Ribuan Hektare Sawah di Subang Terancam Beralih Fungsi

sagalaherang subang sawah

Sawaah di Sagalaherang

Ribuan hektare areal persawahan teknis yang berada di wilayah Pantai Utara (Pantura) Subang, Jawa Barat, terancam hilang karena diincar untuk dialihfungsikan menjadi kawasan industri maupun perumahan.

“Ancaman alih fungsi lahan itu sudah semakin nyata,” kata Kepala Bidang Sumber Daya Dinas Pertanian Kabupaten Subang Hendrawan kepada Tempo, Kamis, 3 Oktober 2013.

Menurut Hendrawan, lokasi yang jadi incaran para investor berada di wilayah Kecamatan Pusakanagara, Pusakajaya, Legon Kulon dan Pamanukan. Luasnya sekitar 16 ribu hektare.

Calon investor maupun para calo tanah berlomba-lomba membujuk para pemilik sawah. Lahan mereka tergolong kurang produktif, terutama pada musim tanam gadu di musim kemarau panjang. Lahan persawahan tersebut selama ini selalu kekurangan pasokan air dari saluran induk Tarum Timur.

Tanaman padi di daerah tersebut selalu mengalami puso. Bahkan, ada yang tidak bisa diolah. Akibatnya, para petani mengalami kerugian Rp 475,2 miliar per musim panen, dengan asumsi 16 ribu hektare X 6,6 ton (rata-rata produksi gabah kering panen per hektare) X Rp 4.500 (harga GKP per kilo gram).

Hendrawan menjelaskan, untuk menyelamatkan areal persawahan teknis tersebut agar tidak dialihfungsikan, maka pemerintah pusat harus segera membangun sodetan di Sungai Cipunagara, sebagai sumber pengairan.

Pemerintah Kabupaten Subang maupun para petani di daerah tersebut, kata Hendrawan, sudah lama mengusulkannya kepada pemerintah pusat, khususnya kepada Kementerian Pekerjaan Umum. “Biayanya diperkirakan sekitar Rp 16 miliar.

Kepala Bidang Pengairan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Subang, Ismail, menjelaskan pihaknya sedang memproses pengajuan proyek pembangunan sudetan di sungai Cipunagara.

“Proposalnya sedang kami proses. Dalam waktu dekat segera disampaikan ke pihak Balai Besar Wilayah Singai (Citarum) untuk kemudian dibahas di Kementerian PU,” ujar Ismail.

Salah seorang petani di Desa Kebon Danas Kecamatan Pusakajaya, Nandang, mengaku sudah beberapa kali didatangi para calo tanah. Dia diminta segera melepas sawahnya. “Kami masih mempertahankan sawah kami dengan harapan agar sodetan Sungai Cipunagara segera dibangun,” ucapnya.

Namun, menurut Nandang, para petani terpaksa menjual sawahnya jika hingga tahun depan pembangunan sodetan Sungai Cipunagara tidak kunjung terealisasi. (Tempo)