Membuka Kisah Bukanagara (Bagian 3)

Suara musik celempung samar-samar tedengar ditengah perkebunan teh Bukanagara siang itu. Semakin lama, suaranya semakin jelas ketika kami mendekati situs keramat Cipabeasan yang letaknya diantara perkebunan teh dan tebing bukit Kertamanah. Kesenian celempung tersebut seolah menyambut kami yang baru pertama kali mengunjungi tempat tersebut. Alunan musiknya menambah syahdu suasana siang itu yang sejuk dan tenang di ujung kebun teh di pinggir hutan.

Setelah beberapa lama menikmati alunan musik celempung, barulah kami tahu maksud para seniman tersebut menggelar tabuhannya di tempat tersebut. Mereka sengaja datang ke situs keramat tersebut untuk melaksanakan nazarnya. Dahulu mereka pernah berjanji akan menabuh celempung ditempat ini jika grup celempung mereka telah banyak dikenal orang.

Situs Cipabeasan di Lembah Bukit Kertamanah

Situs Cipabeasan di Lembah Bukit Kertamanah

Kesenian Celempung

Kesenian Celempung

Ternyata bukan hanya para seniman saja yang datang berziarah ke situs Cipabeasan. Mulai dari orang yang terlilit hutang, orang yang ingin kaya  sampai yang ingin naik jabatan banyak yang meminta berkah di tempat ini. Bahkan banyak juga dari mereka berasal dari luar daerah, seperti Bandung dan Jakarta.

Di situs Cipabeasan ini terdapat makom dan sebuah situ / danau yang sangat dikeramatkan. Menurut juru kuncinya, dilokasi tersebut terdapat makom seorang penyebar Islam di sana yaitu Eyang Mangkunegara tepat di sisi situ Cipabeasan. Sebuah pohon tua berusia ratusan tahun dengan akar yang berjuntai menaungi makam keramat tersebut.

Makam Eyang Mangkunegaran, Bukanagara

Makam Eyang Mangkunegara, Bukanagara

 

Danau Cipabeasan luasnya sekitar 1 hektar. Hampir seluruh bagian danau ini ditumbuhi pohon Bayongbong, sehingga kita tidak bisa melihat dengan jelas bentuk danau tersebut. Menurut seorang warga, danau tersebut sebenarnya terlihat berbentuk seperti gentong / tempat beras jika di lihat dari atas.

Menurut Ibu Enes (70) salah satu juru kunci ditempat itu, kunjungan ke situs Cipabeasan mencapai puncaknya pada tanggal 14 Maulud.  Pada tanggal tersebut biasanya digelar acara kesenian seperti jaipongan di tempat tersebut. Kemudian para pengunjung akan mandi di situ Cipabeasan. Pada waktu yang tidak tentu air di situ Cipabesan akan berubah menjadi berwarna putih seperti air beras, karena itu tempat ini disebut Cipabeasan (Air beras). Air situ berwarna putih ini dipercaya ampuh dan bisa mengabulkan permintaan.

Citu Cipabeasan, Bukanagara, Subang

Citu Cipabeasan, Bukanagara, Subang

Ibu Enes menuturkan bahwa ia hanya merupakan salah satu dari 27 orang kuncen yang terdapat di sekitar Bukanagara. Di sekitar Bukanagara sendiri terdapat beberapa situs yang di keramatkan. Ia sendiri merupakan generasi ketiga yang mendapat mandat dari ayahnya untuk meneruskan menjadi juru kunci di daerah tersebut.

Selain di malam 14 Maulud tersebut, hampir setiap hari selalu ada yang mengunjungi situs tersebut. Mereka biasanya mandi di situ dan bermalam di sekitar makom keramat. Menurut warga sekitar apabila seseorang berhasil bersemedi dan melihat penampakan seperti ikan mas di situ tersebut, maka hajatnya akan tercapai.

Pohon Bayongbong Menutupi Hampir Seluruh Situ Cipabeasan

Pohon Bayongbong Menutupi Hampir Seluruh Situ Cipabeasan

Masyarakat sekitar juga sangat mengkeramatkan makom tersebut, meskipun mereka tidak pernah bersemedi seperti yang dilakukan para pendatang, situs Cipabeasan begitu berperan dalam setiap sendi kehidupan mereka. Ketika musim tanam tiba misalnya, mereka akan mengambil beberapa batang pohon bayongbong untuk di tanam di setiap sudut pematang sawah mereka. Mereka meyakini hal itu akan membuat tanaman padi mereka tumbuh dengan baik. Menurut ibu Enes, jika pohon bayongbong yang ada di danau berbunga dengan baik, maka hasil panen juga akan berlimpah. Warga sekitar menyakini, pohon bayongbong adalah cikal bakal tanaman padi yang ada saat ini.

Bukan itu saja, Enes mengatakan, setiap pembangunan yang dilakukan di Bukanagara dan sekitarnya, harus meminta “izin” ke makam keramat ini. Dari mulai pendirian sekolah, pembangunan turbin PLTMH hingga pendirian tower telepon selular, semua harus melaksanakan ritual di situs Cipabeasan.

Ibu Enes, Juru Kunci Situs Cipabeasan

Ibu Enes, Juru Kunci Situs Cipabeasan

Bertahun – tahun menjadi juru kunci di Cipabeasan Ibu Enes ternyata punya harapan. Ia berharap para tokoh yang telah ditolongnya mau memberikan imbal baliknya ke daerah Bukanagara atas tahta dan kuasa yang mereka peroleh setelah “meminta” di sini. Infrastuktur menjadi salah satu yang diharapkannya.

“Emak ge rek menta satahap-satahap kanu ngajabat jeung nu geus jareneng kusabab “menta” didieu, titah ngawangun ka ieu daerah” (Ibu juga mau minta bertahap kepada para tokoh yang sudah “meminta” di sini, untuk membangun daerah ini) pungkasnya.

Cibitung, Kampung Terakhir Perbatasan Subang - Bandung Barat

Cibitung, Kampung Terakhir Perbatasan Subang – Bandung Barat

Waktu semakin sore saatnya kami pulang kembali ke rumah, jika tidak segera kembali kami khawatir akan melewati hutan di malam hari. Kali ini kami mencoba meneruskan perjalanan pulang melalui jalur Lembang, Bandung. Jarak antara Bukanagara – Lembang dengan Bukanagara – Kasomalang titik awal kami ternyata hampir sama. Kami harus melewati jalan yang rusak parah dan becek dibeberapa bagiannya. Hanya saja di jalur Bukanagara – Lembang kami tidak melalui hutan yang terlalu lebat seperti jalur sebelumnya.

Sekitar 7 km dari Bukanagara kami melalui kampung Cibitung, kampung inilah yang menjadi tapal batas terakhir kabupaten Subang, berbatasan langsung dengan Bandung Barat. Setelah berkendara sekitar 2 jam akhirnya kami tiba di tapal batas wilayah Subang dan Bandung Barat. Perbatasan itu letaknya di puncak sebuah hutan pinus dan hanya ditandai dengan sebuah tugu sederhana. Dari sana kami masih harus menempuh 1 jam perjalanan sebelum akhirnya tiba di kota Subang.

Tugu Tapal Batas Subang - Bandung

Tugu Tapal Batas Subang – Bandung