Bekas Galian C Gunung Sari Pagaden, Disulap Jadi Danau Asri

Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

SEKITAR enam tahun lalu, warga di Kampung Babakan Mindi, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang, mendemo sebuah perusahaan tambang galian C, hingga perusahaan itu tutup dan menghentikan operasinya.

Bekas galian itu pun telantar. Kewajiban perusahaan tersebut untuk mereklamasi lokasi lahan diabaikan. Dua lokasi galian hanya menyisakan lubang dengan diameter 25 meter dengan kedalaman 14 meter serta galian lain di lokasi yang sama berdiameter 30 meter dengan kedalaman 22 meter. Keduanya menjadi danau yang ditumbuhi eceng gondok. Ular dan biawak menjadi penghuni danau tersebut. Bahkan lokasi bekas galian itu pun disebut-sebut angker.

Yogi Suprayogi (48) nekat mengubah satu lubang galian C menjadi danau tempat ternak ikan mas dan ikan nila. Bermodalkan nekat dan ketidaknyamanannya atas bekas lokasi galian, ia pun merombak total salah satu galian tersebut menjadi danau. Setelah bersih, rupanya, di danau ini banyak ikan bertebaran.

“Luas danau bekas galian C ini dua hektare. Saya beranikan diri untuk membersihkannya dengan membayar orang. Semuanya, membersihkan ini, bermodal Rp 12 juta,” kata Yogi kepada Tribun, Senin (22/4).

Setelah danau bersih dari eceng gondok, ia pun mulai membangun peternakan ikan mas sendirian dengan modal Rp 6 juta. “Panen pertama ikan mas, saya dapat Rp 9 juta. Setelah saya panen pertama, barulah orang lain mulai ternak ikan di sini. Bahkan, ternak ikannya sudah ada yang dibeli sama Balai Benih,” ujarnya.

Lahan bekas galian C ini bukan lahan miliknya, melainkan lahan milik Pemkab Subang. Hanya setelah aktivitas galian C ini berhenti, lahan ini tidak berfungsi. “Ya, kalau pemerintah mau ambil kembali, saya enggak masalah. Silakan saja, saya enggak akan marah. Kan bukan lahan saya, saya hanya membantu agar lingkungan ini jadi asri,” katanya.

Setelah bersih, danau bekas galian ini tidak hanya dijadikan lahan untuk peternakan ikan. Airnya juga bisa dimanfaatkan untuk pengairan. “Ya alhamdulillah, airnya bisa bermanfaat buat yang lain,” ujarnya.

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLHD) Kabupaten Subang Aminudin mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mendata secara pasti angka bekas galian C yang tidak direklamasi. “Data pastinya saya belum tahu. Tapi, yang pasti, pada rapat sebelumnya, bekas galian C di Subang banyak yang belum direklamasi. Jumlahnya saya lupa lagi,” katanya.

Secara aturan, sebuah perusahaan tambang galian C, sedari awal, sudah harus mereklamasi lahan galian jika berhenti beroperasi. “Harusnya mengganti lahan galian seperti semula. Kalau sudah direklamasi sama warga, kami mengapresiasi,” ujarnya. (Tribun)