Kopi Hofland, dari Subang Hingga ke Jepang

KOTASUBANG.com, Subang Hofland. Sebuah nama yang melegenda di tanah Subang. Bagaimana tidak, pada abad ke-19 hampir seluruh tanah partikelir yang meliputi wilayah Subang saat ini adalah miliknya. Merupakan tanah perusahaan perkebunan yang bernama Pamanoekan en Tjiasem Landen (PnT Land).

PnT Land merupakan perusahaan perkebunan ternama, berbagai jenis komoditas di hasilkan perusahaan ini, seperti karet, teh, kina, sisal hingga kopi. Sebelum menguasai PnT Land, PW Hofland memang sudah dikenal sebagai saudagar kopi, hingga berhasil membuat kontrak perdagangan dengan pemerintah Hindia Belanda dan menguasai PnT Land. Karena kebesarannya, sepeninggal tuan Hofland kemudian dibuatkan sebuah patung berbentuk dirinya. Patung tersebut kini di simpan di museum wisma karya. Nama besar Hofland tersebut kini dijadikan merek kopi khas Subang.

“Kopi Hofland dibawah naungan koperasi Gunung Luhur Berkah yang berdiri sejak 2017 lalu. Diberi merek kopi Hofland sebagai bentuk apresiasi terhadap tuan Hofland yang dulu menanam kopi di tanah Subang. Dalam budidaya kopi di Subang dia tidak melakukan kekerasan tapi mengajak masyarakat untuk bermitra dan akhirnya disejahterakan. Itu cerita masyarakat sekitar perkebunan,” kata Miftahudin, owner kopi Hofland.

Kini kopi Hofland mulai banyak permintaan dari luar daerah seperti Bandung, Jogja Semarang, Bogor, Bekasi dan Jakarta. Bahkan kopi Hofland sudah dilirik buyer dari Jepang.

“Bulan lalu kopi Hofland mewakili Jawa Barat untuk mengikuti festival specialty coffee di Jepang bersama dengan perwakilan dari Toraja, Mandailing, Gayo dan Bali. Pameran ini diikuti 20 negara dan sudah 8 kali dilaksanakan di sana, dan tahun ini Jawa Barat di wakili oleh kopi Subang. Alhamdullillah dari sana kita dapat buyer, 16 ton ekspor ke Jepang. Bulan November ini rencananya buyer tersebut akan mengunjungi kebun kami,” katanya.

Pada kesempatan tersebut Miftahudin juga membawa kopi yang diproduksi dengan proses wine yaitu biji kopi difermentasi selama 1 bulan. Kopi tersebut tak mengandung alkohol tapi cuma aromanya saja. Menurut Miftahudin, animo masyarakat Jepang terhadap kopi jenis ini sangat baik. Banyak juga buyer yang memesan kopi wine meski dalam jumlah kecil.

Kopi di Subang kata Miftahudin, sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Dahulu yang banyak dibudidayakan adalah kopi robusta, pada ketinggian 500-700 mdpl. Kopi arabika baru dibudidayakan kembali 5 tahun terkahir di daerah Cupunagara dan Ciater yang memiliki ketinggian 1000 mdpl. Kopi Arabika memang harus ditanam di atas 1000 mdpl agar cita rasanya berkualias. Selain itu pada ketinggian tersebut tantangan budidaya kopi, seperti hama jauh lebih sedikit.

“Kopi Subang Insya Allah akan semakin masif ditanam masyarakat. Kini banyak petani yang menanam khsusus bukan lagi sebagai tanaman sela atau pagar. Sekarang produksi kopi robusta di Subang sekitar 200 ton pertahun, sedangkan arabika baru 12 ton. Kedepan produksi kopi akan semakin meningkat karena Alhamdulillah dapat bantuan dari dinas pertanian kabupaten Subang dan propinsi, diantaranya bibit. Dengan bibit tersebut kedepan diprediksi kita dapat hasilkan diatas 50 ton arabika,” kata Miftahudin.

Kedepan permintaan kopi pasti akan tinggi. Kata dia, petani jangan khawatir over supply sebab permintaan domestik meningkat dan internasional kita masih defisit untuk mengirim barang. Miftahudin berharap petani dapat terus meningkatkan kualitas kopi sehingga diapresiasi buyer internasional dan meningkatkan harga yang pada akhirnya mensejahterakan petani kopi itu sendiri.

Berita Terkait: