Pengusaha Jepang Tertarik Pertanian Organik di Desa Pringkasap, Subang

Dedi Mulyadi tengah memberikan penjelasan kepada pengusaha Jepang terkait tanaman sayur organik

KOTASUBANG.com, Subang – Pengusaha Jepang tertarik dengan pertanian organik yang dikembangkan oleh Agrospora Bumi Indonesia dan Kelompok Tani Paguyuban Bumi Mandiri, Kampung Bugel, Desa Pringkasap, Kecamatan Pabuaran, Subang. Dedi Mulyadi, owner Agrospora yang memproduksi beras organik Pringkasap mengatakan, hingga saat ini pihaknya sudah 5 kali dikunjungi pengusaha Jepang tersebut yang mengajak bermitra dalam pengembangan pertanian organik. 

“Rabu lalu (16/5/2018) pengusaha dari Jepang tersebut kembali mengunjungi Pringkasap untuk pengembangan desa organik. Tahun ini pengembangan desa organik akan merambah ke tanaman sayuran. Bersama pengusaha Jepang dan perwakilan petani dari Kelompok Tani Paguyuban Bumi Mandiri kami membahas tentang komoditi yang bisa dibudidayakan, teknologi yang akan diterapkan dan perencanaan cara pendistribusian sayurannya,” kata Dedi Mulyadi.

Owner Agrospora Bumi Indonesia, Dedi Mulyadi

Sayuran organik tersebut merupakan salah satu misi yang direncanakan oleh Agrospora Bumi Indonesia dan Kelompok tani Paguyuban Bumi Mandiri. Menjadi salah satu bagian untuk mewujudkan desa Pringkasap menjadi Desa Organik. Pada saat ini upaya yang sedang dilakukan adalah pengembangan pertanian padi organik dengan memproduksi beras putih, beras merah dan beras hitam dengan merk dagang beras organik “PRINGKASAP”. Upaya tersebut sudah berjalan sejak tahun 2012.

Menurut Dedi, nantinya pengembangan sayuran ini akan melibatkan banyak petani dan keluarga tani. Rata-rata di Desa Pringkasap memiliki banyak lahan pekarangan yang belum dioptimalkan untuk meningkatkan perekonomian. Dengan konsep yang akan diterapkan di Paguyuban Bumi Mandiri menjadi salah satu solusi bagi petani untuk mengoptimalkan pekarangan meskipun hanya pekarangan sempit.

“Lahan yang sempit bukan menjadi alasan untuk tidak mau berinovasi. Tinggal bagaimana kita mencari cara agar lahan yang sempit dapat dioptimalkan menjadi pundi-pundi penghasilan bagi petani,” pungkas Dedi.

Berita Terkait: