Kilau Cahaya di Pelosok Subang

Kau bukan intan atau permata yang indah
Kau juga bukan emas atau berlian yang mahal
Hanya sedikit kilau yang memancar
Cahayamu begitu terang sehingga gelap pun dapat kau kalahkan
Kurasakan cahayamu yang membuat gelap menjadi terang
Tak tahu apa yang terjadi jika kilau mu tak bersinar lagi
Akankah gelap dalam hidupku kembali??
Aku tak ingin dan tak bisa membayangkannya…

Penggalan puisi berjudul Kilau di atas dibacakan Memey, seorang siswi SMA untuk seorang guru yang juga berperan sebagai kakak sekaligus ibu baginya. Teh Dini, begitu Memey memanggilnya, ia adalah seorang pembimbing yang telah menunjukkan jalan hidup Memey menjadi lebih baik.

“Menurut saya teh Dini adalah “kilau”, sebelum mengenalnya saya seperti orang yang berjalan tapi tidak tahu jalan, ia seperti cahaya yang menerangi kemana saya harus pergi, menunjukkan apa yang harus saya lakukan untuk kehidupan saya, bahkan untuk semua orang,” kata Memey dengan mata berkaca-kaca.

Teh Dini, Bagi Anak Didiknya Ia Laksana Kilau Cahaya

Teh Dini, Bagi Anak Didiknya Ia Laksana Kilau Cahaya

Sebelum belajar kepada teh Dini, prestasi Memey di sekolah terbilang biasa saja. Namun, berkat motivasi dari teh Dini ia bahkan bisa meraih Nilai Ujian Nasional tertinggi ketika ia duduk di Sekolah Dasar. Menginjak bangku SMP dan kini SMA ia tidak pernah lepas dari 3 besar di sekolahnya.

Namanya Dini Puspiyanti, sudah 7 tahun ini ia mengabdikan dirinya mendidik anak-anak di sekitar rumahnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk Memey. Dahan’s Study Club (DSC) demikian nama kelompok belajar yang ia bentuk di daerah Kadalangan, Kecamatan Purwadadi.

Awalnya kelompok belajar ini adalah les bahasa Inggris, itupun setelah Memey dan beberapa kawannya memintanya untuk membuat tempat les. Kemudian tempat les bahasa Inggris tersebut berkembang menjadi bukan sekedar tempat kursus mata pelajaran sekolah, DSC kemudian berubah menjadi tempat “kursus kehidupan” bagi anak didiknya.

Nama Dahan sediri diambil dari salah satu tokoh dalam film Korea yang perannya pada film tersebut kemudian memberi motivasi tersediri bagi Dini.

“Itu sebenarnya akronim dari tokoh film Korea, Dayang Han,” kata Dini sambil sedikit tertawa.

“Tapi Dahan juga bisa diartikan tempat tumbuhnya daun, bunga dan buah. Saya berharap “bunga” itu kemudian akan menghasilkan “buah”, katanya.

DSC menempati sebuah bale-bale yang berdinding ram kawat, ada pula sebuah ruang belajar berukuran 2,5 x 3 meter yang merupakan bagian dari rumah warisan orang tua Dini.

Anak-anak menyebut tempat kami belajar “istana ilmu”, kata Dini.

“Kalau pun tempat ini seperti kandang, saya berharap isinya mutiara dan permata. Jika pun tempat ini diizinkan oleh Allah terus berkembang saya berharap mereka lah yang membangunnya,” ungkapnya.

"Istana Ilmu" Dahan's Study Club

“Istana Ilmu” Dahan’s Study Club

Awalnya Dini tidak mau terjun ke dunia pendidikan, sebelumnya Dini justru bercita-cita menjadi penulis dan ingin berkuliah di IKJ. Namun karena dorongan dari orangtuanya akhirnya ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Subang.

“Awalnya saya ga mau masuk di (bidang) pendidikan, saya kecewa melihat (oknum) pendidik yang tidak menempatkan diri sebagaimana mestinya, kekecewaaan itu pun sebenarnya karena kecintaan terhadap dunia pendidikan. Tapi ibu saya bilang bahwa kalau kamu ingin merubahnya, justru kamu harus maju,” kata Dini menirukan kata-kata ibunya.

