Seni Calongcong, Asal Mula Sisingaan?

KOTASUBANG.com, Subang – Ketua Komunitas Hong Doktor Muhamad Zaini Alif berharap Calongcong sebagai salah satu kesenian khas yang dimiliki oleh Kampung Bolang , Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Subang, menjadi ikon milik Kabupaten Subang yang diakui oleh Pemerintah Daerah.

Hal ini memiliki alasan yang kuat, karena calongcong digunakan masyarakat kampung bolang zaman dahulu untuk memperekat persatuan. Yaitu berarti adanya kegiatan gotong royong “Ngamunikeun Lembur” atau bebersih kampung menggunakan sapu yang dibawa masing-masing warga.

“Jadi adanya calongcong itu zaman dulu digunakan untuk simbol mengumpulkan manusia untuk bergotong royong membersihkan perkampungan. Jadi warga yang diladang dan sawah membawa sapu untuk bersih-bersih kampung. Berbeda zaman, saat ini untuk mengumpulkan warga menggunakan pengeras suara mushola atau masjid,”kata Zaini Alif kepada redaksi Lampusatu.com saat ditemui di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Subang, beberapa waktu lalu.

Calongcong sendiri dijelaskan Zaini, merupakan salah satu kerajinan tangan yang dibuat oleh warga Kampung bolang yang berbahan dasar bambu (Awi) yang bentuknya mirip sekali dengan sisingaan.

Kesenian ini sudah ada sejak abad 15 yang termaktub dalam naskah Siksa kandang karesian yaitu disebut Pamaceuh yang artinya suatu sikap yang lebih dari biasanya/kreatifitas.

“Iya, calongcong ini erat kaitannya dengan gotong royong. Calongcong artinya Mancal (Ngalengkahan) Anu Kosong . Jadi tugas manusianya untuk mengisi yang kosong itu. Bagaimana dihidupkan setelah itu kemudian difungsikan,”jelas Zaini Alif selaku pengelola Kampung Bolang .

Ia pun menyebut masih bingung, karena erat kaitan calongcong dengan seni tradisi sisingaan yang lebih dulu populis dikenal warga Subang. Ternyata calongcong lebih dulu ada dibandingkan sisingaan.

“Apakah sisingaan itu dulunya adalah calongcong? Tapi beberapa penelitian menyebutkan, bahwa sisingaan sebagai kesenian khas Subang merupakan simbol perlawanan bangsa ini kepada penjajah yaitu jepang,”ungkapnya.

Zaini pun menyebut, calongcong yang bentuknya hampir sama dengan sisingaan ini malahan memiliki beragam bentuk lainnya. Mulai dari calongcong merak, burung, dan lainnya.

“Saya berharap calongcong menjadi khas kesenian atau sebuah identitas (Ikon) Kabupaten Subang bukan hanya Kampung Bolang. Ini juga bagian melestarikan kembali produk budaya kepada warga Subang untuk mengajak bergotong royong ngamunikeun lemburnya masing-masing,”harapnya.

Belum lama ini lanjut Zaini, calongcong pun telah eksis dipamerkan di Yogyakarta dalam acara Pameran Kriya Nusantara yang diselenggarakan oleh Kemendikbud.

“Dari ribuan peserta yang hendak mengikuti pameran, hasil seleksi Kemendikbud akhirnya calongcong masuk sebagai salah satunya karya yang terpilih. Ini tentunya kebanggan sendiri bagi orang Subang,”ujarnya.

“Bahkan calongcong ini bila sudah ada di beberapa daerah di Subang, bisa didaftarkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Calongcong juga sebuah seni budaya yang mengajak manusia memilki karakter saling menolong dan kerjasama satu sama lainnya,” pungkasnya.

Berita Terkait: