Wisma Karya Dibongkar, Ini Penjelasan Dinas PUPR

Bagian belakang gedung wisma Karya dibongkar. Foto : FB Lutfi Yondri

KOTASUBANG.com, Subang – Gedung Wisma Karya merupakan salah satu ikon kota Subang. Gedung ini mungkin merupakan satu-satunya gedung cagar budaya peninggalan kolonial yang masih “terawat” hingga saat ini di pusat kota Subang. Yang lainnya entah bagaimana nasibnya, seakan tak ada yang peduli.

Gedung kebagaan satu-satunya tersebut beberapa minggu ini seakan hilang, di tutup pagar seng berwarna hijau di sekelilingnya. Sebagian warga mengira, jangan-jangan nasibnya akan sama dengan bekas Kantor Besar P n T Land di seberang Rumah Sakit PTPN VIII yang  lama terbengkalai seakan menunggu roboh. Gedung itu juga sudah lama “dilupakan” karena sudah dihilangkan dari pandangan mata dengan pagar tertutup di sekelilingnya.

Hingga kemudian Arkeolog Jawa Barat, Lutfi Yondri menulis status di laman Facebooknya.

Mohon maaf Dinas PUPR Kab. Subang..Gedung Wisma Karya sudah menjadi bagian dari Bangunan Cagar Budaya Subang, karena itu semua perubahan yang dilakukan terhadap bangunan ini mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan peraturan peraturan yang menyertainya..sudahkah itu dilakukan dan dikonsultasikan ke lembaga yang mengurusi pelestarian cagar budaya yi. Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang yang juga membidangi wilayah Jawa Barat..Kalau belum sebaiknya kegiatannya dihentikan dulu biar tidak terlanjur salah..Terimakasih.” Tulis Lutfi.

Arkeolog itu resah, dirinya khawatir bangunan cagar budaya tersebut akan dialih bentuk. Status Facebooknya kemudian di-share belasan kali dan dikomentari oleh puluhan warga Subang, yang juga resah gedung kebanggannya akan dirubah.

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Subang Didin Mahpudin ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya sangat mendukung niat baik pemerintah dalam hal ini Bupati Waktu itu Hj Imas Aryumningsih untuk membuat sebuah musem yang representatif.

“Wisma Karya memang layak pugar, Namun ketika itu kita tegaskan, jangan sampai merusak keaslian bangunan cagar budaya. Itu pesan kita,” kata Kabid Kebudayaan Disdikbud Subang Didin Mahpudin.

Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) Kabupaten Subang menyebut bahwa bangunan yang dibongkar tersebut bukan heritage.

“Saya sudah hubungi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), ada dokumen yang menunjukan bahwa heritage hanya yang didepan,” kata Kepala BP4D Kabupaten Subang Sumasna.

Sementara itu Sekertaris Dinas PUPR Cecep Rosadi melalui Kepala Seksi Bagian Gedung Cipta Karya Dudung mengatakan Wisma Karya memang akan dijadikan museum Subang. Pengerjaan sudah dimulai dan akan selesai pada akhir Desember 2018 dan dikerjakan dalam beberapa tahap.

“Untuk pembangunan museum ini dalam perencanaannya oleh konsultan, mereka dari awal  sudah mengadakan ekspos-ekpsos termasuk FGD menerima masukan-masukan dari berbagai pihak,” kata Dudung.

Maket Museum Wisma Karya

Dudung mengatakan mengenai kekhawatiran berbagai pihak atas pembongkaran Wisma Karya, dirinya mengatakan hal tersebut telah berdasarkan kajian para konsultan.

“Kontkes cagar budayanya tetap dipertahankan, mereka (konsultan) kan lebih tahu tentang cagar budaya. Konsultan sudah nanya-nanay kepada pihak sejarawan dan budayawan yang ada di Subang,” katanya.

Menurut Dudung, bangunan heritage berdasarkan penelusuran konsultan hanyalah bangunan bagian depan dan bangunan ini tidak akan dibongkar, sementara yang di belakang itu katanya bangunan tambahan jadi akan dibongkar dan akan disesuaikan tingginya dengan bangunan yang di depannya disesuaikan dengan kebutuhan museum.

“Ada hasil analisis konsultan, karena kebutuhannya untuk museum jadi disesuaikan, kami juga tidak sembarangan itu hasil kajian. Nantinya bangunan tersebut mirip dengan yang sekarang bedanya dari ketinggiannya saja, kalo sentuhan bangunan depan, globalnya seperti itu namun ada sentuhan-sentuhan diseuaikan dengan kebutuhan museum,” lanjut Dudung.

Dudung mengatakan setelah renovasi gedung ini selesai dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah pengadaan konten museum.

“Untuk materi dan kontennya isinya, nanti di bidang Kebudayaan,  DED-nya sudah ada tinggal anggarannya saja,” pungkasnya.

 

Berita Terkait: