Mudik ke Kampung Akhirat, Butuh Infrastruktur dan Rekayasa Lalulintas Apa ?

Baik MACET dalam Mudik Dunia | maupun SESAT dalam Mudik Akhirat | Tugas bersama Individu, Masyarakat dan Negara menghindari itu.

Dalam pemberitaan media dapat kita ketahui untuk memecahkan persoalan kemacetan dalam mudik diberlakukan beberapa kebijakan yaitu penggunaan jalan tol dengan disertai dua pilihan metode (Contra flow dan One Way).

Jalan tol (di Indonesia disebut juga sebagai jalan bebas hambatan) adalah suatu jalan yang dikhususkan untuk kendaraan bersumbu dua atau lebih (mobil, bus, truk) dan bertujuan untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh dari satu tempat ke tempat lain. Untuk menggunakan fasilitas ini, para pengguna jalan tol harus membayar sesuai tarif yang berlaku. Adapun Lawan arus (bahasa Inggris: contraflow) adalah sistem pengaturan lalu lintas yang mengubah arah normal arus kendaraan pada suatu jalan raya. Sistem ini dapat diterapkan untuk berbagai keperluan seperti evakuasi darurat, pemeliharaan jalan, atau pengatasan kemacetan. (Wikipedia). Sedangkan one way adalah sistem pengaturan lalu lintas menetapkan satu arah pada suatu jalan raya.

Tidak cukup sampai disitu, dibuat pula kebijakan pengoperasian ruas “Tol Fungsional”, yaitu prasarana jalan tol yang sebelumnya belum selesai tapi dengan syarat kecukupan tertentu dapat digunakan sementara untuk keperluan mudik.

Bila segenap kebijakan baik menyangkut infrastruktur maupun metode rekayasa lalu lintas begitu serius dipersiapkan untuk layanan mudik tahun ini, maka seyogyanya kita pun melakukan hal yang sama untuk perjalanan manusia menuju Rabbnya dengan meminjam istilah Mudik ke Akhirat.

Setidaknya ada beberapa fakta kenapa begitu serius layanan mudik dipersiapkan, yaitu pertama, semua sadar bahwa mudik itu ditempatkan sebagai prioritas dan kedua, semua sadar akar permasalahan utama mudik adalah kemacetan yang sulit dihindari karena momentum yang sama (hari raya lebaran). Kita sama-sama tahu hari Raya lebaran tidak dapat digeser sesuai keinginan.

Maka dari itu hal yang sama harus terpenuhi, apabila ingin serius mempersiapkan mudik ke akhirat maka pertama, semua harus sadar bahwa kembali kepada Allah adalah suatu prioritas dan kedua, semua sadar bahwa momentum kembali kepada Allah dalam hal ini jatah umur manusia sudah dipatok dan tidak dapat digeser sesuai keinginan.

Bila menempuh jalan tol untuk mudik memiliki konsekuensi biaya (berbayar), maka dalam menempuh jalan tol untuk mudik ke akhirat adalah gratis , hanya diganti (trade off) dengan amal dan Ridha Allah.

Maka tantangan ‘kemacetan’ di mudik dunia, berubah menjadi tantangan ‘kesesatan’ dalam mudik akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Nabi SAW Sebagaimana berikut ini :

Dari Jubair bin Nufair dari An Nawwas bin Sam’an Al Kilabi ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membuat perumpamaan jalan yang lurus, di atas dua tepi jalan ada dua tembok, pada keduanya ada beberapa pintu terbuka, pintu-pintu itu bertirai dan disetiap penghujung jalan ada penyeru yang meyeru manusia dan penyeru yang menyeru di atasnya Dan Allah menyeru menuju negeri keselamatan, memberi petunjuk kepada siapa saja yang Ia kehendaki menuju jalan yang lurus. (QS Yunus; 25). Pintu-pintu yang ada di sisi jalan adalah batasan-batasan Allah, karenanya janganlah ada seorang pun yang jatuh di batasan-batasan Allah hingga tirai terbuka, sementara yang menyeru dari atasnya adalah penyeru Rabbnya (HR. Tirmidzi No.2786)

Dari Nawwas bin Sam’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah memberikan perumpamaan berupa jalan yang lurus. Kemudian di atas kedua sisi jalan itu terdapat dua dinding. Dan pada kedua dinding itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Kemudian di atas setiap pintu terdapat tabir penutup yang halus. Dan di atas pintu jalan terdapat penyeru yang berkata, ‘Wahai sekalian manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath dan janganlah kalian menoleh kesana kemari.’ Sementara di bagian dalam dari Shirath juga terdapat penyeru yang selalu mengajak untuk menapaki Shirath, dan jika seseorang hendak membuka pintu-pintu yang berada di sampingnya, maka ia berkata, ‘Celaka kamu, jangan sekali-kali kamu membukanya. Karena jika kamu membukanya maka kamu akan masuk kedalamnya.’ Ash Shirath itu adalah Al Islam. Kedua dinding itu merupakan batasan-batasan Allah Ta’ala. Sementara pintu-pintu yang terbuka adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Dan adapun penyeru di depan shirath itu adalah Kitabullah (Al Qur`an) ‘azza wajalla. Sedangkan penyeru dari atas shirath adalah penasihat Allah (naluri) yang terdapat pada setiap kalbu seorang mukmin.” (HR. Ahmad No. 16976)

Dari Nawwas bin Sam’an ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla memberikan perumpamaan mengenai Shirath Mustaqim (jalan yang lurus) berada di atas dua sisi jalan. Pada kedua sisi jalan itu terdapat pintu-pintu yang terbuka lebar. Pada setiap pintu terdapat tabir dan penyeru yang mengajak di depannya. Sedangkan dari atasnya terdapat satu penyeru pula yang selalu mengajaknya, dan Allah senantiasa mengajak ke negeri keselamatan (Darus salam) dan memberikan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki untuk menapaki shirath mustaqim. Pintu-pintu yang berada di kedua sisi jalan itu merupakan batasan-batasan Allah hingga batasan Allah itu dilanggar. Sedang yang menyeru dari atasnya adalah Wa’izhullah (penasehat agar mereka kepada jalan) Allah ‘azza wajalla.” (HR. Ahmad No. 16978)

Baik mudik di dunia dan diakhirat memerlukan keseriusan bersama individu yg taqwa, masyarakat yang menyeru kebaikan dan negara yang melayani dengan penuh tanggung jawab. Tujuan didirikan negara tidaklah hanya membuat warga negara aman selamat mudik di dunia semata namun menjamin tidak ada satupun warganya yang tersesat dalam mudik ke akhirat. Dan yang perlu dicatat semua proses ini sifatnya sama yaitu one way ticket .. Hidup cuma sekali!

Wallahu’allam

 

Penulis :

Gugyh Susandy, SE, M.Si,

IG @abigugyh

Akademisi, Penulis Buku Emotional Marketing

 

Berita Terkait: