Ini Hasil Kunjungan Jokowi di Subang Terkait Metro Kapsul

1752181metro-kapsul780x390Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo rela menempuh empat jam perjalanan dengan kondisi jalanan yang rusak dari Jakarta ke Subang, Jawa Barat, untuk meninjau pabrik pembuatan Metro Kapsul, Rabu (2/4/2014) siang.

Jokowi sampai ke pabrik Metro kapsul yang terletak di Jalan Cagak, Desa Bunihayu, Subang, Jawa Barat tersebut sekitar pukul 15.35 WIB, usai meresmikan RSUD Pasar Minggu. Jokowi menyempatkan makan siang di satu restoran sate tepi sawah.

Kedatangan Jokowi disambut oleh jajaran direksi konsorsium Kereta Kapsul Indonesia. Jajaran direksi kemudian memaparkan keunggulan-keunggulan dari Metro kapsul kepada Jokowi. Di antaranya, harganya yang lebih murah dari Monorel atau Mass Rapid Transit (MRT), waktu pembangunan yang lebih singkat sekaligus lebih murah, serta jumlah keterangkutan yang lebih banyak dari Monorel atau MRT.

Usai paparan yang terbuka dari kalangan media, jajaran direksi mengajak Jokowi untuk meninjau prototype Metro Kapsul yang dipajang di depan pabrik. Jokowi tak berhenti mengangguk-angguk mendengar penjelasan soal keunggulan Metro Kapsul.

“Saya kira ini meyakinkan sekali,” ujar Jokowi di sela paparan itu.

Jokowi berada di pabrik tersebut sekitar dua jam. Sekitar pukul 17.15 WIB, Jokowi dan rombongan bertolak dari pabrik itu dan kembali ke Jakarta. Sekedar latar belakang, gagasan pembangunan Metro Kapsul tidak datang tiba-tiba.

Moda transportasi yang diusung oleh konsorsium yang digawangi empat perusahaan dengan ahli dari ITB tersebut telah mengembangkan selama delapan tahun terakhir. Sejauh ini, belum ada kepala daerah di Indonesia yang tertarik untuk menjadikan produk dalam negeri tersebut sebagai moda transportasi pilihan.

Komunikasi konsorsium dengan Pemprov DKI Jakarta pun baru dijajaki setelah Jokowi menjabat sebagai gubernur. Secara fisik, Metro Kapsul mirip seperti sky train di Singapura. Hanya saja, bentuknya berupa kapsul dengan kapasitas 50 penumpang. Untuk pengoperasiannya menggunakan listrik dengan berbasis jalan beton setinggi empat hingga lima meter dari tanah. Kapsul ini bergerak berkelompok dengan berjumlah 10 kapsul dari stasiun satu ke stasiun lainnya. Pihak konsorsium mengklaim bisa mengangkut 19.000 penumpang per jam. (Kompas)