Pohon Raksasa Baobab Ikon Konservasi Subang

3 Pohon Raksasa Baobab Berjajar Di Depan Kantor Desa Manyingsal, Cipunagara, Subang (29/9/2013)

3 Pohon Raksasa Baobab Berjajar Di Depan Kantor Desa Manyingsal, Cipunagara, Subang (29/9/2013)

Ki Tambleg atau di Afrika disebut dengan Baobab, sebelum tahun 2010 masyarakat Subang kurang begitu peduli tentang keberadaannya. Baru pada medio 2010 ketika 10 pohon raksasa ini mulai dipindahkan dari habitatnya di Subang ke Jakarta masyarakat mulai sadar kalau pohon yang selama ini ada disekitar mereka tersebut ternyata pohon istimewa.

Adalah rektor Universitas Indonesia, Prof Dr der Soz Gumilar Rusliwa Somantri yang memiliki proyek ambisius memindahkan 10  pohon baobab dari Subang ke kampus Universitas Indonesia untuk tujuan konservasi. Hingga akhirnya Mei 2011 ke sepuluh pohon raksasa yang berasal dari Subang tersebut berhasil dipindahkan ke Jakarta. Kesepuluh pohon tersebut berasal dari lahan kantor regional 1 PT Sang Hyang Seri Sukamandi, Kecamatan Ciasem, dan dari lokasi kebun tebu PT PG Rajawali II di Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunagara, Subang.

Belakangan diketahui ternyata tujuan konservasi yang digadang-gadang rektor UI tersebut menuai kontroversi dari beberapa pecinta lingkungan hidup dan dari kalangan UI sendiri. Mereka menganggap tidak logis dengan alasan konservasi memindahkan pohon raksasa sedangkan dihabitatnya sendiri pohon tersebut tumbuh subur dan memiliki makna sejarah.

Sejak pemindahan ke UI tersebut semakin banyak pihak yang menghendaki pemindahan pohon Baobab dari Subang dan semakin banyak pula pihak yang sadar akan keberadaan pohon langka ini di sekitar Subang.

Pemkab Subang melalui Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) telah menyatakan bahwa ki Tambleg merupakan ikon konservasi Kabupaten Subang. Hal ini ditandai dengan ditanamnya Pohon Baobab tepat di depan Wisma Karya yang juga merupakan ikon kota Subang pada 4 Nopember 2011 yang lalu.

baobab subang

Baobab Ditanam di Depan Wisma Karya Subang pada 4 Nopember 2011

Bentuknya yang eksotis dan ukurannya yang fantastis membuat pohon ini banyak yang menginginkannya.  Hingga saat ini masih saja ada pihak yang ingin memindahkan pohon langka ini dari Subang. Kasus yang terakhir adalah rencana pemindahan Baobab dari lahan perkebunan tebu Kampung Rosedansari, Desa Tanjungsari, Kecamatan Cikaum (18/9/2013). Pohon Baobab ini rencananya akan ditanam di Jakarta dan akan dibeli seharga Rp.60 juta. Ketika penggalian dilakukan pohon ini sudah dipanjar Rp. 15 juta melalui Kepala Desanya, Surlan. Namun karena desakan berbagai pihak termasuk sebagian warga desa akhirnya upaya pemindahan tersebut berhasil digagalkan dan Surlan telah mengembalikan uang panjarnya.

Pemkab Subang melalui Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Subang, Drs. H. Aminudin, M.Si memastikan tidak akan ada lagi penjualan atau pun pemindahan pohon tersebut ke luar Subang. Jika pun ada pihak yang ingin menanamnya pihaknya telah menyediakan bibit tanaman langka tersebut.

Ki Tambleg atau Baobab Tumbuh Baik di Manyingsal, Subang

Ki Tambleg atau Baobab Tumbuh Baik di Manyingsal, Subang

Pohon Baobab di Depan Kantor Desa Manyingsal ,Subang

Pohon Baobab di Depan Kantor Desa Manyingsal ,Subang

Saat ini disekitar Subang masih terdapat sekitar 14 Pohon Baobab yang tersebar di daerah perkebunan seperti Ciasem, Purwadadi dan Cipunagara. Belum di ketahui secara pasti sejak kapan pohon-pohon raksasa ini ditanam di Subang. Sebagian orang berpendapat keberadaan Baobab di Subang pertama kali dibawa oleh penjajah Portugis dengan tujuan untuk menyelamatkan deposit air. Ada pula yang meyakini Baobab ditanam ketika P n T Lands mulai membuka perkebunan – perkebunan di Subang. Inilah yang menyebabkan baobab memiliki nilai historis, sama halnya dengan gedung-gedung tua peninggalan masa kolonial di Subang, sehingga keberadaanya perlu dilestarikan.

Selain nanas saat ini Subang memiliki ikon lain, yaitu pohon raksasa Baobab. Mari kita bersama lestarikan!