Sempat Memanas, Akhirnya Warga Dawuan dan Pengusaha Galian C Capai Titik Temu

Situasi desa Cisampih, kecamatan Dawuan pagi ini Kamis, 21/8/2014 sedikit memanas, pasalnya puluhan sopir truk pengangkut pasir mendatangi desa Cisampih dan merusak baliho yang berisi tandatangan warga yang menuntut penutupan aktivitas galian C di sekitar desa Cisampih. Para sopir ini mengamuk karena mereka tak beroperasi terkait aksi demo warga Cisampih yang melarang aktivitas truk pengangkut pasir selama tuntutan warga Cisampih tidak dipenuhi pengusaha pasir.

Beruntung situasi panas tak berlangsung lama, karena aparat keamanan dan perwakilan dari kecamatan Dawuan segera datang ke lokasi menenangkan suasana. Para sopir ini kemudian mengikuti proses negosiasi antara warga dan pengusaha pasir dan mereka memarkirkan puluhan truknya di sepanjang jalan desaa dan di halaman kantor desa Cisampih.

truk pasir subang jalan rusak truk pasir subang

Sebenarnya pagi itu memang sudah diagendakan adanya pertemuan lanjutan antara warga Cisampih yang diwakili Forum Peduli Lingkungan Desa Cisampih dan pengusaha pasir yang dimediasi pemerintah Kecamatan dan aparat Kepolisian di kantor Desa Cisampih. Sebelumya Selasa (19/8/2014) pertemuan antara warga dan pengusaha galian C telah dilaksanakan di kantor desa Cisampih terkait kerusakan jalan desa akibat aktivitas pengangkutan pasir di sekitar desa Cisampih. Namun karena belum mencapai titik temu pertemuan tersebut diagendakan kembali digelar hari ini ditempat yang sama.

“Sebenarnya pagi ini sudah diagendakan pertemuan lanjutan antara warga dan pengusaha, namun tiba-tiba ada oknum sopir yang membuat suasana jadi panas,” ujar Yaya Hudiana, ketua Forum Peduli Lingkungan desa Cisampih, kepada kotasubang.com (21/8/2014).

Perwakilan sopir akhirnya meminta maaf kepada warga atas aksi pengrusakan baliho tersebut kemudian  proses negosiasi antara warga dan pengusaha pasir kembali dilanjutkan. Setelah melalui perundingan alot akhirnya dihasilkan 4 butir kesepakatan.

Pertama, pengusaha pasir yang berada di sekitar desa Cisampih sepakat untuk memperbaiki jalan desa yang rusak.  Kedua, adanya pembatasan jam operasional pengangkutan truk yakni mulai pukul 08.00 hingga 18.00.

“Di sini ada sekitar 10 pengusaha pasir, kami menuntut kepada seluruh pengusaha pasir ini untuk memperbaiki jalan tersebut sepanjang 8 km hingga layak untuk dilalui, bukan hanya perbaikan asal-asalan saja,” kata Yaya.

Ketiga, truk pengangkut pasir hanya diperbolehkan yang berjenis engkel dan yang terakhir  kapasitas maksimal pengangkutan hingga 4 ton.

“Ternyata banyak juga para pemilik kendaraan yang mengakali dengan memodifikasi truknya agar mirip engkel, itu sih boleh-boleh saja, tapi tetap tonase maksimal yang disepakati cuma 4 ton,” lanjut Yaya.

“Agar kesepakatan ini dilaksanakan dengan baik oleh pengusaha kami akan terus melakukan pengawasan dan apabila ada kesepakatan yang dilanggar pasti warga Dawuan akan melakukan unjuk rasa lagi.” pungkasnya.

 

 

Berita Terkait: