Ironis, Meski Banyak MAta Air Akses Air Bersih Masih Sulit di Subang

Penggunaan mata air pegunungan sebagai air minum dalam kemasan memang sudah tidak asing lagi. Hampir seluruh merek yang menjual air kemasan mengambil airnya di mata air pegunungan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ironisnya, masih banyak masyarakat yang tinggal di pegunungan memiliki kesulitan untuk mengakses air bersih. Bukan karena kekurangan sumber air, akan tetapi kurangnya infrastruktur dan sarana yang dapat memindahkan air dari mata air menuju rumah-rumah di kampung warga.

Salah satunya adalah Kampung Nyalindung yang terletak di Desa Dermaga, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Kampung yang terletak di perbukitan ini sampai tahun 2013 masih kesulitan untuk mendapat akses air bersih.

Agus, Ketua RT 04 Kampung Nyalindung, mengatakan bahwa sebelumnya, sumber air bersih di desanya adalah salah satu sungai yang mengalir di kampung tersebut. Air sungai digunakan untuk segala keperluan rumah tangga mulai dari mencuci, buang air, mandi, hingga air untuk minum dan memasak.

“Kampung kami di daerah pegunungan, bukannya sulit air namun air yang ada tidak bersih. Mandi, mencuci, air minum, masak, sampai buang air semuanya di situ. Kadang juga kalau musim kemarau sering surut, nah pas itu baru susah airnya,” tutur Agus kepada detikHealth, saat ditemui dalam kunjungan bersama Aqua di Kampung Nyalindung, seperti ditulis Senin, (25/8/2014).

Dilanjutkan Agus memang ada beberapa warga yang memiliki sumur sebagai sumber air bersih. Hanya saja, air dari sumur tersebut berwarna kuning, dan rasanya asam jika diminum. Mata air jernih yang ada pun terletak di kampung sebelah, dengan jarak kurang lebih 1 kilometer.

‚ÄéMasalah air bersih juga menjadi salah satu permasalahan yang dialami warga dusun adat Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Dusun yang terletak tak jauh dari pusat rekreasi air panas Sari Ater ini mempunyai hambatan dalam masalah penyaluran air bersih.

Bak tampung yang hanya mampu menampung satu kubik liter air tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi 305 kepala keluarga (KK) yang ada di dusun tersebut. Belum lagi kondisi bak tampung yang sudah tua, dan penyalurannya yang hanya menggunakan keran dan selang plastik. Tentunya mudah tercemar lumut dan rawan bocor, sehingga sering menimbulkan air tergenang yang bisa menjadi rumah bagi jentik-jentik nyamuk dan bakteri.

Mata air banyak terdapat di gunung dan perbukitan Subang Selatan

Mata air banyak terdapat di gunung dan perbukitan Subang Selatan

Mak Uci, salah satu warga asli dusun Banceuy, mengatakan bahwa semakin bertambahnya jumlah penduduk membuat bak tampung yang dibuat awal tahun 2000-an ini memang dalam kondisi tidak baik. Sehingga akses penyaluran air bersih untuk warga menjadi terhambat.

“Kami mah air sebenarnya banyak Dik, nggak kurang. Cuma penyalurannya, pakai selang jadi gampang bocor. Bak tampungnya juga sudah tua,” tutur Mak Uci dengan logat Sunda yang kental.

Sulitnya akses air bersih yang dihadapi Agus di Kampung Nyalindung dan Mak Uci di Dusun Banceuy hanya sebagian dari masalah ketahanan air nasional. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menyebut, diare akibat kurangnya akses terhadap air bersih menyebabkan 31 persen kematian antara usia 1 bulan sampai satu tahun, dan 25 persen kematian antara usia tua 1-4 tahun.

Sementara itu badan PBB untuk perlindungan anak UNICEF menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari 10 negara yang dua pertiga penduduknya tidak mempunyai akses ke sumber air minum. Indonesia, dalam kelompok tersebut hanya lebih baik dari China, India, Nigeria, dan Ethiopia.

Kampung Nyalindung masih beruntung mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam mengatasi masalah tersebut. Perusahaan air minum kemasan Aqua bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Masyarakat (PESAT) Subang dan Yayasan Social Investment Indonesia (YSCII) menyediakan pompa untuk mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga. (detik)