[Opini] Pilkada, Hindari Tidak Bersikap, Hindari Pula Tertipu dan Terpenting Jangan Diam Setelah Itu

Mohon dibaca secara tuntas dan jernih sebagai upaya kita adil melihat dan menyikapi persoalan ini. Hapunten, karena ruang tulisan yang sempit tidak seluas hati kita apalagi seluas Ilmu Allah, semoga tulisan saya cukup menggambarkan apa yang dalam fikiran. In syaa Allah ikatan pertemanan dan ikatan ukhwah kita adalah kuat. Tidak ada satupun ormas Islam yang menyuruh golput, Yang ada adalah perintah memilih dengan kriteria yang dikaji. Barakallahu Fiik

Menulis sesuatu yang sensitif, karena perbedaan persepsi manusia atas fakta (realitas) tertentu tentu tidaklah mudah. Namun, karena dorongan untuk bisa bertindak adil maka saya yang lemah dan pembelajar ini berani menulis tentang ini.

Fakta yang sedang kita bicarakan adalah tentang Memilih Pemimpin melalui Pemilu yang akan menerapkan Suatu Aturan melalui Parlemen. Sehingga setidaknya ada tiga Hal fakta yang akan dipersepsikan oleh Manusia yaitu persepsi terhadap (1) Pemilu (2) Parlemen (3) Pribadi Pemimpin.

Tanpa panjang lebar menjelaskan berbagai persepsi tersebut, secara dampak yang nampak didepan mata muncul dua sikap yaitu sikap memilih dan sikap tidak memilih.

Keduanya merupakan sikap, namun secara umum sikap ini dipandang memiliki derajat yang berbeda dari sisi tanggung jawab. Sikap tidak memilih cenderung dianggap lebih tidak bertanggung jawab dibandingkan sikap memilih.

Dititik inilah kita harus berbuat adil. Dalam pemahaman yang penulis miliki berbuat adil adalah ketika manusia memiliki suatu Hujjah (argumen) untuk menempatkan sesuatu dan melakukan perbuatan tertentu. Maka, sebagai orang yang berAgama, Hujjah yang terkuat adalah tentu petunjuk Tuhan Manusia.

Apabila kita menelaah petunjuk Tuhan, setidaknya penulis mendengar tausiyah Ustadz Abdul Somad memang terdapat dua seruan yang sama pentingnya. Hindari untuk tidak bersikap dan saat yang sama hindari pula untuk tidak tertipu.

Saya pribadi menyimpulkan jika ingin terhindar dari kedua sikap itu maka manusia perlu sebuah ‘kriteria yang diyakini’ baik kriteria sosok pemimpin pilihan dan kriteria sistem kepemimpinan yang digunakan oleh pemimpin.

Sejauh mana kebenaran dan kedalaman ‘kriteria’ tersebut, sejauh mana pula tingkat cahaya petunjuk Tuhan yang sampai, kaji dan fahami.

Sepanjang pengetahuan penulis karakteristik Agama Langit memiliki ajaran yang Rasional (berfikir menggunakan akal untuk memahami Ayat Tuhan). Ajaran Agama Langit bukan lah dogmatis yang bersifat emosional (mengedepankan perasaan/subjektivitas).

Pertanyaan yang adil untuk kita semuanya adalah sudahkan kriteria ini sekuat upaya kita menyesuaikan diri dengan sumber hukum primer yang Tuhan wahyukan dalam kitab sucinya? Atau sebaliknya malah kita mengedepankan emosi dan ego kita ?

Bila kita sepakat cara Rasional adalah jalan terbaik, dan cara inilah yang nanti akan menjadi kriteria dalam Pengadilan Tuhan maka mari kita introspeksi bersama terhadap dua sikap (memilih dan tidak memilih) tersebut.

Menurut hemat saya, bila memilih dan tidak memilih itu berlandaskan emosional dan jauh dari cara Rasional maka keduanya salah. Tidak bertanggung jawab (responsible) dan tidak bertanggung gugat (accountable) di akhirat nanti.

Sebaliknya juga halnya apabila memilih dan tidak memilih menggunakan cara yang Rasional dapat menjadi Hujjah di dunia dan diakhirat maka keduanya adalah benar.

Dengan tidak tendensi menuduh , namun realitas cenderung menunjuk orang yang (golput) sebagai kambing hitam persoalan pemimpin dan sistem kepemimpinan. Padahal jika didalami golput itu motifnya tidak satu aspek emosional semata, ada orang yang sangat rasional dan mengambil sikap golput. Tentu ada juga golput yang apatis emosional ini yang memang harus di benahi oleh semua.

Maka penyelenggara pemilu dan partai serta caleg yang mampu membawa dirinya dan lembaganya dengan cara dan mekanisme Rasional (sesuai penjelasan makna ini diatas) maka ini satu-satunya cara membuat sikap tidak memilih menjadi memilih.

Mohon maaf bukan dengan cara seruan seolah emosional semata ‘Jangan Golput”. Semakin Partai dan KPU rasional maka golput akan turun (terutama pemilih rasional dan juga termasuk pemilih emosional).

Timbul pula kecenderungan persepsi bahwa sikap memilih itu hina dan tidak memiliki peranan. Ya tentu saja ini tidak tepat kalau sesuai paparan diatas bahwa Tidak memilih pun adalah sikap dalam memperbaiki/mengkritisi pemimpin dan sistem kepemimpinan agar menjadi lebih baik.

Para pemilih harus berterima kasih kepada yang bersikap tidak memilih selama era kepemimpinan orde baru, yang dari konsistensi mereka dengan dukungan intelektual akhirnya Indonesia bisa keluar dari kepemimpinan rezim absolut. Ingat suara dan gerakan perubahan itu bukan dari DPR/MPR saat itu kan ? Dan bukan kah menjadi absurd apabila kita secara emosional melarang orang golput sedang itu dilindungi Undang-undang ?

Maka sesuai niat awal tulisan ini penulis menambahkan suatu sikap yang dapat membuat salah atau benar sikap memilih dan atau tidak memilih kita. Tentu sikap ini pun diambil dari dalil yang Rasional (manusia terbimbing Tuhan).

Sikap itu yaitu tidak berdiam diri/berpangku tangan dalam mendidik rakyat dan umat. Tidak meyakini pemilu adalah satu-satunya jalan perubahan, dan menutup pintu lain. Apalagi siklusnya yang lima tahun sekali ,dan setelah itu diam.

Artinya bila anda bersikap memilih dan atau tidak memilih dan kemudian mengambil sikap ‘diam’ maka ini salah.

Sebaliknya bila anda memilih dan atau tidak memilih dan kemudian bergerak tidak diam maka itu adalah benar.

Tentu benar dan salah kembali kepada pengadilan Tuhan yang maha adil. Sejauh mana kita mengerti apa yang Tuhan Inginkan.

Selamat bersikap dan tanpa merendahkan satu sama lain, karena yang lebih penting adalah mempertanggung jawabkan di dunia dan mempertanggung gugatkan sikap kita di akhirat kelak.

Kalo saudara bertanya apakah sikap saya ? Saya bersikap secara rasional yang terbaik bagi diri, keluarga, Indonesia dan umat di dunia maupun diakhirat
Serta tidak diam dalam berjuang, melalui umat/rakyat dalam setiap nafas dan denyut mereka kita berusaha hadir memberikan solusi baik pemikiran maupun praktis (jika mampu)

Wallahu ‘allam

 

Penulis :

Gugyh Susandy, SE, M.Si,

IG @abigugyh

Akademisi, Penulis Buku Emotional Marketing

Berita Terkait: