Anak-anak Manyingsal Subang, Ngamen “Mamanukan” Sepulang Sekolah

Atraksi Seni Mamanukan Anak-anak Manyingsal

Atraksi Seni Mamanukan Anak-anak Manyingsal

Waktu menunjukkan tepat pukul 14.00 WIB. Siang itu (29/9/2013) cuaca terik menyengat di perempatan Desa Manyingsal, sebuah desa yang terletak di tengah perkebunan tebu di Kecamatan Cipunagara, Subang. Panasnya cuaca pantura siang itu semakin tak nyaman karena debu beterbangan dibawa truk-truk pengangkut tebu yang melintas di jalan desa tersebut.

Sayup-sayup dari jalan di tengah kebun tebu yang berdebu itu terdengar alunan musik tarling pantura. Semakin lama alunan musik tersebut semakin dekat hingga akhirnya sumber musik tersebut tiba diperempatan jalan desa yang menjadi “ibukotanya” desa Manyingsal. Begitu tiba, sumber alunan musik tersebut mengundang warga yang kebetulan berada disekitar sana untuk mendekat.

Kontan saja warga langsung berkumpul, karena ternyata yang alunan musik tersebut berasal dari rombongan anak-anak kecil yang mengusung “mamanukan” berkeliling kampung. Mamanukan tergolong seni baru di Kabupaten Subang yang merupakan pengembangan dari seni Sisingaan yang merupakan seni tradisi Subang yang lebih dahulu lahir.

Sudah satu bulan ini Lukman, bocah kelas 5 SD di Manyingsal punya aktivitas baru setiap sore. Hampir setiap hari sehabis sekolah agama ia bersama teman-teman lainnya langsung berkumpul dirumahnya. Seperangkat soundsystem lengkap dengan pemutar CD dan sebuah generator kecil kemudian mereka persiapkan. Tak lupa sebagian dari mereka memakai kostum layaknya seniman Sisingaan sebenarnya. Semua perlengkapan ini dipersiapkan oleh Ayahnya Lukman, yang juga berperan sebagai pelatih anak-anak ini.

Setelah semuanya siap, anak-anak yang menamakan diri mereka Grup Putri Lodaya ini langsung “ngamen” berjalan keliling kampung di sekitar Desa Manyingsal. Tak ada rasa terpaksa atas aktivitas yang mereka lakukan, bagi mereka kegiatan ngamen ini sama dengan bermain bagi mereka.

“Kita baru keliling kalo udah selesai sekolah, terus biasanya juga ngaji dulu” ungkap Lukman membuka obrolan.

Seperti sudah terbiasa mereka mempunyai tugas masing – masing, ada yang bertugas sebagai pembawa soundsystem, ada yang bertugas menjadi tukang sulap dan beberapa orang lainnya bergantian sebagai pengusung mamanukan.

Atraksi Sulap Sederhana Anka-anak Manyingsal

Atraksi Sulap Sederhana Anka-anak Manyingsal

 

Atraksi mereka baru akan dimulai ketika ada warga yang meminta. Biasanya akan dimulai dengan menari diiringi alunan musik tarling atau dangdut. Warga boleh “request” meminta lagu apa yang diinginkannya.

Setelah menari, biasanya akan dilanjutkan dengan atraksi sulap sederhana. Seorang anak yang telah ditutup matanya diikat dengan tali rafia kemudian “disembunyikan” di dalam kain. Di dalam kain tersebut, si anak berusaha melepaskan tali ikatannya sendiri. Begitu kainnya dibuka gelak tawa penonton pun pecah, ternyata sang anak bukan saja membuka tali ikatan tapi juga telah berdandan seperti badut.

Biasanya dalam setiap aksinya anak-anak ini dibayar Rp.2000,- hingga Rp.5000,-. Tak jarang ada juga warga yang meminta anak balitanya untuk naik mamanukan yang diusung. Untuk ini biasanya warga memberikan uang lebih untuk mereka. Setiap hari biasanya anak – anak ini bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp.20.000,- hingga Rp.50.000,-. Hanya sebagian kecilnya saja mereka gunakan untuk uang jajan, sebagian besar uang yang diperoleh saat ini mereka kumpulkan untuk kemudian dibelikan perlengkapan yang belum terbeli.

“Kita mau beli Sisingaan, jadi uangnya dikumpulkan dulu” kata Lukman.

Ternyata tidak semua warga setuju dengan aktivitas anak-anak ini, ada sebagian warga yang mengkhawatirkan apa yang dilakukan mereka.

“Takut aja mereka nanti malah jadi pada males belajar” kata seorang warga yang menyaksikan.

Namun sebagian warga yang lain justru menganggap kegiatan yang mereka lakukan positif. Mereka menganggap aktivitas anak-anak ini lebih baik dari pada kecanduan permainan modern yang kurang bermanfaat seperti play station.

Semoga saja anak-anak ini benar-benar menjadi seniman penurus seni tradisi Subang dikemudian hari.

Selalu Ceria, Anak-anak Menganggap Kegitan Ini Seperti Bermain

Selalu Ceria, Anak-anak Menganggap Kegiatan Ini Seperti Bermain