Warga Desa Wisata Cibuluh, Subang, Menantang Angin dengan Kolecer Gede

KOTASUBANG.com, Subang – Cuaca cukup terik ketika KOTASUBANG.com, tiba di pasir Kidangmalang, Desa Wisata Cibuluh, Tanjungsiang, Sabtu (17/2/2018) sekira pukul 10.00 pagi. Pasir Kidangmalang, atau dikenal juga dengan pasir Cibuluh merupakan sebuah bukit yang diapit 2 buah sungai yaitu sungai Cileat dan Cikaruncang. Di bawah bukit berupa pesawahan yang dilintasi 2 sungai tadi. Dari kejauhan tampak para petani tengah beraktivitas di tengah sawah.

Sementara itu, beberapa orang mulai berdatangan ke puncak bukit ini. Diantara mereka ada beberapa orang tua yang membawa bilah kayu tipis panjang yang tak lain adalah baling-baling kincir angin. Orang sunda menyebutnya kolecer. Ya, saat ini di desa Wisata Cibuluh dan sekitarnya tengah “usum kolecer” atau musim memainkan kincir angin. Dan hari ini adalah hari pertama festival kolecer yang digelar di sana. Puluhan kolecer dipasang di area pasir Kidangmalang.

Memang, di daerah Subang Selatan kolecer sudah menjadi salah satu tradisi, biasanya dimainkan setiap angin barat tiba atau pergantian dari musim penghujan ke musim kemarau. Saat inilah yang disebut usum kolecer. Di rumah-rumah, di sawah-sawah, dan di tempat-tempat tinggi, warga berlomba membuat kolecer.

Anak-anak kecil biasanya membuat kolecer berukuran kecil yang di mainkan sambil dibawa berlari-lari. Sementara itu para pria dewasa membuat kolecer berukuran raksasa. Tiangnya terbuat dari bambu, tingginya mencapai 7-15 meter, tergantung kondisi angin. Sementara baling-balingnya terbuat dari kayu keras, terutama kayu jati dengan panjang 2 – 5 meter atau lebih. Menurut warga, kolecer yang bagus adalah yang bisa menimbulkan suara gemuruh. Jangan salah, kolecer yang bagus ini harganya bisa mencapai 2-3 juta rupiah.

Yang unik, kolecer-kolecer ini kemudian diberi nama. Si Japrot, Si Inul, Si Bawon, Si Jagur, Si Jepret, Si Reret, Si Lempay dan berbagai nama unik lainnya. Warga Cibuluh ternyata juga memiliki “jampi” khusus buat mengundang angin agar datang menerpa kolecer.

“Kali cikur kali jahee.. urugkeun pasir cijere, datangkeun angin cing gede…. hiuuuk….hiuuuk….hiuuuuk….” demikian di teriakan warga.

 

Menurut Udan Karyawan, tokoh masyarakat setempat, kolecer merupakan hiburan bagi warga desa Cibuluh.

“Disela-sela bekerja di sawah atau ladang, para petani biasanya membuat kolecer, untuk sekedar hiburan,” ungkapnya.

Kata orang tua dulu, kolecer juga sebenarnya punya filosofi. Kolecer yang bagus adalah yang berputar kencang ketika diterpa angin, namun pada satu titik puncak angin kencang menerpa dia akan berhenti berputar sejenak, kemudian berputar lagi perlahan dan kembali berputar kencang.

“Kata orang tua dulu ini mengandung filosofi, dalam hidup, ketika kita berada di puncak, ada kalanya kita harus berhenti sejenak, introspeksi diri, kontemplasi, sebelum kemudian melanjutkan langkah,” kata Agus Daming, tokoh setempat.

Pembina desa wisata Cibuluh Bambang Subarnas mengatakan, acara yang digelar hari ini merupakan rintisan untuk digelarnya festival kolecer dengan skala lebih besar pada tahun mendatang. Menurutnya daerah sekitar Cibuluh juga sangat berminat mengikuti festival kolecer.

“Nantinya festival kolecer akan menjadi event tahunan juga di desa wisata Cibuluh bersama dengan festival 7 sungai. Apalagi kolecer sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh pemerintah tahun 2017 lalu,” katanya.

Sementara itu salah satu tokoh pariwisata Jawa Barat, Memet Hamdan yang juga hadir pada kesempatan tersebut menyambut baik digelarnya festival kolecer tersebut. Namun menurutnya ketika membuat event harus gencar dipromosikan.

Memet juga meberi masukkan untuk pengembangan desa wisata Cibuluh, menurutnya perlu adanya diversifikasi atraksi yang akan menarik wisatawan untuk mau berkunjung ke desa wisata Cibuluh. Kemudian harus jujur mengenai keadaan di lokasi wisata beserta berbagai fasilitas yang tersedia.

“Selanjutnya, harus ada petunjuk yang jelas untuk menuju ke sini. Perlu juga adanya agenda yang jelas mengenai berbagai acara yang digelar di sini selama satu tahun. Ini kemudian harus di promosikan dengan gencar,” jelasnya.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here