Ruwatan Bumi Kampung Adat Banceuy, Subang

"Pintu Hek"  Gerbang Kampung Adat Banceuy

“Pintu Hek” Gerbang Kampung Adat Banceuy

Gembyung

Gembyung Yang Diikuti Pengusung Dewi Sri, Saung Sangar dan Dongdang

Hari ini Rabu, 30 Oktober 2013 suasana kampung Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater begitu meriah. Sejak pagi hari, bahkan sejak hari sebelumnya para tamu dan rombongan grup kesenian mulai berdatangan. Demikian juga para pedagang yang berjajar disepanjang jalan kampung. Hari ini di Kampung Banceuy digelar acara puncak upacara adat Ruwatan Bumi.

Acara inti ruwatan bumi adalah helaran ngarak panganten Dewi Sri. Simbol Dewi Sri dibuat menggunakan ikatan padi yang dipakaikan baju layaknya sepasang pengantin. Selain Simbol Dewi Sri dalam helaran juga turut diarak saung sangar, berupa empat ikatan padi yang diusung. Turut pula penabuh gembyung, kuda kosong (kuda yang tidak ditunggangi) dan beberapa dongdang (usungan bambu yang dihias hasil bumi).

Doa Sebelum Helaran Ngarak Dewi Sri

Doa Sebelum Helaran Ngarak Dewi Sri

Dewi Sri dan Saung Sangar

Dewi Sri dan Saung Sangar

Menurut Odang, pemuda adat setempat, beberapa hal tersebut harus selalu ada dalam setiap helaran. Apabila ada salah satu yang tidak diarak maka dikhawatirkan akan terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa kampung Banceuy.

“Pernah beberapa tahun lalu, panitia ruwatan kesulitan menyiapkan kuda kosong, pada hari itu juga di Banceuy terjadi semacam puting beliung yang merusak panggung tempat acara berlangsung,” katanya.

Selain hal tersebut diatas helaran juga dimeriahkan berbagai kesenian lain seperti tari-tarian yang di bawakan oleh anak-anak Banceuy, Sisingaan dan kesenian tradisional lainnya. Setelah diawali dengan doa, upacara ngarak dewi Sri dilakukan dengan berkeliling kampung. Rute yang dilalui melewati 3 makam leluhur yang sangat dihormati, di setiap makam yang dilalui abah Karman, juru kunci adat, berdoa di depan makam para leluhur.

Ritual Nyawer Dewi Sri

Ritual Nyawer Dewi Sri

Ritual Ijab Rosul

Ritual Ijab Rosul

Setelah diarak keliling kampung, kemudian dilakukan upacara nyawer Dewi Sri. Abah Karman kembali berdoa di depan simbol Dewi Sri kemudian memercikan air dan menaburkan beras. Rangkaian upacara kemudian diakhiri dengan ritual Ijab Rosul, yaitu berupa doa penutup seluruh rangkaian acara ruwatan yang sudah dimulai dari hari sebelumnya.

Ada yang istimewa dalam upacara Ruwatan Bumi kali ini, untuk pertama kalinya, pejabat setingkat wakil Gubernur turut menghadiri acara tersebut. Dalam sambutannya wagub sangat mengapresiasi acara tersebut karena mencerminkan semangat melestarikan nilai-nilai dan kearifan lokal masyarakat Jawa Barat.

“Saya tekankan kita harus semangat menjaga nilai–nilai adat warisan leluhur kita, leluhur kita belajar menjaga keseimbangan alam sehingga mampu memakmurkan rakyat,” katanya.

Wagub juga memuji sifat ketotongroyongan warga Banceuy yang mampu menggelar acara ruwatan setiap tahun hanya dengan iuran bersama.

“Masih ada sikap kebersamaan dan gotong royong di sini, yang sulit kita temui di kota-kota, ini harus tetap dijaga bukan hanya seremonial tahunan, tapi bagaimana menerapkan nilai kebersamaan tersebut sehari-hari, tambahnya.

Sebagai apresiasi terhadap masyarakat Banceuy, Wagub berjanji akan mengirim beberapa ekor domba yang ditujukan untuk keperluan adat.

“Kalau di sini ada budaya beternak domba, nanti Insya Allah saya kirim beberapa puluh ekor domba untuk diternakkan di sini, mudah-mudahan persediaan di Dinas Peternakan masih ada,” kata Deddy disambut tepuk tangan warga Banceuy.

Wakil Gubernur juga berharap event adat Banceuy ini lebih dipromosikan lagi sehingga bisa menjadi agenda wisata budaya yang semakin banyak dikunjungi.

Wakil Gubernur Jawa Barat Menaiki Sisingaan

Wakil Gubernur Jawa Barat Menaiki Sisingaan