Sempat Zona Biru, Subang Kembali Masuk ke Zona Kuning Penyebaran Covid-19

KOTASUBANG.com, Subang – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar Ridwan Kamil melaporkan level kewaspadaan hasil kajian gugus tugas provinsi, Jum’at (3/7/20). Hasilnya, pada periode ke VI (11-24 Juni 2020) Kabupaten Subang yang asalnya zona biru, kini kembali masuk ke zona kuning bersama 7 daerah lainnya di Jawa Barat. Hal tersebut disampaikan saat melaksanakan zoom meeting evaluasi tingkat kewaspadaan dalam kerangka PSBB Jawa Barat dengan seluruh kepala daerah se-Jawa Barat.

Berdasarkan data dari Divisi Perencanaan, Riset, dan Epidemiologi GTPP COVID-19 Jabar delapan daerah adalah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Pangandaran, Kota Cimahi, Kota Cirebon dan Kabupaten Subang.

Sementara pada periode tersebut ada satu daerah yang masuk zona hijau, yakni Kota Sukabumi. Sedangkan, daerah yang tetap berada di zona biru adalah Kabupaten Cianjur, Kuningan, Majalengka, Purwakarta, Sumedang, Tasikmalaya, Kota Banjar dan Kota Tasikmalaya. Sementara daerah dari zona kuning ke zona biru, yaitu Kabupaten Sukabumi dan Kota Bandung.

Sehingga, terdapat 1 daerah Zona Hijau (level 1), 10 daerah Zona Biru (level 2), dan 16 daerah Zona Kuning (Level 3).

Bupati Subang H. Ruhimat didampingi Wakil Bupati Subang Agus Masykur, Kajari Subang, Kadinkes,  Kasatpoldam, perwakilan dari kepolisian dan perwakilan BPBD hadir  mengikuti zoom meeting evaluasi tingkat kewaspadaan dalam kerangka PSBB Jawa Barat tersebut di ruang rapat rumah dinas Bupati Subang.

Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar memberi rapor kinerja gugus tugas kabupaten/kota dalam penanganan COVID-19. Tujuannya memotivasi gugus tugas kabupaten/kota untuk meningkatkan kinerja.

Menurut Kang Emil, kinerja gugus tugas kabupaten/kota amat krusial dalam penanganan COVID-19. Pun demikian dengan koordinasi gugus tugas kabupaten/kota dengan provinsi.

“Kami melakukan rapor pada kabupaten/kota soal kinerja gugus tugas. Jadi, jangan hanya dilihat berapa kasus positifnya, naik turunnya ODP-PDP, dan sebagainya, tapi juga kinerja tim karena kami ingin jadi provinsi yang sangat kompak, baik gugus tugas provinsi maupun kabupaten/kota,” kata Kang Emil.

Terdapat enam kriteria yang menjadi indikator penilaian rapor kinerja, yakni aspek pencegahan, deteksi, manajemen fasilitas kesehatan dan pemakaman, jaring pengaman sosial, operasi lapangan dan penegakan aturan, serta tata kelola dan kelembagaan.

Adapun penilaian awal di masing-masing kriteria menghasilkan tiga besar gugus tugas kabupaten/kota dengan nilai tertinggi, antara lain:

  1. Aspek Pencegahan: (1) Kota Bandung, (2) Kota Sukabumi, (3) Kabupaten Bogor,
  2. Aspek Deteksi: (1) Kota Bandung, (2) Kota Bekasi, (3) Kabupaten Bogor,
  3. Manajemen fasilitas kesehatan dan pemakaman: (1) Kota Bogor, (2) Kota Bekasi, (3) Kabupaten Sumedang
  4. Jaring Pengaman Sosial: (1) Kabupaten Sumedang, (2) Kota Depok, (3) Kota Sukabumi
  5. Operasi lapangan dan penegakan aturan: (1) Kota Bandung, (2) Kota Bogor, (3) Kota Tasikmalaya
  6. Tata kelola dan kelembagaan: (1) Kabupaten Bogor, (2) Kota Bandung, (3) Kota Bekasi

Kang Emil mengatakan, pihaknya masih mengevaluasi hasil rapor. Saat ini, gugus tugas Jabar memberikan tiga kategori hasil rapor, yaitu kinerja tinggi, kinerja sedang, dan kinerja rendah.

“Lain-lain sedang kami evaluasi. Kami bikin tiga kategori, kinerja tinggi, sedang, rendah. Mayoritas belum masuk kategori tinggi,” ucapnya.