Ikan-ikan Asli Sungai di Subang Terancam Punah

KOTASUBANG.com, Subang – Ikan native atau ikan asli sungai-sungai di Subang kini semakin terancam keberadaannya. Kian hari, beberapa jenis ikan-ikan asli ini semakin sulit ditemukan.

Sebut saja lika yang termasuk ikan purba ataupun kancra yang kini sudah jarang ditemui di sungai besar di Subang seperti sungai Cipunagara. Demikian juga dengan ikan-ikan lainnya seperti Hampal, Lalawak, Turub Hawu,Tagih, Genggehek, Hike, Kehkel, Paray, Jeler, Sengal, Berod, Arelot, Tawes, Lubang, Lele, Nilem, Bogo dan Beunteur yang sebagian sudah jarang di dapatkan pemancing. (Baca Juga : Ikan Lika, Monster Penghuni Sungai Cipunagara)

Menurut Daming Agus, pegiat Komunitas Konservasi Ikan Native Subang (Lintarmania) ada beberapa hal yang menyebabkan banyak ikan air tawar asli tersebut semakin sulit ditemui atau di dapatkan para pemancing. Diantaranya adalah over fishing atau pengambilan ikan yang berlebihan dengan metode yang salah seperti dengan cara menyetrum dan menggunakan obat atau racun bukan di pancing, atau menggunakan alat-alat tradisional lainnya. Masalah lainnnya adalah pencemaran sungai yang semakin parah.

“Tahun 80an awal muncul teknologi setrum ikan. Masyarakat memilih alat tersebut karena lebih mudah daripada alat-alat tangkap ikan  tradisional. Selain itu juga karena hadirnya ikan introduksi asing, meskipun tidak setiap ikan asing itu kanibal (memangsa ikan lain),” katanya.

Menurutnya, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian ikan lokal adalah dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk membuat aturan lokal dalam upaya konservasi atau membuat peraturan desa atau daerah setempat terkait pelarangan menangkap ikan dengan metoda yang salah tersebut.

“Satu satunya cara, minimal upaya desa di wilayah tersebut mengeluarkan Perdes lingkungan hidup. Agar masyarakat desa tersebut yang menjaganya,” tegasnya.

Peneliti Iktiologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) menyebutkan introduksi ikan asing invasif menjadi titik awal sumber penyebab penting kerusakan keanekargaman hayati di Indonesia, di antaranya ikan red devil dan nila.

“Introduksi ikan asing invasif menjadi titik awal berkurangnya ikan endemis asli perairan Indonesia. Sumber penyebab penting kerusakan keanekaragaman hayati,” kata Haryono, seorang Peneliti Iktiologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) dikutip dari Kompas.com.

Menurut peneliti LIPI lainnya Gema Wahyu Dewantoro awalnya, salah satu tujuan mendatangkan ikan-ikan bukan asli Indonesia adalah untuk memperbanyak jenis ikan budi daya yang unggul, diantaranya ikan mas, mujair, sepat siam, dan bawal air tawar. Ada pula yang didatangkan dengan tujuan khusus, di antaranya ikan dari suku Poecillidae, yaitu lebistes dan guppy sebagai ikan pemakan jentik nyamuk dan ada pula yang hanya sebagai hiasan, seperti ikan arwana brasil, mas koki, plary, dan oscar.

Masalah yang lebih ekstrem ialah adanya kecenderungan para penghobi memelihara ikan buas, seperti alligator dan piranha. Padahal kedua jenis ikan tersebut apabila terlepas ke perairan umum sangat mengancam keberadaan jenis-jenis ikan lokal sehingga disebut sebagai ikan invasif.

Melihat kondisi ini, warga sekitar sungai Cipunagara membentuk Komunitas Konservasi Ikan Native Subang (Lintarmania) yang sejak tahun 2004 telah melakukan penelusuran sungai untuk pendataan jenis-jenis ikan native yang masih bisa ditemui. Sungai-sungai yang menjadi obyeknya adalah sungai Cipunagara dengan anak sungainya, sungai Ciasem dengan anak sungainya, sungai Cilamaya dan Citarum (Tarum Timur).

“Subang punya 3 ruas sungai besar yaitu Cipunagara, Ciasem dan Cilamaya. Dari 3 sungai tersebut memiliki spesies ikan yang jadi pembeda masing-masing. Artinya hanya ada di sungai tersebut dan tidak di sungai lainnya di Subang. Cipunagara misalnya punya lika (Bagarius Yarelli), Ciasem punya hike (Tor Soro) dan Cilamaya punya badar (Tor douroensis) sama-sama kelas Mahseer,” jelasnya.

Daming Agus mengatakan penulusuran yang dilakukannya tersebut setidaknya dapat mendokumentasikan ikan-ikan asli Sungai di Subang yang masih ada saat ini. Dirinya juga berharap adanya kepedulian dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan terancamnya keanekaragaman hayati Kabupaten Subang.