UMK Subang Naik 57 Persen, Dilema Bagi Pengusaha Korea

Buruh Subang Berunjuk Raa di Depan Kantor Bupati Subang Menuntut Kenaikan UMK (17/10/2013)

Buruh Subang Berunjuk Raa di Depan Kantor Bupati Subang Menuntut Kenaikan UMK (17/10/2013)

Sejumlah pemimpin perusahaan asal Korea Selatan di Kabupaten Subang mulai merencanakan hengkang dari Kabupaten Subang menyusul ditetapkannya Upah Minimum Kabupaten (UMK) Subang 2014 sebesar Rp 1,57 juta yang dinilai sangat memberatkan mereka.

“Kenaikan UMK Subang sebesar 57 persen ini sangat memberatkan kami. Ini kenaikan upah yang mengejutkan dari semula Rp 1.05 juta menjadi Rp 1.57 juta. Jika memang harus begitu, kami tidak punya pilihan lain selain memindahkan perusahaan ke daerah lain di Indonesia atau di negara lain,” kata Vice President Director PT Daenong Global, Shin Eui Kyo kepada Tribun di Subang, Minggu (16/11).

Dengan kenaikan upah sebesar Rp 1.57 juta, Shin Eui Kyo mengatakan pengusaha asal Korea Selatan yang mayoritas bergerak di sektor garmen berjumlah 20-an perusahaan. Total keseluruhan karyawan yang dipekerjakan berjumlah 55 ribu karyawan.

“Dengan upah sebesar itu, kami tidak bisa bertahan. Jika bertahan, kami harus meningkatan nilai produksi yang disertai dengan peningkatan nilai ekspor itu sendiri. Jika seperti itu, buyer kami di luar negeri akan lari dan lebih memilih perusahaan garmen dari Bangladesh, Vietnam atau India yang harganya lebih rendah,” ujarnya.

Jika perusahaan tetap bertahan dengan kondisi upah yang tinggi seperti itu, Eui Kyo menilai setiap perusahaan garmen akan mendapat beban produksi mencapai 65 persen dari biasanya. Belum lagi, kenaikan bahan baku.

“Di tengah kenaikan biaya produksi itu, kami tidak yakin buyer kami akan menyesuaikan karena yang pasti, buyer tetap memilih harga lama. Kami tidak punya banyak pilihan, antara pergi dari Subang dengan mem PHK 50-an ribu karyawan di 20 perusahaan garmen atau mengurangi setengah dari karyawan kami tanpa menerima lagi karyawan baru,” ujarnya.(Tribun)