Mengenal Baron Dan Jack Dua Raksasa Blanakan Subang

Hutan Mangrove di Sekitar Penangkaran Buaya Blanakan

Hutan Mangrove di Sekitar Penangkaran Buaya Blanakan

Wilayah Subang memang kaya akan potensi wisata. Pegunungan di selatan Subang sudah lama menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke Subang. Demikian pula di pantura selain wisata pantai dan wisata kuliner ikan lautnya, di pantura Subang juga terdapat destinasi wisata yang atraktif, yaitu penangkaran buaya Blanakan.

Penangkaran buaya Blanakan ini dikelola oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Di wana wisata ini pengunjung dapat melihat ratusan buaya dalam berbagai ukuran yang ditempatkan pada kolam-kolam sesuai kategori umurnya.

“Disini terdapat 23 kolam penangkaran yang menampung 407 ekor buaya,” kata Ajat, Duty Manager wana wisata Blanakan di ruang kerjanya, Minggu, 10/11/2013.

“Dari jumlah tersebut 372 ekor berjenis kelamin jantan dan hanya 35 ekor saja yang betina. Sedangkan 83 ekor lainnya belum dapat diidentifikasi jenis kelaminnya karena umurnya masih di bawah 4 tahun,” Ajat memaparkan.

Buaya-buaya di Blanakan biasanya diberi makan setiap 2 hari sekali. Menurut Ajat, jika diberi makan setiap hari justru malah tidak dimakan. Biasanya pakan utama buaya-buaya tersebut adalah ikan laut yang kebetulan sangat melimpah di sana karena berdekatan dengan tempat pelelangan ikan Blanakan.

Buaya Berumur 1 tahun

Buaya Berumur 1 tahun

Buaya Berumur 4 Tahun

Buaya Berumur 4 Tahun

Buaya Berumur 6 Tahun

Buaya Berumur 6 Tahun

Atraksi utama di wana wisata Blanakan adalah 2 ekor buaya jantan berukuran raksasa yang bernama Baron dan Jack. Kedua buaya tersebut sudah berumur sekitar 33 tahun, yang merupakan buaya generasi pertama yang ditangkar di sana.

“Baron berukuran sekitar 5.5 meter, sedangkan Jack memiliki panjang lebih dari 6 meter dan berat keduanya hampir 700 Kg,” kata Ajat.

Atraksi memberi makan kedua raksasa inilah yang paling ditunggu para pengunjung. Wisatawan bisa membeli bebek di lokasi wisata tersebut untuk selanjutnya dijadikan umpan, agar Baron dan Jack mau keluar dari persembunyiannya.

Kedua buaya ini ditempatkan pada kolam yang cukup besar bersama 5 ekor buaya betina. Di kolam tersebut Baron dan Jack memiliki daerah teritori masing-masing. Namun keduanya sudah jarang naik ke daratan. Bobotnya yang sudah terlalu besar telah menghambat pergerakan mereka.

Di bagian kanan kolam sudah disiapkan tempat bertelur buaya-buaya betina berupa gundukan-gundukan jerami. Buaya-buaya yang ditempatkan di kolam ini adalah indukan utama yang menghasilkan hampir semua anakan yang ada di wana wisata Blanakan.

“Jack…Jack…Jack…,” teriak Ajat memanggil buaya sambil memukul-mukul tongkat bambu ke tepian kolam.

Tak berapa lama seekor buaya berukuran besar langsung menyambar tongkat bambu yang dipakai Ajat secara tiba-tiba dan membuat semua yang ada di tepi kolam terkejut karena gerakannya.

“Nah, yang ini namanya Jack, dia memang paling agresif di sini,” kata Ajat sedikit terkejut.

“Kalau si Baron sudah cukup jinak, bisa disentuh pengunjung,” Ajat menambahkan.

Ajat kemudian mencoba memanggil Baron untuk keluar dari persembunyiannya. Namun setelah dicoba beberapa lama panggilannya tak kunjung dihiraukan Baron.

“Saya baru 8 bulan di sini, yang sudah “mengenal” baik Baron Pak Ridwan dan Pak Sarmin,” ungkapnya.

Ajat Mencoba Memanggil Baron

Ajat Mencoba Memanggil Baron

Sarmin Memberi Baron Seekor Ayam

Sarmin Memberi Baron Seekor Ayam

Sarmin Mengusap Kepala Baron

Sarmin Mengusap Kepala Baron

Sarmin adalah salah satu pawang buaya paling senior di wana wisata Blanakan. Ia sudah sekitar 26 tahun bekerja disana, sehingga sudah hafal betul karakter kedua buaya raksasa itu.

“Baron…Baron…Ayo Keluar, lewat sebelah sini jalannya…,” teriak Sarmin sambil memandu Baron agar melewati daerah yang dangkal.

Setelah agak lama dipanggil akhirnya Baron mau muncul kepermukaan. Sarmin kemudian mengusap ujung moncong mulut Baron sebagi tanda kasih sayangnya kepada buaya itu. Inilah salah satu atraksi yang menarik pengunjung, mereka juga bisa berfoto sambil menyentuh moncong Baron.

“Kalau mau sentuh Baron harus hati-hati dan tenang. Tidak boleh ada gerakan mendadak,” kata Sarmin sambil memandu seorang pengunjung yang ingin mencoba menyentuh moncong Baron.

Setiap hari selalu ada pengungung yang berwisata ke wana wisata Blanakan ini. Jumlah kunjungan wisatawan mencapai puncaknya ketika hari raya dan ketika di gelar hajat laut di Blanakan.

“Rata-rata kunjungan setiap bulan sebanyak 1500 orang, tapi fluktuatif,” kata Ajat.

Setiap pengunjung yang berwisata ke Wana Wisata Blanakan dikenai harga tiket masuk Rp. 10.000,- untuk Dewasa dan Rp.7.500,- untuk anak-anak dan jika ingin melihat atraksi Baron dan Jack pengunjung dikenai biaya tambahan sebesar Rp. 8.000,-.

Akses menuju lokasi wisata ini dapat ditempuh melalui jalur utama Pantura. Kemudian arahkan kendaraan menuju desa Blanakan, Kecamatan Blanakan.

  • alga

    Maaf bisa minta kontak Penangkaran buaya di subang ?

  • dadang hermawan

    Baron & Jack luar biasa, hewan penguasa air itu dibalik insting membunuh nya tapi dg kasih sayang manusia bisa jinak, sy dan anak kelas 5 SD telah membuktikan, memegang moncongnya dan tdk terjadi hal2 yg diinginkan malah kami ber suka cita