Cerita Sopir Pengangkut Pohon Baobab dari Subang ke Semarang, Ada Pantangannya Terkait Mahluk Tak Kasat Mata

Foto Ki Tambleg di Desa Karang Mukti, Cipeundeuy tahun 2019 hingga saat ini pohon tersebut masih kokoh berdiri

KOTASUBANG.com, Subang РTruk trailer yang mengangkut pohon (Adansonia) raksasa akhirnya tiba di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (2/4/2021) dini hari. Kendaraan merek Scania seri P380 yang membawa pohon baobab itu memasuki gerbang selamat datang di kawasan Terminal Mangkang Jalur Pantura sekitar pukul 00.00.

Perlu diketahui, truk yang dikemudikan Dadang (41) tersebut berangkat dengan muatan pohon baobab dari Sukamandi, , , pada Senin malam bada isya, 29 Maret lalu. Berarti waktu tempuh truk melakukan perjalanan Subang-Semarang sejauh 400-an kilometer itu lebih dari tiga hari.

Seseorang yang mendampingi Dadang, Arga (28), menceritakan pengalaman-pengalaman yang dialaminya selama perjalanan membawa pohon raksasa tersebut.

“Kalau terjebak kemacetan tidak, tapi justru memacetkan lalu lintas.

Karena dengan berat yang mencapai sekitar 80 ton, truk hanya bisa melaju dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam,” ujarnya.

Maklum, dalam posisi ambruk di trailer tinggi pohon baobab ini 4,25 meter. Diameter pangkal pohon mencapai 5,2 meter sedangkan panjangnya sekitar 13 meter.

Kendalanya saat melintasi jalan dengan pohon yang rimbun, atau kabel listrik yang tingginya tidak melebihi truk itu. Ia mengatakan kesulitan yang dialami seperti saat melewati jalan yang konturnya menanjak dan menurun. Satu di antaranya di wilayah Alas Roban, Batang, dan Jalan S Parman di Kota Semarang, sehingga Dadang harus memelankan lajunya.

Kendala lain yakni pecahnya tiga ban dari belasan ban truk trailer itu selama di Jalur Pantura. Mereka harus berhenti untuk menggantinya. Hal lain yang mereka alami, yakni pantangan atau hal-hal yang mereka yakini untuk tidak dilakukan yang berkaitan dengan sesuatu yang tak kasat mata.

“Ya bagaimana, ya. Namanya juga pohon besar, terkadang kami juga tidak bisa sembarang membawanya.

Beberapa kali mesin tidak bisa dinyalakan, itu artinya kami harus beristirahat dahulu atau tidak terburu-buru melanjutkan perjalanan. Bahkan saat proses menaikkan pohon ke truk ini tidak mudah, istilahnya memohon izin kepada penghuni pohon.

“Lalu ada beberapa mandat dari ahlinya untuk tidak melakukan beberapa hal, misalnya berfoto atau selfie di bagian tertentu,” ungkapnya.

Normalnya, Subang-Semarang bisa ditempuh kurang dari tujuh jam melewati tol Trans Jawa. Andai melalui jalur pantura seperti yang dilakukan truk ini sekitar delapan hingga 10 jam, bisa kurang jika dipacu dalam kecepatan tinggi.

“Tadi kami beristirahat dulu di rumah makan Jalan Lingkar Kaliwungu. Terus berangkat ke Semarang sekitar jam 10 malam,” terang Dadang kepada Tribunjateng.com.

Dia leluasa melintasi Jalur Pantura seusai Mangkang pada tengah malam karena jumlah kendaraan yang melintas sedikit. Di belakang truk mengekor sebuah pikap putih yang membawa beberapa personel pendamping. Dadang kemudian melajukan truk pelan-pelan saat melintas di bawah Flyover Kalibanteng. Maklum, dalam posisi ambruk di trailer tinggi pohon baobab ini 4,25 meter. Diameter pangkal pohon mencapai 5,2 meter sedangkan panjangnya sekitar 13 meter.

Setelah melintasi Flyover Kalibanteng ke arah Pamularsih, tiga personel dari pikap turun. Mereka berlari naik ke trailer kemudian bertengger di batang pohon. Tak urung, truk yang melaju pelan di lajur kanan ini menjadi perhatian warga yang masih melek dan pengguna Jalan Pamularsih.

Di belakang truk dan pikap, beberapa kendaraan semula mengikuti pelan. Kemudian langsung mendahului dari lajur kiri setelah dirasakan terbuka. Warga dan pengguna jalan yang terkesima melihat besarnya dimensi pohon segera mengabadikannya melalui ponsel.

“Gede tenan yoh, wit opo iku (Besar sekali ya, pohon apakah itu)?” tanya seorang pemotor kepada temannya yang diboncengkan.

Temannya itu menggelengkan kepala tapi tetap berucap, “Ringin po ya (Beringin mungkin).”

Melintasi jalan yang sedikit menanjak seusai SPBU 44.501.19 Pamularsih, truk melaju sangat pelan. Laju yang mirip orang beringsut atau bergeser sedikit-sedikit membuat siapa pun yang melihatnya menahan nafas. Namun, Scania yang memiliki kapasitas tenaga kuda hingga 345 hp itu menaklukkan tanjakan tanpa berhenti. Setelah melewati tanjakan, giliran Dadang mengerem truk kuat-kuat karena permukaan jalan mulai menurun.

Truk itu kemudian berhenti di pertigaan Pamularsih-Simongan, Semarang Barat, pada pukul 00.55. Sekitar sejam waktu yang ditempuhnya dari tugu selamat datang di kawasan Terminal Mangkang, berjarak 13 kilometer saja. Dadang kemudian turun dari truk, begitu pula Arga (28) kernet yang setia mendampinginya sejak berangkat dari Subang.

“Kita berhenti dulu di sini, ngaso. Sambil dicek nanti rute paling enak dilewati sampai tujuan,” tuturnya.

Pohon baobab itu rencananya akan ditanam pengusaha David Hidayat di rumahnya di Semarang atas.

Dialah yang memakai jasa Dadang dan Arga membawa tanaman raksasa itu dari Subang, tempat tumbuhnya sebelum kemudian tumbang karena usia.

(Sumber : Tribunjateng.com)