Dedi Mulyadi, Alumni IPB Asal Subang, Ditunjuk FAO Kembangkan Padi Organik di Perbatasan Negara

Dedi Mulyadi (berkemeja biru) bersama kelompok tani di Kalimantan Barat

KOTASUBANG.com, Subang – Kiprah Dedi Mulyadi mengembangkan pertanian organik di desanya, Pringkasap, kecamatan Pabuaran diam-diam dipantau organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa yang mengurus pangan dan pertanian dunia FAO (Food and Agriculture Organization). Alumni IPB University ini secara khusus diundang wawancara oleh FAO untuk menjadi tenaga ahli pengembangan padi organik. Tak melalui proses yang lama, Dedi kemudian ditunjuk FAO untuk menjadi konsultan nasional project pengembangan padi organik di daerah perbatasan negara. (baca juga : Kiprah Petani Muda Alumni IPB Kembangkan Desa Organik di Subang)

Beberapa bulan ini, Dedi harus bolak balik Subang – Sanggau, Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia untuk membagi ilmunya dengan para petani di sana.

“Ada 3 wilayah yang menjadi tempat pengembangan padi organik di sana, yaitu Entikong, Sekayam dan Kembayan dengan luas tanam sekitar 104 hektare,” ungkap Dedi.

Di sana Dedi berbagi ilmu pertanian organik kepada para kelompok tani, baik warga lokal maupun para transmigran yang berada di sana.

“Wilayah perbatasan ini dipilih berkaitan dengan program pemerintah untuk percepatan pembangunan daerah-daerah perbatasan negara. Dan agar nantinya hasil produksi pertanian ini bisa langsung di ekspor ke negara tetangga,” ungkapnya.

Untuk proyek pengembangan padi organik ini Dedi harus bolak-balik ke sana hingga beberapa tahun ke depan untuk memastikan proyek ini berjalan.

Sebelum ditugaskan FAO untuk mengembangkan padi organik di wilayah perbatasan, Dedi juga pernah diminta untuk berbagi ilmunya oleh banyak pihak dari berbagai wilayah di Indonesia, diantaranya dari pemerintah provinsi Kalimantan Tengah.

“Di Kalimantan Tengah saya diminta untuk berbagi ilmu kepada 5 kelompok tani di Kabupaten Kota Waringin Timur, ungkap pria yang juga lulusan SMKN 2 Subang ini.

Dedi Mulyadi tengah memberikan penjelasan kepada pengusaha Jepang terkait tanaman sayur organik

Kiprahnya dalam pengembangan padi organik dimulai tahun 2012 lalu setelah dirinya lulus dari IPB University. Petani muda ini merintis pengembangan padi organik di kampungnya sendiri kampung Bugel, desa Pringkasap, Pabuaran. Beras organik yang diproduksinya diberi merek Pringkasap sesuai nama desanya. Dedi juga memproduksi pupuk organik dengan merek DeKa.

Seorang pengusaha Jepang juga tertarik dengan apa yang dilakukan Dedi. Pengusaha yang bergerak dalam bidang pangan organik ini kerap mengunjungi desa Pringkasap bekerjasama dengan Dedi untuk pengembangan pertanian dan peternakan organik. (baca juga : Pengusaha Jepang Tertarik Pertanian Organik di desa Pringkasap)

Dirinya juga kerap menerima kunjungan dari kelompok tani maupun dinas terkait dari berbagai wilayah di Indonesia yang ingin belajar pengembangan padi organik.