Pungli 9,64 Milyar dari CPNS Pemkab Subang, KPK Tetapkan HTS Sebagai Tersangka

KOTASUBANG.com, Subang – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta mantan Kepala Bidang Pengadaan dan Pengembangan Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Subang, Heri Tantan Sumaryana sebagai tersangka. Penetapan tersangka ini merupakan hasil pengembangan yang diduga gratifikasi terhadap pejabat di Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Subang.

Kasus ini merupakan pengembangan dari kasus suap, gratifikasi, dan pencucian uang yang menjerat Ojang pada tahun 2016. Ojang sudah divonis 8 tahun penjara atas perbuatannya.
Juru bicara KPK, Febri Diansyah, gratifikasi yang diterima Heri itu diduga merupakan hasil memeras para calon pegawai negeri sipil (CPNS).
“Bahwa seluruh penerimaan uang oleh tersangka HTS (Heri) bersama-sama dengan Ojang Suhandi (selaku) Bupati Subang tidak pernah dilaporkan ke Direktorat Gratifikasi KPK dalam waktu paling lambat 30 hari kerja, sebagaimana diatur dalam Pasal 12 huruf C UU No. 30 Tahun 2001” ujar Febri dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (9/10).
Febri merinci pemerasan itu terkait tiga hal:
  • Pungutan dalam pengangkatan CPNS daerah dari tenaga honorer kategori II yang masa tes dan verifikasinya dimulai bulan Februari 2014 hingga Februari 2015.
  • Pungutan sejak April 2015 dari pegawai honorer dengan iming-iming akan menjadi CPNS daerah dari pegawai honorer kategori II dalam rekrutmen yang dibuka pada bulan April 2016.
  • Pungutan terkait seleksi CPNS di BKD Kabupaten Subang dengan cara mencari pungutan dari CPNS kategori II yang belum lulus.
Dari total gratifikasi sebanyak Rp 9,6 miliar itu, sebesar Rp 1,65 miliar di antaranya mengalir ke Ojang.
“Diduga sebagian dari uang yang diterima, digunakan untuk kepentingan tersangka HTS (Heri). Uang yang diberikan tersangka HTS pada Ojang Sohandi hanya Rp 1,65 miliar melalui ajudan Bupati Subang saat itu. Dan sebagian (uang) digunakan (Heri) untuk pembelian aset 2 bidang tanah di Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler senilai Rp 2,44 miliar,” jelas Febri. (Kumparan)