Wow!, Artefak Prasejarah Ini Ditemukan pada Ekskavasi Situs Subang Larang

KOTASUBANG.com, Subang – Ekskavasi situs Subang Larang, Nanggerang Binong yang diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang berakhir hari ini, Sabtu 21 April 2018. Ekskavasi yang dimulai sejak tanggal 12 April 2018 lalu tersebut telah memberikan sekelumit gambaran bagaimana nenek moyang orang Subang pada masa lalu. (baca juga : Ekskavasi Situs Subang Larang Dilanjutkan, Arkeolog Temukan Benda Ini )

Dari 5 kotak ekskavasi yang telah dibuka oleh tim Arkelologi yang dipimpin Dr. Lutfi Yondri, telah banyak artefak ditemukan yang mengindikasikan peninggalan masa prasejarah.

“Di kotak ekskavasi sebelah barat situs Subang Larang kita memenemukan indikasi budaya masa prasejarah diantaranya sebaran tembikar berbentuk dan juga manik-manik berbagai bahan dan warna dan diantaranya yang cukup menarik adalah adanya temuan manik-manik berbahan logam mulia pada ekskavasi tersebut,” ungkap Lutfi di situs Subang Larang, Sabtu (21/4/2018)

Artefak yang ditemukan di kotak ekskavasi sebelah barat situs Subang Larang berupa gerabah
Manik-manik yang ditemukan di kotak ekskavasi sebelah barat situs Subang Larang
Manik-manik emas yang ditemukan di kotak ekskavasi sebelah barat situs Subang Larang

Ekskavasi kemudian dilajutkan ke bagian tengah situs Subang Larang, meneruskan kotak ekskavasi yang sudah dilakukan tahun 2016 lalu. Pada kotak ekskavasi ini ditemukan 2 rangka manusia prasejarah. Pada ekskavasi dibagian tengah situs ini ditemukan rangka manusia. Satu diantaranya cukup utuh dapat dibedakan bagian kepala badan dan tungkai.  (baca juga: Mencengangkan, Ini Temuan Balai Arkeologi di Situs Subang Larang )

“Dan kita juga dapat melihat bagaimana perlakuan penguburan pada saat itu. Rangka yang utuh ini dibekali beberapa benda sebagai bekal kubur. Seperti halnya bekar kubur pada kubur prasejarah yang lain, pada rangka ini juga ada temuan wadah tembikar yang ditempatkan dibagian kaki. Dan yang cukup banyak pada bagian rangka ini bekal kubur ini adalah artefak logam. Di sisi kiri terdapat pisau 2 buah, kapak logam, dan dibagian atas kepala juga ditempatkan senjata yang terbuat dari logam. Dan dibagian badan rangka juga ditemukan sebaran manik-manik, baik yang terbuat dari bahan kaca, batu dan juga yang terbuat dari logam mulia,” ungkapnya.

Cukup menarik dari data yang kita temukan sekarang dari rangka itu adalah bagaimana manusia itu hidup di masa lalu dan berapa usia matinya. Hal itu diantaranya dapat diamati dari giginya.

“Kita lihat dibagian gigi sudah sangat halus. Namun karena ini situs penguburan kita tidak menemukan banyak sisa makanan, ini menjadi PR lebih lanjut untuk penelitian ke depan” katanya.

Manik-manik yang ditemukan di kotak ekskavasi bagian tengah situs Subang Larang
2 kerangka manusia dan bekal kuburnya yang ditemukan dibagian tengah situs Subang Larang

Lutfi menambahkan, pada satu setting pemukiman masa lalu, apabila kita menemukan bagian kubur tentunya ada lahan lain yang digunakan sebagai pemukiman. Indikasi yang menunjukkan tempat pemukiman adalah temuan peralatan rumah tangga yang digunakan sehari-hari seperti batu pipisan, tembikar yang lebih padat dan tentunya tak terlalu jauh dengan sumber air.

“Inilah ke depan yang harus kita cari lagi untuk mengetahui lebih jauh bagaimana kehidupan prasejarah di Subang pada masa lalu,” pungkas Lutfi.

Ekskavasi di situs Subang Larang ini setidaknya telah dilakukan sebanyak 3 kali diantaranya tahun 2013, 2016 dan terakhir tahun 2018 ini. Dari 3 kali ekskavasi tersebut telah ditemukan berbagai artefak yang mengindikasikan peninggalan masa prasejarah diantaranya rangka manusia dari masa 45 tahun SM, tembikar, artefak berbahan logam dan lebih dari 1600 butir manik-manik beragam bahan dan warna.

Penemuan kerangka manusia beserta bekal kuburnya pada ekskavasi di situs Subang Larang, Nanggerang, Binong ternyata bisa membuka tabir jejak awal pendaratan atau hunian pertama rumpun Austronesia di pantai Utara Jawa yang selama ini belum bisa diketahui karena masih minimnya tinggalan arkeologis yang ditemukan. Bahkan menurut Lutfi Yondri, Arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, dengan temuan ini ke depan Subang bisa saja menjadi pusat penelitian nasional penyebaran rumpun Austronesia. (baca juga:  Subang Bisa Jadi Pusat Penelitian Penyebaran Rumpun Austronesia di Indonesia)

Berita Terkait: