dua malam. Karena jika langsung dibongkar kualitas bata akan jelek. Jadi harus ditunggu sampai kering.

“Nah kalau sudah kering, bata merah tinggal dijual. Pembelinya warga sekitar yang sebelumnya memesan. Atau kadang-kadang warga luar desa. Harganya berkisar Rp600 rupiah per satu bata merah. Sekali melakukan pembakaran setiap pembuat bata biasanya membakar bata sebanyak 3.000 buah bata,” katanya.

Dengan memanpaatkan tanah yang kering karena kemarau para petani dikampung tersebut bisa menambah penghasilan selama kemarau yang setiap tahunnya selalu membuat kekeringan diwilayah tersebut.

“Lumayanlah nambah-nambah penghasilan. Biasanya selama kemarau masing-masing dari kita (pembuat bata merah, red) bisa membuat bata sampai 10.000 ribuan bata. Jadi tinggal dikali Rp600 saja,” tutupnya.