Dini sebenarnya pernah mengajar di beberapa sekolah, namun ia selalu gelisah melihat institusi pendidikan yang terlalu berorientasi nilai akademis saja. Dalam pemikirannya, sitem pendidikan di sekolah formal yang terlalu mengedepankan nilai akademis tidak memberikan bekal yang cukup untuk kehidupan anak didik ke depannya.

Karena kegelisahannya terhadap dunia pendidikan itulah kemudian ia semakin mantap untuk keluar dari sekolah tempatnya mengajar dan hanya fokus pada pendidikan anak didiknya dengan caranya sendiri. Di DSC ia lebih mengutamakan pendidikan karakter dan pemberian motivasi untuk anak didiknya.

Menurut Dini, sebagai guru ia harus menjadi model terdekat bagi anak didiknya dengan menunjukkan hal terbaik yang ia miliki.

“Saya tidak pernah rewel, saya biarkan mereka tumbuh dengan cara mereka, tapi saya perlihatkan yang terbaik dari saya. Misalkan ketika anak-anak menginap di rumah, saya tidak pernah nyuruh mereka cuci piring, lama-lama anak berfikir dan spontan melakukan itu tanpa di minta. Hal seperti itulah yang saya harapkan,” ungkapnya.

Contoh lain, ketika ada anak kelas 2 SD yang tidak memiliki sarung untuk mengaji, lalu secara spontan dipimpin temannya yang juga baru kelas 6 SD mereka menyisihkan uang jajan mereka untuk dibelikan sarung. Demikian juga Memey yang dengan sukarela tidak mengambil beasiswa dari bimbingan belajar dengan alasan membantu orang tua berdagang.

“Kepekaan sosial seperti inilah yang saya harapkan tumbuh dari anak, ketika tumbuh rasa sayang kepada orang tua, hormat kepada guru dan mencintai temannya itulah yang membuat saya gembira dan menjadi tolak ukur keberhasilan pendidikan ” kata Dini.

Untuk lebih mendekatkan anak kepada orangtuanya, Dini juga pernah menyuruh anak didiknya untuk sungkem dan menyuapi kedua orang tua anak didiknya.

“Pernah saya menitikkan air mata, ketika ada anak didik saya yang memang fobia sama nasi, ketika itu memaksakan diri untuk makan sepiring nasi dihadapan orang tuanya, demi menunjukkan rasa hormatnya,” Dini bercerita.

Ruang Belajar Sederhana Dahan's Study Club

Ruang Belajar Sederhana Dahan’s Study Club

Rak Buku "Istana Ilmu"

Rak Buku “Istana Ilmu”

Selain pembentukan karakter, Dini juga tak henti membangun kepercayaan diri anak didiknya. Meskipun sebagian besar anak didiknya dari kalangan kurang mampu dan anak-anak broken home, Dini tak mau anak didiknya patah semangat.

Alhamdulillah, sekarang kepercayaan diri itu mulai tumbuh, sekarang mereka berani bercita-cita dan itu adalah modal bagi mereka untuk maju. Ada yang bilang ingin menjadi dokter biar bisa bangun RS Dahan, ada juga yang bilang ingin jadi dosen biar bisa bikin universitas Dahan,” kata dini menirukan anak-anak.

Dini juga bercerita tentang anak didiknya yang lemah secara akademis di sekolah, sehingga membuatnya menjadi tidak percaya diri. Beban psikis anak tersebut semakin bertambah ketika keluarga dan temannya telah men-judge-nya sebagai anak bodoh.

“Butuh 2,5 tahun untuk saya menumbuhkan kembali kepercayaan dirinya. Hingga akhirnya dengan lantang anak tersebut berkata : Neng akan kalahkan Lintang (anak paling pintar di Sekolah)!” kata Dini sambil mengepalkan tangan menirukan semangat anak didiknya.

“Sampai sekarang, anak inilah yang menjadi siswa terbaik DSC. Saya tidak menilai akademisnya, tapi lebih ke perubahan sikap,” kata Dini menambahkan. Menurut Dini, ketika karakter anak didiknya sudah terbentuk, maka secara otomatis itu akan mendorong prestasi akademisnya.

