Kaleng Bekas Bikin Pasukan Belanda di Subang Kocar-kacir. Begini Ceritanya..

KOTASUBANG.com, Subang – Tahun 1940-an merupakan masa-masa yang genting karena front Perang Dunia II terus menyebar di kawasan Eropa dan Asia.

Di wilayah Eropa pasukan Sekutu bertempur melawan kekuatan Axis yakni Nazi dan Italia.

Sementara di wilayah Asia Pasifik, Amerika Serikat dan sekutunya juga gigih bertempur melawan pasukan Jepang.

Pertempuran sengit juga terjadi di Indonesia (Hindia Belanda) ketika pasukan Jepang yang tangguh dan ganas serta sulit dibendung sudah mulai mendarat.

Pada 1 Maret 1942, pasukan Jepang berhasil melaksanakan pendaratan pasukan yang terbilang monumental di Pulau Jawa.

Pasukan dari Negeri Matahari Terbit ini datang menerobos wilayah yang masih dikuasai Belanda di bawah pimpinan Vice Admiral Takahashi.

Mereka mendarat di tiga tempat.

Pertama di Merak, Teluk Banten, dan dalam pendaratan itu terdapat pimpinan tertinggi pasukan Jepang, Letnan Jenderal Imamura berserta stafnya.

Imamura dan pasukannya dengan mudah melumpuhkan pasukan Belanda di Merak lalu bermarkas di Jakarta.

Pendaratan kedua di Pantai Eretan Wetan, Indramayu, di bawah pimpinan langsung Kolonel Shoji.

 

Sedangkan pendaratan ketiga, berlangsung di Pantai Kranggan, di bawah komando Brigade Sakaguchi.

Pasukan yang mendarat di Eretan Wetan, tujuan utamanya adalah menyerang dan menguasai Pangkalan Udara Kalijati di Subang dan Bandung.

Kalijati dijadikan sasaran utama mengingat waktu itu Pangkalan Udara militer Belanda ini merupakan pangkalan yang besar.

Pangkalan ini memiliki banyak pesawat tempur dan persenjataannya juga cukup kuat.

Oleh karena itu jika Kalijati dapat dikuasai, akan memperlancar jalan serangan pasukan Jepang ke berbagai daerah di Jawa Barat terutama ke Bandung.

Pasukan di bawah komando Kolonel Shoji terdiri dari dua batalion masing-masing dipimpin Mayor Wakamutsu dan Mayor Egashira.

Gerakan para serdadu Nippon ini cepat sekali. Serangan yang dilancarkan secara mendadak sulit dibendung,

Pasukan Jepang yang bertempur secara militan terus bergerak maju dengan suara gemuruh.

Penduduk di sepanjang jalan Kalijati saat itu banyak yang terheran-heran mendengar suara gemuruh itu.

Pasalnya asal suara tidak hanya berasal dari bunyi tembakan berbagai senjata saja tetapi juga suara kaleng-kaleng kosong.

Yang unik kaleng-kaleng kosong itu ditarik atau diseret menggunakan kendaraan bermotor yang jumlahnya sebenarnya hanya puluhan dan selebihnya sepeda ontel.

Tujuannya adalah agar pasukan Belanda mengira suara kaleng-kaleng kosong itu adalah bunyi mesin tank dalam jumlah besar sehingga diharapkan pasukan Belanda menjadi ketakutan.

Pasukan Belanda akhirnya memang ketakutan dan memilih melarikan diri secara kocar-kacir menuju Bandung.

Tanggal 1 Maret 1942 Pangkalan Udara Kalijati dapat diduduki penuh oleh Jepang.

Semua pesawat dan persenjataan yang ada di Pangkalan Udara Kalijati dikuasai oleh Jepang dan digunakan untuk menggempur pasukan Belanda.

Pasukan Jepang kemudian melanjutkan gempurannya kepada posisi pasukan Belanda yang ada di Bandung.

Mendapat serangan gencar dari Jepang, serdadu Belanda yang ada di Bandung dan sekitarnya ternyata tidak mampu memberi perlawanan.

