Kampung Adat Banceuy, Subang Gelar Upacara Adat Ruwatan Bumi

Selasa, 29 Oktober 2013 semua warga kampung adat Banceuy, Desa Wangun Harja, Ciater tengah bersiap. Hari ini dan besok, sebagian besar warga kampung yang mayoritas bekerja sebagai petani untuk sementara meninggalkan aktivitasnya di ladang. 2 hari ini adalah saat istimewa bagi mereka, setiap menjelang tahun baru Islam warga kampung Banceuy menyelenggarakan upacara adat yang di sebut Ruwatan Bumi.

Puncak upacara adat ini biasanya digelar setiap hari rabu terakhir menjelang 1 Muharam. Menurut Odang (35), salah satu tokoh adat di kampung Banceuy hari rabu merupakan hari yang dianggap baik oleh warga kampung tersebut.

“Inilah yang membedakan ruwatan di Banceuy dan kampung lain, warga kampung sini tak bisa sembarangan memilih hari untuk menggelar acara ruwatan, harus hari rabu,” ungkapnya.

Bapak-bapak Membuat Sawen / Hiasan Janur Kuning

Bapak-bapak Membuat Sawen / Hiasan Janur Kuning

Gerbang Kampung Adat Banceuy Dihias Janur (29/10/2013)

Gerbang Kampung Adat Banceuy Dihias Janur (29/10/2013)

Menurut warga Banceuy, digelarnya acara ini merupakan ungkapan rasa syukur atas semua berkah yang mereka nikmati dari hasil bumi. Di kampung Banceuy, Upacara adat ini diperkiran sudah digelar sejak tahun 1800-an dan selalu dilaksanakan setiap tahun.

Sejak dari pagi ibu-ibu telah bersiap menyiapkan berbagai masakan di sebuah dapur umum di belakang balai musyawarah kampung. Demikian juga bapak-bapaknya mereka bersama-sama menghias kampung dengan janur kuning atau yang mereka sebut nyawen. Tepat di depan pintu masuk kampung, sebagian pemuda membuat sebuah gapura yang dihias janur kuning, mereka menyebutnya pintu hek.
Sementara itu Bapak-bapak yang lain bersiap memotong seekor kerbau yang kemudian dimasak oleh ibu-ibu untuk dihidangkan kepada para tamu yang datang. Di sudut balai musyawarah, Abah Karman (53) sesepuh adat Banceuy telah melakukan suatu ritual untuk memulai rangkaian acara .

Tak ketinggalan anak-anak kecil mereka telah berlatih untuk menampilkan pertunjukkan seni pada hari puncak upacara adat. Anak-anak SD di Banceuy telah terbiasa dengan turut berpartisipasi dalam setiap upacara adat yang digelar di sana. Bahkan setiap ada upacara adat seperti ruwatan sekolah di liburkan.

Menurut Odang, sangat penting untuk mengenalkan seni budaya sendiri sejak kecil dan mengajak mereka berpartisipasi dalam sebuah acara adat.

“Selain untuk melatih kepercayaandiri, hal ini juga akan menanamkan kebanggaan tersendiri sebagai orang Banceuy. Kelak mereka akan lebih mencintai budaya sendiri.” Ungkapnya.

Menjelang malam biasanya kampung Banceuy menjadi ramai oleh para tamu yang berdatangan. Mereka sengaja datang dari berbagai daerah termasuk Bandung dan Jakarta untuk menyaksikan berbagai kesenian buhun seperti tarawangsa, celempung dan gembyung yang digelar hingga dini hari. Sebagian dari mereka biasanya juga ada yang menginap dirumah-rumah warga untuk menyaksikan upacara puncak yang digelar keesokan paginya.

Abah Karman, Sesepuh Kampung Banceuy Memulai Ritual Ngaruwat (29/10/2013)

Abah Karman, Sesepuh Kampung Banceuy Memulai Ritual Ngaruwat (29/10/2013)

Ibu-ibu Kampung Banceuy Menyiapkan Hidangan Untuk Para Tamu

Ibu-ibu Kampung Banceuy Menyiapkan Hidangan Untuk Para Tamu

Acara puncak dari upacara adat ini adalah ngarak Dewi Sri, yaitu berupa acara helaran yang menampilkan berbagi kesenian, termasuk penampilan seni dari anak-anak dan Sisingaan. Biasanya anak-anak kurang mampu di kampung ini naik Sisingaan pada acara ruwatan ini.

“Kalo pas acara ini biaya naik Sisingaan kan lebih murah. Warga tinggal membayar tukang gotong singanya saja, Jadi lebih murah ga usah hajatan segala,” kata Odang.

Selain upacara adat ruwatan ini, di kampung Banceuy juga sering di adakan ritual lainnya, meskipun tak semeriah ruwatan. Hampir semua kegiatan di kampung ini terutama yang berhubungan dengan pertanian harus melalui ritual tersendiri.

“Meskipun di sini rumahnya sudah cukup modern tapi kami selalu memengang teguh adat leluhur, makanya dijuluki kampung 1001 adat,” kata seorang warga.