Di DSC Dini sengaja tidak menyiapkan fasilitas belajar. Ia ingin menanamkan sikap pejuang kepada anak didiknya, ia ingin agar mereka merasakan perjuangan mencari ilmu. Kata Dini, pertarungan hidup sesungguhnya itu bukan di bangku sekolah tetapi justru setelah di sekolah. Ia melihat banyak orang-orang yang berprestasi di sekolah justru kurang berhasil dalam kehidupannya.

“Seperti papan tulis itu, mereka yang berusaha mengumpulkan uang sendiri,” Dini menjelaskan.

“Kalau ada kegiatan seperti kemah misalnya, kami juga mencari dana sendiri dengan cara berjualan gambar yang kami buat misalnya,” kata Dini mencontohkan.

“Kemarin juga Memey menang lomba menulis puisi, hadiahnya kemudian kami pakai sebagai modal usaha kreditin barang, sekarang Alhamdulillah sudah berjalan,” jelas Dini.

Tak lupa dini juga selalu meminta anak didiknya untuk senantiasa berdoa kepada Tuhan agar cita-citanya terwujud. Anak didiknya selalu saling mengingatkan untuk melaksanakan shalat sunat, disamping shalat wajib.

“Shalat sunat hajat dan taubat sehabis Isya, sepertinya sudah menjadi makanan wajib bagi mereka, padahal mereka masih Sekolah Dasar” kata Dini.

“Salah satu hal yang kadang membuat saya menitikan air mata haru ketika ada anak didik saya SMS mengajak Tahajud; Teh hayu kita shalat, sujud kepada Allah,” kata Dini terharu.

Adik-adik di Istana Ilmu

Adik-adik di Istana Ilmu

Selain menggembleng pembentukan karakter dan motivasi, Dini juga sering kali mengajarkan anak didiknya keterampilan praktis di lapangan. Ia secara bergantian mengajak anak didiknya untuk mengunjungi Bank, Rumah Sakit bahkan Supermarket. Di Bank misalnya, ia menunjukkan kepada anak didiknya cara menabung atau menarik ATM. Di Supermarket ia ajarkan anak didiknya bagaimana cara berbelanja di sana. Dini juga harus jadi guide di Rumah Sakit dan menerangkan kepada anak-anak tentang fasilitas dan profesi apa saja yang ada di sana.

“Itulah, cara belajar kami memang berbeda,” katanya.

Cara belajar yang berbeda itulah yang terkadang diragukan oleh tetangganya atau rekan sesama pendidik. Tetapi Dini tidak menghiraukannya, ia hanya fokus mendidik anak asuhnya sambil perlahan membuktikan dengan prestasi yang dicapai anak didiknya. Segala cemoohan yang ia terima, hanya dianggap sebagai bagian dari perjuangan yang ia lakukan.

Menginjak usianya yang sudah 7 tahun, istana ilmu DSC tidak pernah mendapat bantuan dari pihak lain. Dini tidak ingin ada pihak yang memberi bantuan kepada DSC hanya karena kasihan.

“Walaupun nanti tempat ini akan menjadi besar, saya ingin anak-anak ini yang membesarkannya, Saya mau anak-anak berjuang tidak berharap orang lain memberi bantuan cuma-cuma. Kalaupun ada orang berhati mulia yang mau meberi bantuan saya berharap itu karena kami pantas dibantu dan karena anak didik kami berprestasi, karena itulah saya tidak berniat membentuk Yayasan,” ungkap Dini.

Saat ini ada sekitar 50 orang yang belajar di DSC. Sebenarnya Dini dan anak didiknya telah memutuskan untuk iuran Rp.20.000,- per bulan. Namun karena banyak dari kalangan kurang mampu, hal ini tidak berjalan lancar. Dini, tidak berkecil hati, menurutnya biarlah rizki Allah yang mengatur. Yang pasti ia hanya ingin menjalankan prinsip hidupnya, yaitu menjadi orang yang berguna bagi sesama.

Terima kasih untuk teh Dini dan adik-adik di “Istana Ilmu”, kalian semua menginspirasi…..

  • hendra hermawan

    semoga semua cita-cita di kabulkan allah SWT…aamiin…

  • Dani Afgani

    mmmmmm….
    harus di apresiasi…
    kita akan bantu..