Adakah Hubungan Penemuan Kerangka Manusia Prasejarah di Subang dengan Situs Gunung Padang ?

KOTASUBANG.com, Subang – Penemuan kerangka manusia yang diperkirakan dari era 45 sebelum Masehi (SM) di Subang jadi lembar baru dalam dunia arkeologi nasional. Ketua Tim Ekskavasi Situs Subang Larang Dr Lutfi Yondri menduga manusia tersebut ada kaitannya dengan Situs Gunung Padang.

“Saya berpendapat seperti itu,” kata Lutfi saat berbincang dengan┬ádetikcom, Selasa (24/4/2018).

Kerangka manusia yang ditemukan utuh memiliki tinggi badan 150-160 cm. Ada senjata berupa kapak dan pisau yang terbuat dari logam di sampingnya. Selain itu, ada wadah menyerupai tembikar di kakinya.

Hal yang menarik, menurut Lutfi, adalah ditemukannya manik-manik yang tersebar di antara kerangka. Manik-manik itu terbuat dari serpihan kaca, logam mulia, hingga gigi binatang.

“Saya tak menemukan sisa pembuatan perhiasan itu, misal ada manik-manik dari kaca, saya tidak melihat ada lelehan kaca. Kita juga tak menemukan sisa-sisa pembuatan teknologi. Bahwa di masa lalu masyarakat Subang di masa itu rupanya sudah melakukan kontak dengan dunia luar dari masyarakat itu,” papar Lutfi.

Dugaan tentang kemungkinan kontak masyarakat era itu dengan dunia luar membawa ke perkiraan manusia tersebut berasal dari rumpun Austronesia. Rumpun Austronesia biasanya bermigrasi dan membawa budaya. Salah satu budaya yang dibawa adalah penghormatan kepada leluhur.

“Salah satu situs penghormatan leluhur yang paling tua itu Gunung Padang di Cianjur. Sampai sekarang kita belum menemukan manusia yang membangun Situs Gunung Padang itu,” ujar Lutfi.

Situs Gunung Padang yang masih misterius itu hingga kini terus diteliti. Menurut Lutfi, dari laboratorium dilaporkan bahwa situs itu sudah ada di antara era 117-45 SM.

“Paling tidak ini bagian era 45 SM bisa diisi manusia Subang Larang ini,” kata Lutfi.

Situs Gunung Padang yang Masih Misterius

Gunung Padang terletak di perbukitan perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Dengan area seluas 3 hektare, situs ini tercatat sebagai kompleks punden berundak di Asia Tenggara. Selain itu, situs ini dikelilingi lembah yang cukup dalam, sehingga disebut-sebut mirip piramida di Mesir.

Oleh warga setempat, situs Gunung Padang awalnya dikeramatkan dan dianggap sebagai tempat Prabu Siliwangi membangun istana. Namun belakangan, keyakinan itu berubah. Sebab, berdasarkan penelitian, situs tersebut merupakan peninggalan kebudayaan megalitikum.

Keberadaan situs Gunung Padang pertama kali dimuat dalam laporan ‘Buletin Dinas Kepurbakalaan’ pada 1914. Kemudian disinggung sejarawan Belanda, NJ Krom, puluhan tahun kemudian. Kemudian pada pada 1979, warga setempat mulai menaruh perhatian.

Terungkap bahwa ada banyak hal penting di Gunung Padang. Mulai ‘alat musik’ dari batu hingga terasering sebagai tanda teknologi maju. (detikcom)

Berita Terkait: