Gedung Pusat Kebudayaan Subang Jadi Sorotan, Begini Penjelasan Sang Arsitek

KOTASUBANG.com, Subang – Bangunan gedung serbaguna pusat kebudayaan menjadi sorotan karena penggunaan bambu pada sebagian besar bangunan tersebut. Banyak yang menganggap bahan bambu akan cepat rusak dan tak sebanding dengan biaya pembangunan gedung tersebut.

Terkait hal tersebut sang arsitekĀ  pusat kebudayaan Subang, Yu Sing, memberi penjelasan kepada KOTASUBANG.com.

Yi SingĀ  mengungkapkan bangunan tersebut didesain menggunakan bambu yang telah diawetkan.

“Bambu yang tidak kena hujan akan tahan puluhan tahun. yang kena hujan dapat diperbaiki berkala 5 tahunan. Rencana keberlanjutannya, bambu sebagai akar sunda dari lahir, hidup pakai bambu, akan menjadi salah 1 potensi ekonomi bagi warga Subang. Karena itu dalam lansekapnya juga disediakan kebun/hutan bambu sebagai sumber material yang terus akan ada. Lalu juga disediakan area pengawetan dan workshop bambu untuk membuat berbagai produk maupun pengolahan material bambunya,” jelasnya.

Menurut Yu Sing, berbagai belahan dunia bahkan yang tidak punya bambu sudah mulai melakukan riset dan mulai menggunakan bambu, sementara di kita sendiri masih sangat kurang yang mengolah bambu secara berkelanjutan.

“Bambu juga jadi material yang disebut-sebut sebagai material masa depan yang ramah lingkungan karena kecepatan tumbuhnya, usia 4-5 tahun sudah bisa dipanen, dan kekuatan bambu bisa setara baja bila dikembangkan dengan didukung teknologi yang lebih maju. Silahkan google saja kata bamboo akan banyak sumber pengetahuan maupun desain arsitektur yang modern,” ungkapnya.

(baca Juga : Jadi Sorotan, Begini Sebenarnya Konsep dan Makna dari Bangunan Pusat Kebudayaan)

Secara tidak langsung kata Yu Sing sebetulnya ini ajakan kepada warga Subang untuk mengelola potensi bambu secara lestari.

“Kalau insan menangkap ini, kembangkan lagi material bambu dengan baik, bisa mandiri dalam pengembangan aneka fungsi bangunan tanpa bergantung terlalu banyak kepada sistem kapitalis industri material modern. Sudah dibuktikan banyak rumah-rumah tradisional justru yang aman dan tahan terhadap gempa, juga kerusakannya tidak mengakibatkan bencana fatal bagi penghuninya,” lanjut Yu Sing.

Melalui gedung pusat Kebudayaan ini Yu Sing mencoba reintroduksi kembali bambu yang mungkin sudah mulai terlupakan oleh warga. Padahal menurutnya memiliki potensi besar pengembangannya.

“Dalam konteks ekonomi, di Bali misalnya, PT Bambu Pure malah punya orang barat (John Hardy) telah mengembangkan banyak properti bambu dengan cara eksplorasi yang ‘akrobatik’ sehingg harganya mahal dan juga jadi banyak fasilitas hospitality yang mewah, salah satu nya yg terkenal itu Green School Bali,” jelasnya mencontohkan.

Yu Sing merupakan arsitek yang dikenal dengan karya-karyanya yang ramah lingkungan. Karya arsitektur Yu Sing telah banyak diliput oleh berbagai media arsitektur di Indonesia maupun Asia Pasifik.