Di PHK, Buruh Subang Ini Terus Berjuang Hingga ke Mahkamah Agung

KOTASUBANG.com, Subang – Namanya Murdan. Ia adalah salah satu gambaran bagaimana seorang buruh harus siap menerima pil pahit yang namanya PHK, kapan pun. November 2016 lalu ia di PHK dari perusahaan tempatnya bekerja PT Sungwon Indojaya, setelah sebelumnya di skorsing bersama satu rekan lainnya, Ridwan.

Perusahaan sudah berniat memberikan kompensasi atas PHK pada dirinya ketika itu, namun Murdan tidak memilih itu, ia lebih memilih melawan, karena ia merasa ada ketidakadilan. Dan Murdan terus berlawan, dirinya terus memperjuangkan apa yang dia anggap haknya hingga ke Mahkamah Agung. Namun sayang, permohonan kasasinya tersebut ditolak Mahkamah Agung 19 Oktober 2017 lalu. Relaas pemberitahuan putusan kasasi MA dari Pengadilan Hubungan Industrial, Pengadilan Negeri Bandung ini diterima Murdan, 22 Februari 2018 kemarin.

Namun bagi Murdan perjuangan ini belum usai, Ia tak menyerah begitu saja.

“Ini belum final. Saya akan mencoba mencari bukti-bukti baru untuk pengajuan Peninjauan Kembali (PK) ke Pengadilan Negeri Bandung,” kata Murdan.

“Jika ada bukti baru lagi, mungkin masih ada harapan untuk perlawanan terakhir di PK,” ungkapnya.

Kisah panjang perjuangan Murdan dimulai sejak awal 2016 lalu.

“Awalnya pada tahun 2016 lalu, saya dikasih Surat Peringatan (SP) satu. Setelah itu SP dua dan tiga, lalu saya diskorsing oleh perusahaan,” kata Murdan dalam wawancara dengan Mediajabar.com (3/7/2017) lalu.

Dirinya diskorsing pada tanggal 7 Nopember 2016. Ketika itu Murdan dengan dibantu serikat kerja tidak tinggal diam, mereka mencoba melawan. Dari mulai melakukan aksi unjuk rasa di pabrik sampai menggelar beberapa kali rapat tripartit. Namun hasinya nihil, Murdan tetap di-PHK.

“Iya, saat saya mendapat skorsing, lalu ada protes dari teman-teman serikat untuk menuntut pencabtan skorsing itu, kemudian dilakukan upaya untuk tripartit satu, dua dan tiga. Tapi tetap perusaaan tidak mau mencabut skorsing itu. Kemudian dilakukan unjuk rasa oleh KASBI dengan tuntutan pencabutan skorsing tersbut, tetapi perusahaan tidak mencabut skorsing saya, perusahaan malah mengelurakan surat PHK,” papar Murdan dengan nada serius.

Buruh yang merupakan warga Desa Kaliangsana Kecamatan Kalijati itu tidak pernah putus harapan.

“Kalau teman saya yang sama-sama di-PHK pada tahun yang sama sudah selesai dalam mediasi pertama, karena sudah menerima kompensasi. Tapi saya tidak, saya akan terus berjuang karena keinginan saya bukan kompensasi, tapi saya ingin bekerja kembali dan mendapatkan hak-hak saya yang belum dipenuhi oleh perusahaan,” katanya.

Murdan menuturkan, setelah diskorsing pada tanggal 7 November 2016, lalu di-PHK pada tanggal 25 November 2016 pihak perusahaan masih memberikan gaji. Namun pada bulan Mei 2017 gaji disetop oleh perusahaan karena sudah ada keputusan dari Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Bandung yang mengabulkan gugatan PT Sungwon Indojaya.

“Bulan Mei seluruh hak saya distop, karena ada putusan dari PHI Bandung, yang isinya bahwa PHI Bandung mengabulkan gugatan PT Sungwon yang telah menggugat saya,” katanya.

Murdan tidak menyerah dan terus bersemangat untuk melawan. Hingga akhirnya setelah mendapatkan salinan putusan dari PHI Bandung tersebut dirinya langsung menyampaikan kasasi.

Setelah di-PHK oleh PT Sungwon Indojaya, Murdan menjadi pekerja serabutan. Mulai dari jaga parkir sampai berjualan air meneral

“Setelah saya dapat salinan itu, saya langsung menyampaikan kasasi ke Mahkamah Agung. Pada tanggal 19 Juni 2017 saya dapat salinan, tanggal 21 Juni 2017 saya mengajukan permohonan kasasi, dan pada tanggal 23 Juli 2017 saya menyampaikan memori kasasi,” katanya.

“Namun, kasasi ditolak Mahkamah Agung 19 Oktober 2017 lalu. Relaas pemberitahuan putusan kasasi MA dari PHI, Pengadilan Negeri Bandung ini diterima 22 Februari 2018 kemarin,” lanjutnya.

Kini, setelah di PHK, sambil bekerja serabutan sebagai tukang parkir, ojek, hingga jualan air mineral di lampu merah, dirinya masih aktif menjadi aktivis buruh KASBI, memperjuangkan hak -hak buruh dan tentunya juga memperjuangkan hak dirinya sendiri.

Ia tetap pada pendiriannya bahwa perusahaan harus mempekerjakannya kembali dan memenuhi hak-haknya selama menjalani proses gugatan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Perjuangan belum usai….,” pungkasnya.

Berita Terkait: