Papais Cisaat Subang, Cita Rasa Leluhur

papais-cisaatDari kaki Gunung Tangkubanparahu, terdengar suara anak-anak mengaji. Suara itu berasal dari masjid di Kampung Cilimus, Desa Cisaat, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang.

Di sebuah rumah, Ocih Susilawati (46) menyajikan teh tawar panas dan camilan khas kampung tersebut yang melegenda sejak ratusan tahun lalu.

“Ini namanya papais. Makanan khas di sini dan sudah ada sejak sebelum saya lahir, sudah ada ratusan tahun, dan sampai sekarang masih diproduksi secara tradisional oleh warga kampung ini,” kata Oci, yang juga guru SD di kampung tersebut, kepada Tribun di kediamannya, Rabu (28/8).

Papais adalah salah satu dari sekian makanan tradisional Subang selain sup ikan dan ikan etong bakar. Karena sudah menjadi ciri khas, tak heran tugu yang didirikan di jalan masuk menuju kampung ini pun berbentuk papais.

“Papais ini semacam makanan camilan. Terbuat dari tepung beras dan gula aren, kemudian dibungkus daun bangban dan rasanya manis. Paling enak dimakan sama teh. Makanan ini sudah turun-temurun. Selain itu, kampung ini jadi dikenal sebagai kampung papais,” kata Ocih.

Karena papais ini semacam makanan tradisional khas kampung tersebut, penyebarannya pun dilakukan secara konvensional. Ocih membuat papais berdasar pesanan saja.

Di zaman leluhurnya, kata Ocih, makanan ini tidak dijual. Makanan ini, kata dia, hingga kini selalu hadir dalam setiap hajatan di kampung tersebut.

“Malah sekarang, meski makanan tradisional kampung, papais ini sudah merambah sebagai menu makanan di pameran-pameran dan pernikahan modern di Jakarta, Bandung, Bogor, dan beberapa daerah di Jabar. Tapi pesannya via telepon, soalnya saya enggak buka toko,” ujar Ocih.

Umumnya di kampung tersebut, kata Ocih, setiap ibu rumah tangga memproduksi makanan camilan papais yang dijual per buah seharga Rp 500. Namun tetap, sebagian dari mereka membuat camilan papais ini tidak untuk dijual.

“Ibu-ibu sini juga bikin papais, tapi jarang yang dijual. Sebagian lagi, saya merekrut ibu-ibunya untuk kerja bersama saya,” ujarnya.

Ocih sebenarnya bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan penghasilan dirinya sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Hanya saja, ia memilih untuk melestarikan makanan khas yang sudah ada sejak dulu.

“Saya hobi masak. Keuntungan jualan ini buat biaya tambahan untuk makan. Tapi yang penting lagi, saya ingin dunia tahu tentang makanan tradisional kami, sekaligus melestarikan cita rasa leluhur kami,” kata dia.

Selain papais, saat ini ia juga bercita-cita melahirkan makanan tradisional baru. Ia menciptakan makanan tradisional khas Cisaat, yakni makanan abon yang terbuat dari jantung pohon pisang. “Harapannya, generasi ibu-ibu saat ini bisa menciptakan makanan tradisional lagi selain papais,” ujarnya.

Ocih menjelaskan, sudah sejak lama kampungnya banyak ditanami pohon pisang. Hanya saja, bagian jantung pohon pisang selalu menjadi sampah yang tidak terpakai. Ia pun memutar otaknya, mencari cara agar jantung pohon pisang ini menjadi bermanfaat. Berbekal pelatihan dan pembinaan Disnaker Kabupaten Subang, ia pun bereksperimen.

“Jantung pohon pisang itu saya racik buat jadi bahan dasar abon. Setelah dua kali percobaan, akhirnya abon jantung pisang itu jadi dan rasanya enak. Saya coba pasarkan dan responsnya bagus sampai sekarang,” ujarnya.

Dengan menciptakan makanan baru berupa abon jantung pisang, Ocih pun berharap makanan tersebut bisa menjadi makanan ciri khas di kampung tersebut, makanan yang lahir dari tangan para ibu-ibu rumah tangga. (Tribun) (Foto : desawisatacisaat.wordpress.com)

 

 

  • achil_ajah

    papais cisaat ya..

  • yusuf supriady

    Papais Makanan para raja jaman dahulu, semoga daerah cilimus , mulus rahayu, hidup kan makanan tradisional di kancah national