Hiu Paus Langka Terjaring Nelayan Patimban Gegerkan Warga

KOTASUBANG.com, Patimban – Warga pantai Patimban kecamatan Pusakanagara Selasa (7/11/2017) di gegerkan dengan temuan seekor hiu paus berukuran sekira 4 meter. Hiu paus tutul tersebut terjaring tersangkut jaring kapal sopek (kapal kecil) nelayan Patimban.

Ardy, warga Patimban mengatakan, paus tersebut ketika ditemukan nelayan sudah dalam kondisi mati. Bangkai paus tersebut kemudian dibawa nelayan ke dusun Genteng, Patimban. Kini, bangkai paus tersebut jadi tontonan warga sekitar. Menurut Ardy, kawanan hiu paus ini memang terkadang muncul di kawasan lepas pantai Patimban ketika musim hujan.

Bangkai hiu paus tersebut rencananya akan segera dikuburkan. Katanya, nelayan setempat sendiri tidak berani mengkonsumsi hiu paus ini karena mitosnya dapat menyebabkan hal buruk.

“Kita juga tahu itu hewan di lindungi dan menurut para nelayan juga itu ikan banyak mitos nya,” kata Ardy.

Sekedar informasi, Hiu paus, Rhincodon typus, adalah hiu pemakan plankton yang merupakan spesies ikan terbesar. Ikan ini mendapatkan namanya (Ingg.: whale shark) karena ukuran tubuhnya yang besar dan kebiasaan makannya dengan menyaring air laut menyerupai kebanyakan jenis paus. Disebut pula dengan nama geger lintang (dari bahasa Jawa: punggung berbintang) dan hiu tutul (nama yang cenderung menyesatkan, karena banyak jenis cucut yang berpola tutul), merujuk pada pola warna di punggungnya yang bertotol-totol, serupa bintang di langit.

Populasi geger lintang terancam oleh aktivitas penangkapannya (dengan menggunakan harpun), atau secara tak sengaja terbawa dalam jaring ikan. IUCN, badan konservasi dunia, karenanya memasukkan populasi geger lintang ini ke dalam status Rentan (Vulnerable). Kerentanan menghadapi penangkapan ikan komersial ini disimpulkan karena nilainya yang tinggi dalam perdagangan, sifatnya yang selalu mengembara dan bermigrasi dalam jarak jauh, sifat hidupnya yang menurut pola seleksi-K, serta kelimpahan umumnya yang rendah. Bersama dengan enam spesies hiu yang lain, geger lintang juga telah dimasukkan ke dalam daftar Memorandum of Understanding (MoU) on the Conservation of Migratory Sharks di bawah Konvensi Bonn.

(Foto; Ardy Chedhoy/Oi)