Jadi Sorotan, Begini Sebenarnya Konsep dan Makna dari Bangunan Pusat Kebudayaan Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Pembangunan pusat kebudayaan di hutan Kota Ranggawulung kini tengah menjadi sorotan dan banyak diperbincangkan di media sosial.

Lalu apa sebenarnya makna dan filosofi dari desain gedung dan kawasan pusat kebudayaan ini?

Berikut penjelasan terkait hal ini dari sang arsitek pusat kebudayaan Subang tersebut, Yu Sing yang dikenal dengan berbagai karya arsitekturnya yang ramah lingkungan.

Bahwa Subang memiliki bentang alam yang sangat kaya: pantai, perbukitan, pegunungan, curug, persawahan, perkebunan, sungai, tebing. Keragaman itu membentuk juga klaster-klaster antara Subang pesisir laut di utara yang berbahasa sunda pantura dengan Subang tengah dan pegunungan yang berbahasa sunda.

Keragaman itu tidak dipungkiri kadang-kadang juga menimbulkan ketegangan atau ketidakbersatuan. Rumah Budaya perlu menjadi pemersatu. Tempat bertemu. Berdialog, saling mengapresiasi, dan mengembangkan bersama-sama.

Bukan hanya budaya tradisional yang diperkuat, namun juga menumbuhkan budaya-budaya kontemporer yang berakar pada budaya lokal. Berakar pada lokalitas, Berkembang di masa kini, Merawat masa depan. Menjadi inspirasi dan sumbangsih pemikiran dan praktek budaya yang signifikan bagi kelestarian bumi.

Karena itu rumah didesain dengan semangat berkumpul, bersatu, dan tetap terbuka. Ruang lingkaran sebagai wadah bareng-bareng. Lingkaran. Lingkar Budaya.

(baca juga : Gedung Pusat Kebudayaan Jadi Sorotan, Ini Kata Sang Arsitek)

Rumah budaya sebagai ruang pertemuan berbagai klaster zona budaya di Subang dengan nilai-nilai kebersamaan, kolektif, saling membangun. Ruang pertemuan budaya dengan semangat kebersamaan: ruang lingkaran. Bukan lingkaran tertutup, tetapi lingkaran yang terbuka. Dan karenanya bisa terdiri dari beberapa lingkaran yang saling berhubungan.

Lingkar Budaya Subang juga dipersiapkan berbagai program ruang dan kegiatan yang tidak hanya dapat melestarikan budaya, tetapi juga dapat bernilai ekonomi. Targetnya dapat membiayai dirinya sendiri (operasional, perawatan, pengembangan) dan sebagai katalisator bagi pertumbuhan kesejahteraan para pelaku budaya.

Bangunan-bangunan yang akan dibuat berciri Lokalitas Sunda . Arsitektur Sunda berciri-ciri sederhana, menggunakan material alami, kebanyakan panggung, harmonis dengan alam.

Lingkar Budaya Subang merupakan kumpulan berbagai bangunan sederhana yang disusun melingkar dan dikelilingi saluran alami (bioswale) melingkar.

Berbagai bangunan yang ada di pusat budaya sunda diantaranya :

Ruang serbaguna didesain dengan dasar nilai-nilai: kebersamaan, kolektif, saling membangun. Serta mengadopsi kesederhanaan arsitektur Sunda yang menggunakan material lokal. Berbagai modul ruang bambu pada fasad dapat digunakan secara fleksibel oleh budaya.

Berbagai kemungkinan penggunaan modul ruang pada fasad: galeri peralatan pertanian tradisional, galeri alat tradisional, atau bisa juga untuk sarana pertunjukan teater atau pos-pos perlengkapan berbagai komunitas budaya yang ada. Fungsinya fleksibel, dalam semangat kebersamaan, karena itu ada banyak ruang untuk berekspresi.

