Benarkah Nilai Historis Seni Sisingaan Subang Mulai Bergeser ?

Sisingaan

Sisingaan

Tiap menjelang malam, kurang nikmat rasanya kalau mata terlelap tidur tanpa diiringi oleh dongeng atau cerita dari nenek. Begitulah kenang masa kecil saya dalam asuhan nenek yang kala itu sudah berusia di atas 100 tahun. Lumayan panjang memang umur nenek, sampai tutup usianya kurang lebih genap di umur 122 tahun. Wafat di tahun 2004, berarti kurang lebih lahirnya tahun 1882.

Salah satu ceritanya yang sampai hari ini masih berbekas di ingatan saya adalah cerita tentang awal mula seni Sisingaan. Salah satu seni tradisional khas Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Nenek bercerita, bahwa dulu Subang (yang masih tergabung dengan Purwakarta) di era sebelum merdeka berada dibawah kekuasaan Ratu Alminah, belakangan saya mulai tahu bahwa yang dimaksud Ratu Alminah oleh nenek saya adalah ratu Wihelmina, yang tidak lain adalah pemimpin kerajaan Belanda dari tahun 1890 s/d 1948.

Meski berada dibawah jajahan Belanda, konon yang mengelola tanah-tanah perkebunan di Subang adalah perusahaan-perusaahan Englen (England ; Inggris, nenek saya tidak tahu Inggris, tahunya Englen). Dari situlah, seolah Subang berada dibawah kekuasaan dua negara. Kedua negara (Inggris dan Belanda) ternyata mempunyai simbol yang sama, yaitu Singa.

Entah tahun berapa seni Sisingaan lahir, nenek saya tidak menyebutkan dan saya pun saat itu tidak menanyakannya.

Pada seni Sisingaan, seekor boneka singa digotong oleh 4 orang seniman yang atraktif, oleh karena itu disebut juga seni Gotong Singa. Di atas boneka singa yang digotong itu biasanya seorang anak duduk dan digotong berkeliling kampung/ desa layaknya seorang raja. Sepintas mungkin biasa saja, tapi di sinilah simbol istimewanya.
Sisingaan

Ketika sisingaan digotong dengan seorang anak (kadang berdua) duduk di atasnya memberi arti :

Biarlah kami (orang tua) dijajah oleh “singa-singa” penjajah ini, kami berada di bawahnya, tapi kelak anak cucu kami harus berada di atas para penjajah ini

Ya, ketika singa-singa itu digotong di atas pundak para seniman, Sisingaan memberi gambaran pikulan jajahan yang dihadapi orang tua kita. Mereka dijadikan budak, cukong, buruh kasar, babu, dan lain sebagainya oleh para penjajah (pedih jendral !!!). Pesan sejarah sedikit manis ketika ada anak yang duduk di atas singa-singa tersebut. Ini memberi isyarat bahwa generasi Indonesia selanjutnya harus mampu berada diatas para penjajah.

Begitulah kurang lebih buah ingatan yang bisa saya simpulkan dari rangkaian cerita yang nenek tanamkan di pikiran saya.

Lalu bagaimana dengan seni Sisingaan sekarang ?

Setahu saya masih ada, masih lestari, bahkan menurut Wikipedia ada sekitar 200 grup keseniaan Sisingaan di Kabupaten Subang. Maklum kalau saya kurang tahu persis, karena sejak lulus SD saya melenggang ke Tangerang hingga hari ini. Tapi saya agak terkejut ketika menyaksikan Sisingaan sudah banyak perubahan dan dimodifikasi.

Salah satu modifikasi yang agak mengernyitkan dahi adalah perubahan wujud pada beberapa karakter singa menjadi karakter burung. Malahan ada yang mirip dengan karakter burung pada game Angry Bird. Dilematis memang, antara seni tradisional yang harus bertahan dan sisi hiburan yang harus tetap menarik.

Modifikasi di seni Sisingaan memang bukan sesuatu yang baru. Apalagi setiap perkembangan zaman menuntut kreativitas untuk melakukan penyesuaian. Misalnya adalah pengaplikasian seni sulap / debus di bagian akhir pertunjukan yang dulu sebetulnya tidak ada.

Kembali ke soal singa yang berubah menjadi seekor burung, apakah ini sebuah situasi yang mencerminkan pergeseran nilai historis dari seni Sisingaan ? Entahlah, saya sendiri belum bisa memastikan sekaligus kurang begitu mengetahui.

Burung (Garuda) adalah simbol bangsa kita, mudah-mudahan ini bukan berarti menjadi tanda saling jajah antar bangsa sendiri. Heheheee…

Saya optimis, bahwa selama nama keseniaannya “Sisingaan” atau “Gotong Singa”, berarti selama itu pula karakter binatang singa akan tetap ada pada seni Sisingaan, walau mungkin hanya 1 ekor.

Bagaimanapun, budaya lahir dari kreativitas manusia, sementara kehidupan manusia ada zamannya. Selama ada zaman-zaman itu pula manusia akan melahirkan budaya-budayanya sendiri, entah itu budaya yang benar-benar baru atau hasil dari modifikasi budaya yang sudah ada, atau bahkan hasil akulturasi dengan budaya lainnya.

Yang terpenting adalah saya dan Anda (khususnya masyarakat Subang dan Jawa Barat) merasa bangga dengan seni Sisingaan. Semoga seni Sisingaan tetap lestari tanpa mengabaikan aspek sejarahnya. Sejarah yang selalu mengingatkan kita betapa beratnya perjuangan orang tua kita dulu. Sekaligus juga mengingatkan bahwa kita adalah generasi harapan yang harus bisa mengangkat derajat bangsanya lebih tinggi dari bangsa lain, terutana yang pernah menjajah bangsa dan orang tua kita. (rosid.net)