Seeng Tanjungsiang, Bertahan Ditengah Gempuran Zaman

Yayan Suryana menunjukan seeng Sabilulungan produksinya di kampung Tanjung, Desa/Kecamatan Tanjungsiang (27/10/2018)

KOTASUBANG.com, Subang – SEENG atau dandang, banyak orang mengangap alat memasak tradisonal ini sudah dilupakan ditengah gempuran alat masak modern. Namun ternyata, hingga kini seeng masih masih banyak memiliki pengguna setia. Hal itu seperti diungkapkan Yayan Suryana, produsen seeng Tanjungsiang dengan merek Sabilulungan.

“Kalau ada yang beranggapan seeng itu sudah musnah, itu salah besar. Saya tidak ada masalah dalam pemasaran, permintaan masyarakat terhadap seeng selalu ada, justru saya sering kurang barang (seeng),” katanya.

Hingga saat ini masyarakat kampung Tanjung, kecamatan Tanjungsiang masih banyak yang menjadi pengrajin seeng. Kata Yayan, ada puluhan orang yang menggeluti usaha dibidang seeng.

“Alhamdullialh mereka terus bersabar bekerja, produksi seeng dari kampung Tanjung bisa mencapai ratusan perminggu. Hal ini tentunya bisa membantu pemerintah dalam mengurani angka pengangguran,” ujar Yayan.

Yayan sendiri mulai menggeluti usaha pembuatan seeng sejak tahun 2000an. Awalnya dirinya menjadi kuli di tempat pembuatan seeng milik orang lain.

“Saya mulai belajar membuat seeng sejak tahun 2000. Dimulai dari kuli sampai 2003 sepulang sekolah. Lewat tahun 2003 saya ingin punya usaha sendiri, kemudian saya mencoba pekerjaan lain termasuk memasarkan seeng sambil mengumpulkan modal. Hingga kemudian tahun 2012 baru terlaksana,  saya punya tempat produksi seeng sendiri meskipun kecil kecilan. Alhmadulilah terus berkembang dan disyukuri,  dari pekerja satu orang kini ada 5 orang,” terangnya.

Dalam hal pemasaran seeng, Yayan menggunaan 2 macam cara.  Pertama dia menyebutnya cara konservatif yaitu dengan keliling menawarkan produknya secara langsung ke toko-toko. Bahkan sebelumnya dia juga keliling ke kampung-kampung. Kini dirinya sudah punya pelanggan di Cianjur, Sukabumi, Bogor, Indramayu, Karawang Purwakarta dan Banten.

“Dan yang kedua saya coba pemasaran secara online. Saya coba pasarkan di media sosial. Awalnya tidak ada respon. Tapi lama kelamaan dengan sabar, Alhamdulillah kini makin banyak yang tahu. Saya sudah mengirim seeng hingga ke Surabaya bahkan Aceh,” jelas Yayan.

Daerah Tanjungsiang memang sejak lama dikenal sebagai sentra pembuatan seeng. Konon banyaknya pengrajin seeng di Tanjungsiang terkait dengan peristiwa Bandung Lautan Api 23 Maret 1946. Saat itu terjadi eksodus besar-besaran warga Bandung keluar daerah termasuk ke Subang.

Warga yang mengungsi ke daerah Subang diantaranya berasal dari daerah Cileunyi. Mereka mengungsi ke daerah Tanjung Siang. Mata pencaharian sebagian warga yang mengungsi ke daerah Tanjungsiang tersebut adalah pengrajin seeng. Usai perang kemerdekaan tak semua warga pengungsi tersebut pulang ke daerahnya, sebagian malah menetap di Tanjungsiang dan meneruskan kehidupan di daerah baru tersebut dengan mata pencaharian membuat seeng. (Baca juga : Antara Tugu Seeng Tanjungsiang dan Bandung Lautan Api )

Berita Terkait: