Mengenal Tradisi Hajat Gantangan di Subang

KOTASUBANG.com, Subang – Gantangan, yang memiliki nama lain “Gintingan”, “Telitian”, atau “Talitihan” adalah salah satu contoh kebiasaan yang berkembang di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Berdasarkan penelitian sosiolog LIPI Yanu Endar Prasetyo, sistem hajat gantangan seperti ini dijalankan dengan kuat di Subang wilayah tengah dan utara yang juga dikenal sebagai salah satu daerah lumbung padi nasional. Nuansa pertukaran ekonomi dalam tradisi ini terasa sangat kuat. Yakni, ketika ada seseorang yang punya hajat dan menggelar syukuran, maka siapapun, baik tetangga dekat maupun jauh, teman kerja, atau para tamu undangan bisa “menyimpan” beras atau uang dalam jumlah tertentu. Sejumlah uang atau beras yang diberikan oleh undangan tadi, adalah sumbangan yang sifatnya “pinjaman” dan menjadi hutang bagi penyelenggara hajat. Jika kelak si pemberi bantuan tadi menyelenggarakan hajat yang serupa, maka si penerima bantuan tadi, harus mengembalikan sumbangan itu dengan nilai yang sama.

Perubahan tradisi Nyambungan atau Nyumbang yang bersifat sukarela ketika seseorang hajatan menjadi tradisi Gantangan yang bersifat kontraktual pada mulanya ditandai dengan adanya sistem pencatatan. Hadirnya pencatatan ini dimulai pada akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an. Berbagai informasi yang dikumpulkan oleh peneliti di ketiga lokasi penelitian yakni Subang Utara, tengah dan selatan menunjukkan kemiripan satu sama lain terkait kapan dimulainya pencatatan Gantangan ini. Tetapi, masyarakat di Subang Utara memang lebih dulu memulai model pencatatan Gantangan yang mereka adopsi dari tradisi di wilayah Karawang (Barat) dan Indramayu (Timur) daripada masyarakat di Subang Selatan.

Di Subang utara, Gantangan juga dikenal dengan sebutan Telitian. Menurut tokoh masyarakat, asal istilah telitian ini berasal dari kata “gentenan” atau “silih genten” yang berarti “saling bergantian”. Gentenan atau silih genten itu sendiri merupakan bahasa campuran antara Jawa dan Sunda yang melahirkan bahasa dan logat khas masyarakat Pantura. Dilihat dari aspek sejarah, masyarakat Pantura Subang ini memang dulunya adalah pendatang dari wilayah timur, seperti Indramayu, Cirebon, hingga Tegal. Wajar jika kemudian secara budaya masyarakat Pantura ini agak berbeda dengan masyarakat Subang pedalaman (tengah dan selatan) yang lebih lebih kental corak Sunda-nya.

Frekuensi telitian di Subang utara ini dari tahun ke tahun semakin sering dijalankan. Sebab, masyarakat tidak lagi berpatok kepada pernikahan atau khitanan untuk menarik simpanan telitian, melainkan lebih kepada kebutuhan yang mendesak, seperti membangun rumah, merehab rumah, atau ketika membutuhkan modal untuk usaha keluarga. Kondisi ini menyebabkan telitian semakin sering digelar, sehingga muncul keluhan dari warga lainnya perihal “kerepotan” dan “beratnya” beban hajatan telitian ini.

Gantangan di Subang Tengah (contohnya di Desa Pasirmuncang, Kec. Cikaum) baru berkembang dan meluas sekitar tahun 1999. Tahun–tahun sebelumnya sudah ada sistem pencatatan tetapi tidak semuanya. Masih ada warga yang menyumbang murni (memberikan beras < 5 liter) dengan tanpa kewajiban untuk mengembalikannya dalam jumlah yang sama. Baru sejak krisis moneter melanda Indonesia, sumbangan murni tersebut mulai hilang dan digantikan dengan sistem pencatatan (minimal sumbangan/simpanan 5 liter) dengan kewajiban untuk mengembalikan dalam jumlah yang sama.

Selain sistem gantangan yang sudah umum, tiga hari sebelum hari H hajatan, biasanya saudara dan tetangga dekat (ibu-ibu) akan datang kepada bapak hajat untuk menyimpan berbagai bumbu dapur, sayurmayur, kue hajatan dan kebutuhan dapur lainnya. Simpanan ini disebut dengan Talitihan.

Di Subang selatan, salah satu pengaruh dari luar tonggoh (dataran tinggi) yang saat ini eksis di tengah desa pegunungan ini adalah Gintingan, yang tidak lain adalah sebutan untuk tradisi Gantangan. Gintingan ini diakui warga Cimenteng sebagai pengaruh dari luar sebab dulunya tidak pernah ada. Dahulu, gotong royong masyarakat dalam saling membantu satu-sama lain sangat kuat dan tanpa pamrih.

Transformasi nyambungan menjadi gantingan merupakan akibat dari komersialisasi ekonomi yang kian melembaga. Proses komersialisasi sosial di pedesaan yang tercermin dalam pola pertukaran sosial gantangan ini merefleksikan perubahan nilai-nilai masyarakat pedesaan yang kolektif-idealistik menjadi individual-materialistik.

Selain Gantangan, ternyata di Subang juga terdapat kebiasaan lainnya dalam pelaksanaan sebuah hajatan diantaranya sistem Golongan dan Rombol.  Apakah bedanya dengan sistem gantangan?

Simak ulasan selengkapnya dalam buku Gantangan : Potret Pertukaran Sosial di Pedesaan karya Yanu Endar Prasetyo yang dapat diunduh secara gratis di link berikut >> Unduh Buku

Berita Terkait: