Sisingaan dan Mamanukan

KOTASUBANG.com, Subang – Foto-foto kuno dalam album koleksi media daring Wereldculturen Belanda mungkin  bisa menggambarkan bagaimana Sisingaan kemudian kini kembali bertransformasi menjadi bentuk lainnya seperti mamanukan, kemudian berkembang lagi menjadi nanagaan hingga kemudian menjadi bentuk-bentuk aneh “siluman” yang mulai terjadi medio tahun 2000an yang berawal dari daerah pantura.  (baca juga : Foto-foto Kuno Ini Mungkin Menunjukkan Asal Usul Sisingaan)

Dalam 2 buah foto yang berjudul sedekah bumi tersebut, tergambar bagaimana warga pribumi Subang ketika itu memeriahkan acara sedekah bumi sebagai syukuran panen raya dengan membuat seni usungan berbentuk aneka ragam hewan.

Hal ini seakan menggambarkan bagaimana dahulu mungkin Sisingaan tercipta dari inspirasi atau hasil proses perubahan bentuk yang dulu beraneka ragam bentuk hewan menjadi hanya satu bentuk Sisingaan, yang kemudian pada perkembangannya bermunculan bentuk lainnya.

Apakah seni mamanukan, nanagaan dan bentuk siluman itu bisa mengancam eksistensi atau kelestarian Sisingaan?

Hal ini tentunya tergantung masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri. Jika masyarakat menyukainya, bisa saja kemudian menggeser eksistensi Sisingaan seperti halnya dulu Sisingaan yang mungkin menggantikan seni usungan replika berbagai hewan tadi. Namun, kehadirannya tidak perlu dipandang negatif, kesenian ini bisa dianggap kesenian baru yang terinspirasi dari Sisingaan yang memperkaya khasanah seni budaya kabupaten Subang. Atau mungkin justru bisa dianggap kesenian lama yang kini hidup kembali.

Mengenai eksistensi Sisingaan tentunya tergantung pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Kesenian ini sudah menjadi kesenian khas Kabupaten Subang bahkan sudah tercatat sebagai warisan budaya tak benda asal Jawa Barat oleh Dirjen Kebudayaan,  kementerian pendidikan dan kebudayaan. Dengan demikian tentunya kesenian ini harus tetap dijaga kelestariannya. Misalnya dengan konsisten menggelar festival Sisingaan setiap tahun dan mengenalkan kesenian ini sejak dini dengan menjadi muatan lokal di sekolah.

Alangkah baiknya jika kemudian Pemerintah Kabupaten Subang kembali menyelenggarakan semacam saresehan atau kajian mengenai kesenian Sisingaan dan perkembangannya yang menginspirasi kesenian lainnya. Para seniman dan budayawan mungkin perlu juga duduk bersama terkait perkembangan seni mamanukan atau nanagaan ini termasuk membahas tampilan pertunjukan kesenian ini.