Road to REAF 2019, dari Ranggawulung Menuju Event Tingkat Dunia

KOTASUBANG.com, Subang – Masalah kerusakan lingkungan di Kabupaten Subang sudah mencapai taraf yang mengkhwatirkan. Alih fungsi lahan yang tak terkendali, ilegal logging, sampah,  hingga ditemukannya bangkai macan kumbang yang di dalam tubuhnya terdapat puluhan sandal jepit terungkap dalam sebuah diskusi yang digelar menuju Ranggawulung Eco Art Festival (REAF) 2019 di hutan kota Ranggawulung, Sabtu (20/4/2019). HAdir pada kesempatan tersebut para pegiat lingkungan, seni budaya, berbagai komunitas dan ormas Pemuda Pancasila dan SAPMA Pemuda Pancasila.

REAF adalah bentuk kepedulian bersama pegiat seni budaya, pegiat lingkungan dan berbagai komunitas terhadap lingkungan Kabupaten Subang saat ini.

Pegiat seni Ayi G Sasmita mengatakan, seniman memiliki kekhawatiran melihat kondisi lingkungan Subang saat ini. Dan kesenian, kata Ayi, adalah salah satu bahasa efektif bagaimana menyuarakan lingkungan.

“Melalui REAF ini seniman memliliki imajinasi event yang sifatnya mendunia bukan hanya lokal, karena isu hutan, isu lingkungan harus menjadi isu bersama peradaban manusia. Apalagi indonesia adalah paru-paru dunia, ujarnya.

Dan Ranggawulung, kata Ayi harus menjadi pusat pelestarian atau konservasi lingkungan di kota Subang, karenanya event ini digaungkan di hutan kota warisan leluhur Subang.

Pegiat lingkungan sekaligus ketua REAF 2019 Atang menambahkan, masalah lingkungan bukan hanya tanggung jawab aktivis lingkungan namun merupakan tanggungjawab semua pihak.

“Mudah-mudahan REAF jadi niat lurus kita untuk menjaga alam dan lingkungan Subang,” katanya.

Budayawan Subang Abah Dasep menyambut baik adanya gerakan generasi muda yang peduli lingkungan sekaligus budaya. Praktisi seni budaya dan lingkungan kata Dasep harus bersatu bersama karena lingkungan erat kaitannya dengan budaya.

“Tak akan ada seni budaya jika tidak ada lingkungan, yang memberi warna seni budaya adalah lingkungan yang tentunya berbeda satu sama lain. Jikalau rusak lingkungannya, maka akan hancur budayanya dan bejad moral bangsanya,” ucapnya.

Dan keberadaan hutan kota Ranggawulung kata Dasep, harus dijaga kelestariannya, jangan dialih fungsikan jadi apapun.

Sementara itu aktivis lingkungan, Iis Rochaeti, juga mengungkapkan apresiasinya atas digelarnya pertemuan persiapan REAF tersebut.

“Terimakasih kepada semua pihak terutama generasi muda yang sudah sama-sama peduli terhadap lingkungan. Selama masih bisa mari kita bersama-sama, tak perlu menunggu pemerintah untuk mulai beraksi memperbaiki kerusakan lingkungan,” katanya.

Sekretaris Pemuda Pancasila, Yan Suryanata pada kesempatan tersebut mengatakan, pada puncak REAF 2019 harus bisa menghasilkan langkah-langkah strategis untuk kemudian ditindaklanjuti

“Di puncak REAF harus ada rekomendasi-rekomendasi. Kita rumuskan bersama kemudian deklarasikan dan sosialisasikan kepada elemen lain kemudian kita perjuangkan dan sampaikan bersama-sama kepada pemerintah atau langsung kita tindaklanjuti yang bisa dilakukan,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut muncul usulan untuk mendorong Perda Kawasan Lindung agar tak semakin tergerus oleh alih fungsi lahan dan pembangunan kawasan hutan percontohan. Kemudian usulan untuk mewajibkan setiap calon pengantin untuk menyumbangkan bibit pohon dan mendorong adanya pendidikan lingkungan di sekolah.

Pada acara Mitembeyan atau Road to REAF 2019 tersebut juga diisi dengan penanaman pohon bersama dan penampilan seni. Puncak acara REAF 2019 akan digelar 27 April mendatang di Hutan Kota Ranggawulung, diisi dengan penanaman pohon kembali dan atraksi seni budaya. Rangkaian acara akan digelar dari siang hingga malam hari.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here