Pimpinan KNIL di Bandung akhirnya menyadari bahwa akibat jatuhnya pangkalan udara Kalijati, pertahanan Belanda sudah lumpuh dan jatuhnya Bandung tinggal menunggu waktu.

Namun pihak Belanda mencoba mencari jalan keluar.

Tanggal 5 Maret 1942 Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan pimpinan tinggi tentara kepada Legercommandant (wewenang komandan militer).

Selanjutnya dikeluarkan ketentuan bahwa tidak dibenarkan Bandung dijadikan ajang pertempuran.

Pimpinan KNIL lalu mengajukan saran agar tembak menembak dihentikan dan minta diadakan perundingan.

Dalam rangka minta perundingan, pada t 7 Maret 1942 pimpinan tentara Belanda mengirim utusan untuk menghubungi Komandan Tentara Jepang yang ada di Kalijati.

Pihak Belanda bermaksud hanya diwakili utusan saja dalam perundingan nanti dengan pimpinan Jepang.

Perundingan pun hanya dihadiri para utusan saja, bukan seluruh pasukan Hindia Belanda.

Sorenya Kolonel Shoji menerima utusan dari Belanda sambil membawa bendera putih.

Kolonel Shoji ketika menerima utusan dari Belanda, hanya mengutus Mayor Yamashira, karena Kolonel Shoji pergi ke Jakarta (Batavia).

Untuk beberapa saat usai perundingan memang kedua pihak menghentikan tembak menembak.

Tetapi bukan sampai di situ saja urusan sudah selesai, terutama pihak Jepang.

Saat menerima Kolonel Shoji, Jenderal Imamura di Jakarta menyampaikan pesan bahwa pihak Jepang menginginkan kapitulasi atau penyerahan untuk seluruh pasukan Hindia Belanda di Jawa.

Imamura juga hanya mau berunding kalau berhadapan langsung dengan Panglima Tentara dan Gubernur Jenderal Belanda.

Selain itu, perundingan sebaiknya dilaksanakan di Jalan Cagak, Bandung.

Tapi atas pilihan Jepang sendiri , perundingan kemudian dilaksanakan di Pangkalan Udara Kalijati, di satu rumah (mess) perwira.

Perhitungannya jika perundingan gagal dan pertempuran kembali meletus, Jenderal Imamura bisa mengontrol langsung.

Saat itu 8 Maret 1942, Imamura hanya berangkat sendiri dari Batavia ke Pangkalan Udara Kalijati.

Pihak Belanda, yaitu Gubernur Tjarda dan Panglima Ter Poorten berangkat bersama dari Bandung.

Di meja perundingan, Imamura berhadapan langsung dengan Gubernur Tjarda dan Ter Poorten.

Perundingan tidak berlangsung lama karena pihak Jepang merasa di atas angin.

Dengan lantang dan terus terang Jenderal Imamura minta agar pihak Belanda menyerah tanpa syarat dan menyerahkan seluruh tentara Hindia Belanda sebagai tawanan.

Jika Belanda tidak mau, Ter Poorten dipersilahkan kembali ke Bandung dan perang pun segera berkobar lagi.

Mendapat gertakan tersebut dan untuk menghindari pembantaian pasukannya, pihak Hindia Belanda tidak dapat berbuat banyak.

Hanya dalam waktu 10 menit, Jenderal Ter Poorten mau menandatangani naskah serah terima kekuasaan Hindia Belanda tanpa syarat.

Merasa tidak mempunyai kekuasaan lagi Gubernur Tjarda dan Ter Poorten pun segera meninggalkan tempat menuju ke Bandung.

Malamnya pukul 22.00 Ter Poorten menelpon ke markas tentara Inggris memberitahukan bahwa ia telah menandatangani penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang.

Ia minta agar semua tentara Sekutu meletakkan senjata dan menyerahkan diri kepada pasukan Jepang yang ketika mengawali serbuannya hanya bermodalkan kaleng-kaleng kosong itu. (intisari.grid.id)

 

Berita Terkait: