[Opini] Bonus Demografi dan Ancaman Pandemi Covid-19

 Meningkatnya jumlah penduduk produktif tentunya menjadi peluang emas untuk menggerakkan roda perekonomian bangsa. Penduduk produktif pada era ini didominasi oleh generasi Y atau generasi milenial yaitu generasi yang lahir antara tahun 19811996. Perjuangan meraih bonus demografi di Indonesia tidak mudah untuk diraih, mengingat perkembangan pandemi Covid-19 yang belum juga usai. Pandemi Covid-19  tidak bisa dipungkiri telah merubah sistem dan prilaku di berbagai sektor kehidupan masyarakat luas.

Generasi milenial

Teori tentang perbedaan generasi dipopulerkan oleh Neil Howe dan William Strauss pada tahun 1991. Howe dan Strauss membagi generasi berdasarkan kesamaan rentang waktu kelahiran dan kesamaan kejadian-kejadian historis. Jika didasarkan pada klasifikasi analysis of Census Bureau Population Estimates (25 June, 2020) yang dikemukakan oleh William H. Frey, generasi milenial adalah generasi yang lahir pada interval tahun 1981 – 1996 dengan perkiraan usia sekarang 24 – 39 tahun. Generasi milenial juga disebut sebagai generasi Y. Istilah ini mulai dikenal dan dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat yang terbit pada Agustus 1993.

Ciri-ciri generasi milenial

Hasil studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 di Amerika Serikat tentang generasi milenial USA adalah sebagai berikut;

  1. Mulai meninggalkan cara membaca secara konvensional beralih membaca lewat smartphone.
  2. Memiliki akun sosial media merupakan kebutuhan milenial sebagai alat komunikasi dan pusat informasi
  3. Milenial lebih aktif memilih ponsel daripada televisi. Menonton sebuah acara televisi kini sudah tidak lagi menjadi sebuah hiburan karena apapun bisa mereka temukan di telepon genggam
  4. Menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dan pengambil keputusan penting bagi para milenial.

 

Bonus Demografi Indonesia

Potensi generasi milenial merupakan modal utama dalam fenomena bonus demografi di Indonesia. Selain itu, peran generasi milenial yang merata tanpa adanya kesenjangan gender dapat dioptimalkan menjadi manfaat yang cukup signifikan.  Jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia, tanda-tanda akan terjadinya bonus demografi sebenarnya sudah terlihat dari pola menurunnya rasio ketergantungan yaitu perbandingan antara jumlah penduduk nonproduktf (usia kurang dari 15 tahun dan 65 tahun ke atas) terhadap jumlah penduduk produktif (usia 15-64 tahun) dalam beberapa tahun terakhir.

Hasil Sensus Penduduk 2020 yang dilaksanakan pada bulan september, penduduk usia produktif mencapai 70,72 persen yang menjadikan bangsa Indonesia dalam masa bonus demografi. Hasil sensus mencatat pula mayoritas penduduk Indonesia didominasi generasi Z (lahir tahun 1997-2012) dan generasi milenial (lahir 1981-1990). Proporsi generasi Z sebanyak 27,94 persen dari total populasi dan generasi milenial sebanyak 25,87 persen dari total populasi Indonesia (270,20 juta jiwa). Berdasarkan hasil proyeksi Supas (Survei Penduduk Antar Sensus) 2015 yang tujuan utamanya adalah mengestimasi jumlah penduduk dan indikator demografi diantara dua waktu sensus penduduk, bonus demografi tersebut diperkirakan akan berakhir sekitar tahun 2036-2037. Bonus demografi merupakan fenomena langka karena hanya akan terjadi satu kali dalam sejarah suatu bangsa. Peristiwa ini  terjadi ketika proporsi jumlah penduduk usia produktif  berada di atas 2/3 dari jumlah penduduk keseluruhan, atau dengan kata lain bonus demografi terjadi ketika rasio ketergantungan angkanya berada di bawah 50.

Karakterisitk generasi milenial yang sangat unik dan berbeda dibandingkan generasi sebelumnya dapat menjadi peluang dan tantangan bagi negara Indonesia. Hal-hal yang merupakan potensi dan hambatan yang dimiliki oleh generasi milenial diantaranya berdasarkan Profil Generasi Milenial Indonesia kerjasama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Badan Pusat Statistik  antara lain:

  • Tingkat pendidikan yang lebihbaik dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Rata-rata generasi milenial mengenyam bangku sekolah selama 10
    tahun atau setara kelas 1 SMA/sederajat, lebih tinggi dibandingkan
    generasi sebelumnya, meskipun masih adanya ketimpangan capaian pendidikan antar provinsi di Indonesia.
  • Tingkat kesehatan generasi milenial cenderung lebihsehat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hal ini terlihatpada angka kesakitan dan rata-rata lama sakit generasi milenial yanglebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya.
  • Generasi milenial merupakan generasi kemampuan adaptif terhadap teknologi yang lebih tinggi dibandingkan generasi Hal ini terlihat pada tingginya persentase penggunaangadget seperti telepon seluler, komputer, dan internet pada generasi milenial. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, tidak tampak adanya perbedaan yang nyata pada penggunaan teknologi informasi antara generasi milenial laki-laki dan perempuan.
  • Generasi milenial yang mumpuni dalam penguasaan teknologi melalui revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan ekonomi digital, kecerdasan buatan, big data, dan internet of things (IOT) ditambah jiwa kewirausahaan yang baik akan memiliki peluang lebih besar dalam meraih bonus demografi.
  • Rendahnya minat generasi milenial dalam menggeluti bidang pertanian, tidak lepas dari pandangan masyarakat bahwa bidang pertanian menghasilkan profit yang rendah. Bahkan, hampir sebagian besar keluarga petani memiliki harapan kecil anaknya dapat meneruskan usahanya dibidang pertanian.

Ancaman Pandemi Covid-19 terhadap Bonus Demografi

Sudah sejak lama manusia berjuang menanggulangi berbagai macam hambatan dalam kehidupannya, hambatan selain dari lingkungan alam sekitar juga dari berbagai potensi penyakit yang ada akibat perubahan lingkungan. Sebelum merebaknya pandemi virus corona Covid-19 sudah banyak kejadian yang ditimbulkan oleh virus antara lain virus flu spanyol, ebola, HIV, SARS-CoV dan SARS-CoV-2 yang tergolong dalam keluarga Virus Mers.  Sejarah pun mencatat bahwa merebaknya virus flu spanyol tahun 1918 ikut andil dalam mengakhiri perang dunia I, karena banyak tentara yang tewas terkena virus ini selain konflik di medan perang.

Saat diumumkannya kasus positif terinfeksi Covid-19 di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020, berbagai langkah antisipasi untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 telah dilakukan, diantaranya himbauan physical-distancing, pemberlakukan WFH (work from home), penutupan pusat perbelanjaan dan tempat wisata, serta pengurangan kepadatan pekerja pada sektor industri. Namun demikian, penyebaran Covid-19 ini ternyata masih terus berlanjut. Pandemi Covid-19 telah membuat perubahan besar dan menciptakan ketidakpastian di kehidupan masyarakat. Keharusan untuk mengisolasi diri dari dunia luar dan ketidakpastian kapan akan berakhirnya pandemi ini mempengaruhi tingkat kecemasan masyarakat. Sehingga tidak dapat dipungkiri Covid-19 berdampak pada kesehatan mental setiap individu termasuk generasi milenial,  dalam hal pendidikan kebijakan physical distancing untuk memutus penyebaran wabah. perubahan ini  memaksa pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar dari rumah. Minimnya interaksi langsung setidaknya mempengaruhi kemampuan akan keterampilan bersifat teknis (praktek) yang tidak cukup dilakukan dengan belajar online saja, selain itu disiplin pribadi untuk belajar secara mandiri dan fasilitas dan sumber daya seperti akses jaringan internet  yang tidak merata menjadi menjadi salah satu kendala tersendiri terhadap kualitas pendidikan di masa pandemi.

Usia Generasi Milenial yang sedang bekerja pun dibayangi PHK akibat pendemi Covid-19 yang tentu saja menambah tingkat pengangguran, sedangkan bagi mereka yang akan memasuki dunia kerja lahan untuk diterima bekerja juga semakin mengecil. Berdasarkan survei Hasil Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 BPS tidak sedikit pelaku usaha yang menutup sementara usahanya baik sementara maupun secara permanen. Dari 87.379 responden menunjukkan bahwa 2,52 persen responden survei baru saja mengalami PHK akibat perusahaan atau tempat usaha dimana mereka bekerja tutup. Sebagian besar yang mengalami PHK adalah laki-laki 3,18 persen dan perempuan 1,87 persen. sedangkan 18,34 persen diantaranya masih bekerja namun sementara dirumahkan.

Tidak bisa dipungkiri pada awalnya masyarakat beranggapan pandemi ini adalah masa-masa yang menyulitkan bagi sebagian besar aspek kehidupan. Perubahan perilaku ini harus mampu didaptasi para milenial dengan membuat inovasi sistem e-commerce lokal yang lebih kompetitif dari yang sudah ada. Usaha perlengkapan alat perlindungan kesehatan, makanan ringan, pengembangan produk-produk terkait hobi, penjualan produk

yang tahan lama, jasa pengiriman barang masih terbuka lebar peluang untuk dikembangkan. Akhirnya semua pihak harus tetap bersinergi dan  menjadikan pandemi Covid-19 sebagai peluang usaha ditengah segala keterbatasan yang dihadapi saat ini.

Penulis :

Elven Sukirno

ASN – BPS Kabupaten Subang