Pegiat Budaya Subang Gelar Diskusi Quo vadis Pembangunan Kebudayaan Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Para pegiat budaya di Kabupaten Subang menggelar diskusi budaya; Quo vadis Pembangunan Kebudayaan Subang. Diskusi yang terselenggara atas inisiasi komunitas Lika 04 dan ormas Pemuda Pancasila tersebut diselenggarakan di kediaman pegiat budaya pantura Ayi G. Sasmita, Sabtu (18/8/2018).

Banyak hal yang dibahas dalam diskusi tersebut, terutama terkait kondisi kebudayaan di Subang kekinian.

“Berfikir, berbuat, bersikap,  tiga kata itu yang saya dapatkan dari Diskusi tadi malam (18/8/2018), bersama para Seniman dan Pelaku Seni dan Penggiat Kebudayaan Subang yang datang dari Wilayah Pantura, Selatan dan Puseur Dayeuh(tengah). Banyak Isue yang dimunculkan dan kesemuanya mengerucup pada Kedaulatan Kebudayaan Subang, yang akan dan tengah digerogoti oleh banyaknya pembangunan yang kurang “Terkontrol” analisis dampaknya,” kata pegiat budaya Ayi G. Sasmita.

Dengan banyaknya issue yang muncul dalam forum tersebut dirinya yakin para peserta yang hadir akan mulai “Melek” dengan kondisi yang sedang terjadi di Subang terutama tentang Kesenian dan Kebudayaan.

“Ada beberapa  isu yang sangan menarik bagi saya adalah pertama tentang SDM para penggiat Seni dan Budaya di Subang Juga cukup  mempuni , hal itu tergambar dari banyaknya Putra daerah Subang yang berprestasi di tingkat Provinsi, Nasional maupun Internasional. Namun sayang mereka hampir tidak tercium apalagi tersentuh oleh para Pemangku kebijakan di Pemerintahan Subang, sehingga mereka banyak yang berdiri sendiri dan Ironisnya mereka berkarya di Luar wilayah subang. Ini menjadi PR bagi para pemangku kebijakan untuk memberikan solusi dengan melakukan pemetaan,” jelasnya.

Kedua  menurut Ayi adalah tentang tantangan yang sudah tergambar begitu dahsyatnya di depan mata, bagaimana sendi-sendi Kebudayaan di Kabupaten Subang yang secara perlahan akan “Dihancurkan” oleh pesatnya kemajuan pembangunan dalam berbagai sudut kehidupan, baik itu Infrastruktur, Transportasi, Informasi dan lainnya yang tidak terkontrol dan bahkan “kurang” memperhatikan dampak dari kemajuan tersebut, maka ini menjadi tatangan serius yang harus disikapi dengan serius pula oleh para penggiat Kebudayaan untuk dapat mempertahankan kelangsungan/kelestarian Budaya Subang, dengan memberikan manuskrip kondisi-kondisi yang akan terjadi sebagai tatangan kedepan kepada para pemangku kebijakan yang berkompeten dibidangnya masing-masing.

Untuk itu lanjut Ayi, Sikap Simpati dan Empati para penggiat Kebudayaan yang mau “Berfikir, Bersikap, Berbuat” sanangat dibutuhkan, bagaimana menyikapi hal-hal tersebut, menyatukan kekuatan dengan semangan Cinta pada Subang, Cinta Pada Kebudayaan demi terwujudnya Kedaulatan Kebudayaan di Kabupaten Subang. Forum-forum Diskusi, Saresehan, Seminar bahkan Debat haruslah menjadi media agar para penggiat Kebudayaan semakin “Melek”dengan kondisi yang sedang dan akan terjadi ke depan, yang pada akhirnya terbentuk rasa kepedulian untuk dapat bersama-sama menjadi solusi. Demi mencapai Kedaulatan Kebudayaan di Kabupaten Subang. Yang juga tersirat dalam UU No. 5 tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan.

“Seniman, Pelaku Seni, Budayawan, Penggiat Kebudayaan jangan hanya menjadi penonton yang hanya mampu menangis, tertawa, terenyuh, tepuk tangan dan mengumpat. Tetapi harus menjadi Aktor yang bisa menghidupkan jalan Cerita,” ujarnya.

Sementara itu Sekretaris MPC Pemuda Pancasila Kabupaten Subang mengapresiasi digelarnya diskusi kebudayaan tersebut.

“Pemuda Pancasila sangat support dan siap fasilitasi pergerakan para aktifis budaya yg sekiranya akan memberi kontribusi positif dalam pemajuan kebudayaan Subang sesuai amanat UU No 5/2017 ttg Pemajuan Kebudayaan,” ungkapnya.

“Diskusi substantif seperti ini perlu dilanjutkan sehingga dapat terpetakan fakta dan masalah budaya di subang. Peran serta masyarakat berbagai elemen sangat penting karena karena kemajuan kebudayaan suatu daerah salah satunya adalah kesadaran para pendukung kebudayaanya utk merawat dan membangun kebuayaan di daerahnya.

Hal mendasar yg perlu disadari dan dikoreksi adalah pemahaman tentang kebudayaan itu sendiri. Masih banyak yg menganggap bahwa Kebudayaan itu sama dengan Seni atau kesenian, adat istiadat. Padahal arti kebudayaan lebih dari itu. Saya setuju Diskusi seperti ini digulirkan di beberapa wilayah di Subang,” lanjutnya.

Pegiat budaya dari Subang selatan, Asep Kusmana mengatakan adalah tanggungjawab semua pihak untuk mendorong pemajuan kebudayaan di Subang.

“Buat saya,  seniman tidak boleh “Diam melihat kondisi seni dan budaya di Subang yang semakin tragis, dia (seniman) harus mengunakan kepekaan yang dimilikinya untuk mendorong pemajuan kebudayaan di Subang, selain itu saya mengajak seluruh aktivis dan penggiat budaya Subang supaya berperan serta aktif guna mendorong terbentuknya Dewan Kebudayaan Subang dan PERDA Kebudayaan Subang,” ungkapnya.

Diskusi kebudayaan ini rencananya akan terus dilanjutkan. Agenda selanjutnya rencananya akan diselenggarakan di Subang selatan dengan tema diskusi, “Peranan Kantong-kantong budaya untuk Pemajuan Kebudayaan Subang”.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here