Wow ! Indahnya Alun-alun Subang Tempo Dulu

Hamparan rumput hijau yang menjadi Alun-alun Subang saat ini

KOTASUBANG.com, Subang – Setiap kota pasti akan memiliki sebuah Alun-alun sebagai tempat berkumpulnya masyarakat kota. Demikian juga dengan kota Subang, memiliki alun-alun yang tentunya menjadi saksi dalam perjalanan sejarah Kabupaten Subang.

Alun-alun Subang berupa hamparan rumput yang luas berada diantara mesjid Agung, Kantor Bupati dan Tugu Benteng Pancasila. Hamparan rumput yang luas ini masih dipertahankan dari jaman kolonial hingga kini. Berbeda dengan Alun-alun daerah lain yang telah berganti menjadi rumput sintetis atau paving block. (baca juga : Zaman Kolonial Pusat Kota Subang Tampak Lebih Asri)

Alun-alun Subang dari udara sekitar tahun 1928

Keberadaan hamparan rumput yang luas ini memang sebaiknya dipertahankan karena memiliki nilai sejarah tersendiri. Pada zaman Pamanoekan en Tjiasem Landen (P n T Land), alun-alun Subang merupakan halaman rumah kediaman “penguasa” Subang ketika itu, kemungkinan sejak zaman tuan Hofland. Di halaman rumah tersebut dihiasi berbagai ornamen seperti patung dan pot-pot bunga bernilai seni tinggi sehingga tampak asri.

Hamparan rumput yang luas ini juga merupakan tempat latihan Golf dimana Subang merupakan satu dari sedikit daerah yang memiliki lapangan Golf. Stick dan perelengkapan Golf peninggalan zaman kolonial ini dapat di lihat di museum Subang.

Representatives (Big House) di sebelah utara Alun-alun Subang
Tampak Big House dilihat dari sebelah barat, kemungkinan sejajar dengan jalan kecil dari arah Bah Dongdo
Sebuah gedung yang dihancurkan pada tahun 1947 di pusat kota Subang. Kemungkinan gedung Representative (Big House) yang berlokasi di utara Alun-alun Subang sebelum dihancurkan

Rumah kediaman tuan Hofland tersebut berada di sebelah utara alun-alun menghadap ke pegunungan Subang selatan. Sepeningalnya Hofland, sebagai bentuk penghargaan patungnya pernah diletakan di halaman gedung ini. Sayang gedung yang di sebut Representatives atau Big House ini di hancurkan pada masa agresi militer Belanda pertama tahun 1947. (baca juga : Sejarah Penetapan 5 April Sebagai Hari Lahir Kabupaten Subang)

Dalam sejarahnya, pada tahun 1922 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. D Fock pernah mengunjungi Pamanoekan en Tjiasem Landen dan disambut di rumah ini sebelum mengunjungi berbagai lokasi termasuk pabrik perkebunan di wilayah P n T Land ketika itu. Saat itu P n T Land dipimpin oleh tuan Hammond.

Sebelah selatan alun-alun ketika itu merupakan atelir atau pusat perbengkelan dan nama atelir masih digunakan hingga saat ini. Dari sana lah rel lori bermula kemudian melintasi Alun-alun ke utara melewati jalur pantura hingga kemudian ke Purwadadi sejauh sekitar 70 km.

Rapat akbar di Alun-alun Subang tahun 1957

Sementara di sisi barat dan timur Alun-alun ketika itu rumah-rumah Belanda. Sayang saat ini hanya tersisa beberapa, satu di sebelah selatan gedung juang, satu lagi yang saat ini digunakan sebagai rumah dinas Sekretaris Daerah Subang. Di sebelah utara Masjid Agung masih tersisa bekas gedung Enginer atau gedung teknik pada masa itu yang sekarang digunakan sebagai kantor Polisi Pamong Praja.

Pada tahun 1957 Alun-alun Subang juga menjadi saksi sejarah dimana Presiden pertama RI Soekarno juga pernah berkunjung ke Subang dan menyelenggarakan rapat akbar yang dihadiri ribuan orang. (baca juga : Ketika Presiden Soekarno Rapat Akbar di Subang)