Gerbang berupa bangunan transparan dengan struktur scaffolding bambu. Prosesi pemakaian iket kepala (laki-laki), rok lilit batik (perempuan) atau musik (penumbukan padi di) Lisung dapat dilakukan sebelum memasuki kawasan lingkar budaya. Samping kiri kanan dapat dipasang rak-rak galeri foto/produk temporer. Gerbang sekaligus sebagai galeri terbuka. Pengunjung dapat naik ke “teras langit” untuk melihat bentang alam Subang dari ketinggian.

Saung-saung area kuliner diadaptasi dari bentuk leuit/lumbung sunda. Ada pula saung bentuk adaptasi dari bubu. Air merupakan unsur penting dalam budaya subang maupun kampung adat sunda. Subang juga memiliki festival sungai. Air juga menyatukan Subang pantura dengan Subang pegunungan melalui sungai-sungainya. Bubu simbol dari sungai sebagai ekosistem yang sehat.

Pertanian merupakan sektor kehidupan yang penting di Kabupaten Subang. Mayoritas warga Subang juga masih bekerja di sektor pertanian. Beberapa upacara adat juga berhubungan dengan pertanian. Karena itu selain galeri kesenian tradisional, juga perlu disediakan galeri alat pertanian tradisional yang ditampilkan dengan menarik beserta foto dan penjelasannya.

Rumah budaya juga akan berfungsi sebagai tempat rekreasi keluarga. Berbagai permainan tradisional ini dapat dimainkan di hutan bermain, dapat didampingi/dikelola oleh Komunitas Hong. Rumah budaya juga menyediakan bengkel kerja pembuatan berbagai perabotan atau permainan tradisional yang dapat dijual.

Perlu dipikirkan lebih lanjut pengelolaan rumah budaya subang agar dapat bernilai ekonomis, profit, tidak membebani anggaran daerah dalam operasionalnya. Operasional seluruh fungsi pada rumah budaya diharapkan dapat menjadi ramah lingkungan, yang tentunya menarik/inspiratif sehingga dapat meningkatkan jumlah pengunjung.

Misalnya pada koridor jajanan maupun restoran, semua makanan dan minuman disajikan secara alami: tanpa plastik, pewarna buatan, dan pengawet. Produk yang dapat dijual diantaranya Batik, Perabotan tradisional, Permainan tradisional, Iket, Pakaian tradisional sunda: pangsi, kebaya.

Konsep lansekap di pusat kebudayaan memiliki karakter lahan yang banyak pohon akan diperkuat dan diperindah sebagai hutan kota yang aktif.

  1. Hutan bermain, sebagai tempat bermain anak-anak, terutama aneka permainan tradisional sunda. Di sini juga ada koridor jajajan ala PKL jaman dulu.
  1. Hutan bambu, sebagai sumber material bangunan maupun aneka produk bambu. Juga sebagai lahan kegiatan temporer, misal pasar, bazaar, festival, dll.
  2. Taman bunga dan taman batu-air, sebagai daya tarik kawasan ampiteater dan restoran, juga ekosistem serangga pembantu petani (lebah dan berbagai serangga penghalau hama).
  3. Balong / kolam untuk penampungan air hujan, sumber air untuk merawat lansekap, juga suasana rekreatif.

Program ruang:

  1. Hutan: lindung, bambu, buah-buahan, bermain.
  2. Kolam retensi: balong, taman air+batu, kolam pengawetan bambu & kayu.
  3. Pengolahan limbah alami: lingkaran pohon pisang (utk kompos organik), biodigester, filterisasi air bekas pakai alami.
  4. Ruang pertunjukan (kapasitas sekitar 200 orang) & festival.
  5. Ampiteater (kapasitas 300-500 orang).
  6. Koridor jajajan & restoran.
  7. Toko oleh-oleh & tiket sebagai pintu masuk.
  8. Residensi seniman.
  9. Ruang komunitas budaya.
  10. Galeri kesenian, perabotan, alat pertanian.
  11. Mushola.