Mantan TKI Subang Mengubah Desanya Menjadi Desa Percontohan

Siapa sangka, sebuah pesantren dhuafa yang berlokasi di daerah Subang Jawa Barat yang tadinya hanya berorientasi melahirkan ahli agama dan anak-anak yang berahlak mulia, kini dapat memetamorfosis menjadi sebuah yang tempat perkumpulan yang menghasilkan enterprenuer lokal yang berorientasi internasional tanpa harus meninggalkan segi-segi ke Islaman yang hakiki.

Sebut saja Siti Bilqis, alumni pesantren Miftahul Hidayah ini bersama dengan ponpes, melakukan terobosan baru bagi orang banyak. Berbekal pengalaman, buku-buku dan sejumlah uang yang di dapat dari hasi jerih payahnya di Hongkong menjadi Tenaga Kerja Indonesia. Bilqis mencoba membuka cakrawala pemikiran masyarakat di kampungnya dengan membuka Rumah baca, agar masyarkat dan anak-anak di desanya gemar membaca. “Sebab dengan kita bisa membaca, kita dapat membuka jendela dunia dan mengetahui isinya,” jelas Bilqis.

Dengan latar belakang hidup yang pahit, Bilqis tidak ingin para tetangga atau masyarakat kampungnya turut mengalami apa yang dideritanya selama ini. Semenjak di tinggal pergi untuk selama-lamanya oleh kedua orangtuanya pada tahun 2005. Dirinya bertekad akan terus menuntut ilmu meski dirinya harus berkorban menjadi TKI di Hongkong. Sebab untuk menuntaskan pendidikannya, Bilqis harus rela membagi waktu kerjanya dengan bersekolah persamaan kejar paket C yang ada di hongkong. “ Saya masih ingat pesan kedua orangtua saya, agar saya tetap harus menamatkan sekolah. Makanya saat ada kesempatan dapat menuruskan sekolah meski persamaan paket C , saya tetap menjalaninya dengan senang,” terang mantan volunteer DD Hongkong ini.

Setelah beberapa bulan membuka rumah baca Bilqis yang berada di kampungnya Subang Jawa Barat, ternyata tanggapan para masyarakat setempat sangat antusias sekali dengan apa yang dilakukan mantan TKI Hongkong ini, terutama pimpinan pondok pesantren Miftahul Hidayah (MH). Dengan niat yang tulus untuk memajukan dan membantu mensejahtrakan umat, bersama-sama MH management, Bilqis mencoba menuangkan konsep-konsep yang terpendam selama ini.

Dimulai dari pembuatan Layanan KesehatanTerpadu (LKT) dan kursus komputer bagi para masyarakat di desa dan anak-anak ponpes setiap hari minggu pada salah satu sudut ruangan ponpes Miftahul Hidayah. Dengan di realisasikannya ide awal tersebut, tidak membuat Bilqis dan MH management merasa puas atas pekerjaannya itu. Apalagi dengan atusiasme masyarakat desa dalam merespon ide-ide Bilkis dan MH management, Bilqis segera membuat proposal bantuan kepada lembaga-lembaga resmi daerah guna membantu merealisasi ide-ide lainnya. Seperti memasok bahan baku pembuatan kripik, yang dilakukan para ibu-ibu dilingkungan pesantren. “Kita memang memperdayakan ibu-ibu di sekitar lingkungan pesantren agar dapat menambah penghasilan dari usaha pembuatan kripik singkong ini,” kata Bilqis.

Tidak sampai disitu saja inovasi yang dilakukan Bilqis bagi masyarakat, dirinya juga merambah sektor jasa resto bagi kaum dhuafa. Yang mana semua para pegawainya berasal dari para santri dan anak-anak muda desa sekitar pondok pesantren. Tidak heran, dengan kegigihannya dalam meningkatkan usaha yang digelutinya, usaha resto Bilqis dan MH management yang diberi nama kafe mandani, kini memiliki 5 cabang outlet yang tersebar di wilayah Subang Jawa Barat.

Untuk mendukung usaha restonya, Bilqis dan MH management juga membuka pasar pagi “Kampung Kuliner Fajar” yang menyediakan segala macam bentuk jajanan pagi khas kampung. Hal ini bertujuan agar masyarakat luas tahu, bahwa MH Management berfokus pada dan komitmen dengan pemberdayaan masyarakat. Bahkan jajaran Pemda Subang, termasuk Bupati, dinas Koprasi dan UMKM serta lembaga pendidikan lainnya mendukung usaha-usaha Bilqis dan MH managementnya. “ Tidak mengherankan jika desa Kiarasari terpilih oleh Dompet Dhuafa sebagai desa percobaan yang dinamakan Lumbung Desa”, bangga Bilqis.

(migrantinstitute)