Tangkuban Parahu Menuju Normal Kembali

Kawah Ratu Tangkuban Parahu, Subang

Kawah Ratu Tangkuban Parahu, Subang

Pejabat Pelaksana Bidang Penyelidikan dan Pengamatan Gunung Api dari Pusat Vukanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, Gede Suantika mengungkapkan, postur Gunung Tangkuban Parahu sempat menunjukkan tanda deflasi pada beberapa hari ke belakang. “Itu menandakan ada tekanan dari bawah. Sudah dua hari ini turun lagi,” kata dia di ruang kerjanya di Bandung, Jumat, 18 Oktober 2013.

Gede mengatakan, lembaganya melakukan pengukuran deformasi dengan menggunakan peratalan untuk mengukur jarak dari puncak gunung itu menuju ke daerah lereng di seputaran daerah Ciater, Subang. Jika jaraknya memendek, postur tubuh gunung sedang menggelembung. “Kalau memendek, terjadi deformasi. Mengkerut.”

Menurut dia, dari hasil pengukuran deformasi, Gunung Tangkuban Parahu kemungkinan tengah menuju kondisi kestabilan lagi. “Kalau deformasinya deflasi, terjadi penurunan. Seolah menuju kestabilan,” ujar Gede. “Mudah-mudahan ini proses ke kestabilan normal.”

Kendati demikian, parameter lainnya yang menjadi indikator aktivitas Gunung Tangkuban Parahu yang statusnya dipatok level II atau waspada itu masih fluktuatif. Di antaranya aktivitas gempa berupa tremor atau gempa menerus masih terjadi dalam durasi enam jam dalam seharinya.

Gede mengatakan, tremor yang dihasilkan Gunung Tangkuban Parahu saat ini dengan durasinya enam jam terus-menerus dalam sehari, namun amplitudonya cenderung menurun. Tremor yang ditangkap peralatan pengamat aktivitas kegempaan gunung menandakan terjadinya aliran fluida gas menuju permukaan kawah.

Tremor yang terekam hari ini dalam durasi enam jam terus-menerus mencatatkan amplitudo dominan 5 milimeter. Gede mengatakan, besar amplitudo cenderung turun dibandingkan beberapa hari ke belakang. “Pernah mencapai 8 milimeter pada tiga hari lalu. Sekarang sudah turun,” kata dia.

Pengukuran gas berbahaya masih ada yang berada di atas ambang batas. Pengukuran terakhir yang dilakukan PVMBG menunjukkan konsentrasi gas SO2 di wilayah pelataran Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu mencapai maksimal 6,6 ppm. “Yang mana ambang batasnya untuk SO2 itu 2 ppm,” kata Gede.

Sementara pengukuran konsentrasi gas berbahaya lainnya, yakni H2S, menunjukkan angkanya sudah turun di bawah ambang batas yang dibolehkan bagi kesehatan manusia. Pengukuran hari ini konsentrasi maksimal gas H2S mencapai 3 ppm, di bawah ambang batas, yakni 10 ppm. (Tempo)